Selagi Masih Ingat

Caiden Roux
Chapter #11

Nungguin Anak-Anak Pulang Sekolah

Malam itu dimulai seperti malam-malam lain.

Bapak makan malam dengan lahap, Nisa masak sup ayam, menu yang sederhana tapi yang kalau baunya mengisi dapur membuat rumah terasa lebih hidup dari seharusnya. Bapak habis dua piring. Hendra berkomentar bahwa Bapak makannya lebih banyak dari dirinya. Bapak bilang karena ia lebih banyak kerja. Mereka semua tertawa, termasuk Bapak, yang tertawa dengan cara kering dan pendek yang sudah mereka hafal tapi tidak pernah bosan mendengarnya.

Setelah makan Bapak duduk di kursi rotan di ruang tengah. Menonton TV, berita, yang separuh beritanya tidak ia ikuti tapi tetap ia tonton dengan ekspresi serius seperti sedang menilai kebijakan negara. Nisa duduk di sebelahnya dengan sketchbook, menggambar sesuatu. Hendra di meja makan, laptopnya terbuka tapi lebih sering menatap ke arah Bapak daripada ke layar.

Rara di dapur, membereskan sisa masakan.

Jam sembilan, Bapak bilang mau tidur.

Rara yang mengantar, membantu ganti baju, memastikan obat malam sudah diminum, mengecek jendela kamar sudah terkunci. Bapak berbaring, menutup mata, napasnya dalam beberapa menit sudah teratur. Rara mematikan lampu utama, menyalakan lampu tidur yang oranye, menutup pintu dengan pelan.

Semua seperti biasa.

Semua seperti yang sudah mereka lakukan setiap malam.

Jam sebelas lebih, Hendra yang pertama tidur. Nisa menyusul tidak lama kemudian, ia tertidur di kamarnya dengan sketchbook masih terbuka di sebelahnya, pensil masih di tangan.

Rara sendirian di ruang tengah sampai hampir tengah malam, menyelesaikan beberapa catatan kecil, memeriksa jadwal obat besok, hal-hal yang tidak bisa ia biarkan tidak selesai sebelum tidur karena kalau tidak diselesaikan akan terus berputar di kepalanya sampai subuh.

Jam dua belas kurang sepuluh, ia matikan lampu ruang tengah.

Berjalan ke lorong. Berhenti sebentar di depan pintu kamar Bapak. Mendengarkan.

Sunyi. Napas yang teratur.

Rara pergi ke kamarnya. Berbaring. Matanya lelah, seluruh tubuhnya lelah, tapi jenis lelah yang sudah menjadi kondisi dasar selama beberapa minggu ini, yang sudah tidak terasa lagi sebagai sesuatu yang luar biasa tapi hanya sebagai cara tubuh berada.

Ia menutup matanya.

Dan dalam waktu yang lebih singkat dari biasanya, karena beberapa hari terakhir rupanya sudah mulai mengajarkan tubuhnya cara menyerah lebih cepat pada istirahat yang tersedia, ia tidur.

Jam satu lewat dua puluh menit, pintu kamar Bapak terbuka.

Tidak ada yang mendengarnya.

Engselnya sudah lama tidak berbunyi, Hendra yang mengolesinya dengan minyak beberapa hari lalu karena suaranya mengganggu kalau dibuka malam-malam. Kebaikan kecil yang malam ini, tanpa yang ia inginkan, memudahkan sesuatu yang tidak seharusnya dimudahkan.

Bapak berjalan keluar dengan langkah yang hati-hati, bukan langkah orang yang bingung, bukan langkah orang yang tersesat. Langkah orang yang tahu ke mana ia pergi. Yang punya tujuan. Yang di dalam kepalanya, di dunia yang malam ini ia tinggali, ada sesuatu yang perlu ia lakukan.

Ia buka pintu depan.

Kuncinya tidak ia pasang, Rara lupa malam ini, pertama kalinya dalam beberapa minggu, karena kelelahan yang akhirnya mengalahkan ketelitiannya.

Pintu terbuka.

Bapak keluar.

Pagar ia dorong, berdecit pelan, tapi rumah sudah terlalu sunyi dan semua orang di dalamnya sudah terlalu dalam tidurnya.

