Tidak semua hari buruk.
Ini yang tidak pernah diceritakan orang tentang penyakit seperti ini, bahwa di antara hari-hari yang berat, ada hari-hari yang biasa. Bahkan ada hari-hari yang, kalau kamu tidak tahu apa yang kamu tahu, bisa kamu salahartikan sebagai hari yang baik-baik saja. Hari di mana Bapak bangun dengan langkah yang lebih ringan. Hari di mana ia ingat nama semua orang. Hari di mana ia duduk di teras dan berkomentar tentang tetangga yang lewat dengan ketajaman observasi yang membuat semua orang di sekitarnya setengah terkejut setengah tertawa.
Hari-hari seperti itu ada.
Dan justru karena ada, karena kamu tidak bisa memprediksinya, tidak bisa memesannya, tidak bisa tahu kapan ia akan datang dan kapan ia akan pergi, hari-hari seperti itu punya rasa yang lebih rumit dari sekadar senang.
Tapi tetap ada.
Dan hari itu adalah salah satunya.
Nisa bangun lebih pagi dari biasanya.
Bukan karena alarm, ia tidak pernah pakai alarm, tidak pernah bisa, karena alarm membangunkan dengan cara yang terlalu tiba-tiba untuk seseorang yang tidurnya sudah tidak pernah cukup dalam. Ia bangun karena ada suara dari luar, suara Bapak, ngobrol dengan seseorang di teras. Suaranya jelas, cukup keras, dengan nada yang tidak ia dengar sejak beberapa hari terakhir.
Nisa bangun. Mengintip dari jendela kamarnya.
Bapak sedang ngobrol dengan tukang sayur, perempuan tua yang lewat dengan gerobak dorong setiap pagi, yang rupanya juga sudah kenal Bapak sejak lama. Mereka sedang tawar-menawar sesuatu, atau yang terlihat seperti tawar-menawar tapi sebenarnya lebih ke percakapan dua orang tua yang sudah saling kenal cukup lama untuk melewati basa-basi.
"Bayamnya berapa?" kata Bapak.
"Tiga ribu, Pak."
"Kemarin dua ribu."
"Kemarin lain, Pak. Sekarang lain."
"Sama saja bayamnya."
"Beda, Pak. Ini lebih segar."
"Mana saya bisa bedakan."
Tukang sayur itu tertawa, tawa yang sudah terbiasa dengan Bapak, rupanya. "Dua ribu lima ratus deh, Pak. Khusus."
"Dua ribu dua ratus."
"Bapak ini..."
Nisa tersenyum di balik jendelanya.
Ia turun ke teras setelah Bapak selesai bertransaksi, pulang dengan kantong kresek berisi bayam yang entah akan dimasak oleh siapa, karena Rara yang masak dan Rara yang memutuskan menu, dan Rara belum tentu setuju dengan keputusan bayam sepagi ini.
"Bapak beli sayur?" tanya Nisa.
"Iya." Bapak menunjukkan kantong kreseknya dengan bangga. "Murah."
"Berapa?"
"Dua ribu dua ratus."
"Wah, Bapak jago nawar."
Bapak mendengus puas. "Ya iyalah."
Nisa duduk di kursi rotan sebelah Bapak. Pagi itu udaranya lebih segar dari biasanya, semalam hujan sebentar, tidak lama, tapi cukup untuk membuat tanah dan daun-daun mengeluarkan aroma yang tidak bisa dibeli di toko manapun. Pohon jambu di halaman masih ada tetes-tetes air di ujung daunnya, berkilat-kilat ketika cahaya matahari pagi menyentuhnya.
Bapak menaruh kantong bayamnya di lantai teras. Mengambil HP tuanya. Tidak langsung merekam, hanya memegang, seperti kebiasaan, seperti cara tangan menemukan sesuatu yang sudah dikenalnya.
"Nisa," kata Bapak.
"Iya, Pak."
"Kamu masih gambar-gambar?"
Nisa sedikit terkejut. Bukan oleh pertanyaannya, tapi oleh cara Bapak bertanya. Seperti melanjutkan percakapan yang berhenti di tengah jalan, yang ternyata tidak pernah benar-benar selesai di kepala Bapak meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.
"Masih, Pak."
"Gambar apa sekarang?"
"Macem-macem. Tapi lagi banyak gambar orang."
"Orang siapa?"
Nisa berpikir sebentar. "Orang-orang yang menarik. Orang-orang yang punya wajah yang... ada ceritanya."
Bapak mengangguk pelan, dengan cara orang yang mengerti apa yang dimaksud meski kalimatnya tidak sempurna. "Wajah memang ada ceritanya. Kamu bisa baca wajah orang?"
"Sedikit-sedikit belajar."
"Bapak dulu bisa." Bapak menatap ke halaman. "Guru harus bisa. Kalau murid tidak mengerti tapi tidak mau bilang tidak mengerti, kamu harus lihat wajahnya. Di situ kelihatan."
"Bapak pernah salah baca?"
"Pernah." Bapak diam sebentar. "Satu murid, aku kira dia malas. Ternyata di rumahnya ada masalah besar. Aku baru tahu belakangan." Ia menggeleng pelan. "Menyesal."
"Bapak sudah minta maaf ke dia?"
"Sudah cari. Tidak ketemu." Bapak menatap tangannya. "Orang hilang kalau sudah lulus. Pergi ke mana-mana. Tidak selalu ketemu lagi."
Nisa menatap profil Bapak, rahang yang mengendur, rambut putih yang pagi ini lebih rapi dari biasanya karena ia sisir sendiri tadi. Kerutan di sudut matanya yang semakin dalam tiap tahun. Tangan yang memegang HP tua dengan cara yang sudah hafal.
"Bapak," kata Nisa.
"Apa."
"Boleh aku gambar Bapak?"
Bapak menoleh. Menatap Nisa. Ada sesuatu di ekspresinya yang tidak langsung terbaca, bukan menolak, bukan menerima, tapi sesuatu di antaranya. Seperti pertanyaan yang tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Bapak.