Tidak ada yang merencanakan malam itu.
Tidak ada yang bangun pagi dan berkata malam ini kita akan mendengarkan rekaman Bapak bersama. Tidak ada yang menyiapkan diri, tidak ada yang menyiapkan tisu, tidak ada yang menyiapkan apapun. Ia terjadi dengan cara hal-hal yang paling penting sering terjadi, bukan karena direncanakan, tapi karena semua kondisi akhirnya ada di tempat yang tepat di waktu yang tepat dan tidak ada alasan lagi untuk menunda.
Bapak tidur lebih awal malam itu. Jam delapan ia sudah di kamarnya, hari yang cukup panjang, cukup banyak stimulasi, dan tubuh yang sudah tujuh puluh dua tahun memiliki caranya sendiri untuk meminta istirahat. Nisa yang mengantar, yang memastikan lampu tidur menyala dan selimut tertarik sampai dada dan segelas air ada di meja nakas.
Sebelum keluar, tanpa memikirkannya terlalu dalam, ia mengambil HP tua itu dari meja nakas.
Bapak tidak memprotesnya, matanya sudah setengah tertutup.
Nisa membawa HP itu ke ruang tengah.
Rara sedang di sofa dengan buku catatan di pangkuannya, bukan membaca, hanya memegang, seperti buku catatan itu adalah sesuatu yang perlu ia pegang agar tangannya tidak mencari-cari hal lain untuk dikerjakan. Hendra di kursi seberang, layar laptopnya terbuka tapi kursor tidak bergerak. Keduanya menoleh ketika Nisa masuk.
Nisa berdiri di tengah ruangan.
HP tua itu di tangannya.
Tidak ada yang perlu ia jelaskan. Rara sudah tahu, dari hari Nisa bercerita tentang rekaman pertama yang ia dengar sendirian di kamar jam enam pagi. Hendra sudah menduga, dari cara Nisa dan Rara bertukar pandang setiap kali HP itu disebut.
"Kita dengarkan?" kata Nisa.
Bukan ayo kita dengarkan. Bukan kalian mau tidak? Hanya pertanyaan yang jujur, yang tidak memaksa, yang memberi ruang untuk siapapun yang belum siap untuk bilang belum siap.
Rara menutup buku catatannya.
Hendra menutup laptopnya.
Nisa duduk di sofa, di antara mereka, HP tua itu di tangannya, layarnya retak di sudut kanan atas, lampu merah kecil di sisi kirinya berkedip pelan tanda baterai yang tersisa tidak banyak.
"Mulai dari mana?" tanya Hendra.
"Dari awal?" kata Nisa. "Yang paling tua."
"Tujuh belas tahun lalu," kata Rara pelan.
"Iya."
Hendra menatap HP itu. Matanya tidak bisa dibaca, atau bisa, oleh seseorang yang cukup mengenalnya: ada sesuatu yang sedang mempersiapkan diri di sana, sesuatu yang tahu bahwa apa yang akan ia dengar tidak bisa di-undo.
"Oke," katanya.
Nisa membuka menu rekaman. Menggulir ke paling bawah, ke file paling awal, yang tanggalnya tujuh belas tahun lalu, bulan Maret, jam setengah tujuh pagi.
Ia letakkan HP itu di atas meja kecil di depan mereka, menghadap ke atas, speaker menghadap langit-langit.
Volume ia naikkan.
Lalu ia tekan putar.
Suara pertama adalah suara piring.
Rara mengenalinya langsung, piring yang diletakkan di meja dapur dengan bunyi yang spesifik, yang hanya bisa dihasilkan oleh piring itu di meja itu dengan cara tangan itu meletakkannya. Bunyi yang sudah delapan tahun tidak ada di rumah ini tapi yang langsung hidup kembali seolah tidak pernah pergi.
Lalu suara air. Lalu kompor.
Lalu:
"Mas, sarapannya mau nasi goreng atau roti?"
Ruangan itu berubah.
Bukan berubah secara fisik, dindingnya sama, sofanya sama, lampunya sama. Tapi ada sesuatu yang masuk begitu suara itu keluar dari speaker kecil HP tua itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata yang cukup tepat. Seperti waktu yang tiba-tiba berhenti memilih satu arah. Seperti pintu yang terbuka ke tempat yang kamu pikir sudah tidak ada lagi.
Hendra tidak bergerak.
Rara menutup matanya.
Nisa menatap HP itu seolah kalau ia memalingkan pandangan, suara itu akan pergi.
"Nasi goreng saja." Suara Bapak, dari dalam rekaman, dari tujuh belas tahun lalu, dari versi dirinya yang badannya masih lebih tegak dan suaranya masih lebih berat.
"Pedasnya biasa atau tambah?"
"Tambah."
Dan kemudian, tawa itu. Tawa kecil Ibu yang keluar begitu saja, yang tidak ada sebabnya, yang paling jujur justru karena tidak ada sebabnya. Tawa orang yang bahagia dengan cara yang paling sederhana: ada di dapur paginya, memasak untuk orang yang ia cintai, dan itu cukup.
Hendra menunduk.
Rara membuka matanya, matanya sudah basah tapi ia tidak mengusapnya, seperti ia membiarkan air mata itu ada tanpa mengakuinya.