Dan Bapak berjalan ke dalam malam.

Rara yang terbangun jam dua kurang seperempat.

Bukan karena suara, karena ketiadaan suara. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan tepat, sesuatu yang sudah terlalu lama ia asah tanpa sadar: semacam sensor yang berjalan bahkan ketika ia tidur, yang menangkap hal-hal yang tidak beres bahkan tanpa ada sinyal yang jelas.

Ia bangkit. Berjalan ke kamar Bapak.

Pintu terbuka.

Lampu tidur menyala. Selimut tersingkap. Ranjang kosong.

Rara berdiri di ambang pintu itu selama dua detik, dua detik yang terasa seperti waktu yang lebih panjang, di mana semua kemungkinan berkumpul sekaligus dan ia harus memilih dengan cepat mana yang akan ia ikuti.

Lalu ia bergerak.

Ke kamar Hendra. Ketuk sekali, buka pintu. "Hen. Bangun. Bapak tidak ada."

Ke kamar Nisa. Ketuk sekali, buka pintu. "Nis. Sekarang. Bapak tidak ada di kamarnya."

Mereka bergerak dalam hitungan detik, tidak ada yang butuh waktu untuk memahami, tidak ada yang butuh penjelasan lebih. Ada hal-hal yang ketika didengar langsung menggerakkan kaki tanpa melewati kepala terlebih dahulu.

Rara ke pintu depan, terbuka, tidak terkunci. Ia menatap pagar yang tidak sepenuhnya tertutup. Perutnya turun satu sentimeter.

"Bapak keluar," katanya.

Hendra sudah di sebelahnya, sandal sudah di kaki. "Ke mana?"

"Tidak tahu. Kita cari. Pisah, Hen kamu ke arah pasar, Nis kamu ke arah lapangan, aku ke arah sekolah."

Tidak ada yang bertanya kenapa Rara langsung tahu harus ke sekolah. Mungkin karena Rara sudah cukup lama memperhatikan, tahu bahwa di hari-hari tertentu Bapak banyak bicara tentang murid-muridnya, tentang papan tulis, tentang kelas yang pintunya selalu susah ditutup karena lantainya tidak rata. Mungkin karena Rara sudah cukup lama menjadi kakak untuk tahu bahwa ketika orang pergi tanpa tujuan yang terlihat, mereka sering pergi ke tempat yang paling banyak menyimpan bagian dari diri mereka.

Mereka berpencar.

Malam di luar lebih dingin dari yang diperkirakan.

Jam dua dini hari dan jalan-jalan kampung itu hampir sepenuhnya sepi, hanya sesekali suara motor di kejauhan, hanya lampu jalan yang remang-remang, hanya bayangan pohon-pohon yang bergerak pelan dalam angin yang tidak terlalu kencang.

Rara berjalan cepat ke arah sekolah.

SMP Negeri tempat Bapak mengajar tiga puluh tahun, yang dari rumah jaraknya kurang lebih delapan menit jalan kaki kalau siang, lebih lama kalau malam karena jalannya tidak semuanya cukup terang. Rara hafal jalannya, hafal setiap belokan, hafal trotoar yang satu sisinya lebih tinggi dari yang lain, hafal pohon beringin di tikungan yang terakhir yang sudah ada sebelum sekolah itu berdiri.

Ia menghubungi Hendra dan Nisa di grup WhatsApp mereka: Kalian ketemu apa?

Hendra: Belum. Pasar sepi. Lanjut ke mana?

Nisa: Lapangan kosong. Aku mau ke arah masjid.

Rara tidak membalas, matanya sudah menangkap sesuatu.

Di depan gerbang sekolah yang terkunci, di bawah satu-satunya lampu jalan yang cukup terang di area itu, ada sosok yang duduk.

Di bangku semen yang memang ada di sana, di luar gerbang, bangku yang dulu sering dipakai orang-orang yang menunggu anak-anaknya pulang sekolah. Sosok yang duduk dengan punggung lurus, punggung yang sudah sedikit membungkuk dimakan usia tapi malam ini, di bangku semen itu, tegak dengan cara yang punya tujuan.

Bapak.

Lihat selengkapnya