Ada keputusan yang salah satu pilihannya jelas lebih baik.
Dan ada keputusan yang tidak, yang kedua pilihannya benar sekaligus salah sekaligus, yang tidak ada kalkulator di dunia ini yang bisa menghitungnya, yang pada akhirnya harus dibuat bukan karena kamu yakin tapi karena tidak membuat keputusan juga adalah keputusan, dan keputusan yang dibiarkan menggantung punya cara menyakiti yang lebih panjang dari keputusan yang dibuat.
Ini jenis yang kedua.
Percakapan itu dimulai tiga hari setelah malam di depan sekolah.
Bukan karena mereka merencanakan untuk memulainya hari itu, tidak ada yang bilang mari kita duduk dan membicarakan hal yang berat. Ia dimulai karena dr. Satrio menelepon Rara pagi itu, menanyakan perkembangan kondisi Bapak, dan Rara menceritakan malam itu dengan suara yang lebih datar dari yang ia rasakan, dan dokter itu, setelah mendengar, berkata dengan nada yang hati-hati:
"Saya rasa sudah waktunya kita bicarakan opsi perawatan yang lebih komprehensif, Mbak. Bukan sekarang harus diputuskan, tapi perlu mulai dipikirkan."
Rara menutup telepon itu.
Duduk di dapur selama sepuluh menit tanpa melakukan apapun.
Lalu ia pergi ke ruang tengah di mana Hendra sedang bekerja dan Nisa sedang membaca, dan ia berkata: "Dokter tadi telepon. Kita perlu bicara."
Bapak sedang tidur siang.
Mereka bertiga duduk di meja makan, meja yang sama, kursi yang sama, tapi suasana yang berbeda dari makan-makan sebelumnya. Tidak ada makanan di atas meja. Hanya tiga gelas teh yang Nisa buat hampir secara otomatis, karena tangan perlu sesuatu untuk dilakukan ketika kepala sedang menyiapkan diri untuk percakapan yang berat.
Rara menceritakan isi percakapan dengan dokter.
Pilihan yang ada, kata dokter, ada dua arah besar. Pertama: tetap rawat di rumah, tapi dengan penyesuaian, lebih ketat, lebih terstruktur, dengan kemungkinan mendatangkan perawat profesional yang bisa membantu, terutama malam hari. Kedua: fasilitas perawatan khusus, bukan rumah sakit, tapi tempat yang dirancang untuk merawat pasien dengan kondisi seperti Bapak, dengan staf yang terlatih dua puluh empat jam.
Rara menyampaikan ini dengan cara yang paling netral yang bisa ia lakukan. Tapi tangan yang memegang gelasnya tidak sepenuhnya diam.
Hendra yang pertama bicara.
"Fasilitas perawatan." Ia mengucapkannya pelan, seperti sedang menimbang berat kata-kata itu. "Maksudnya panti?"
"Bukan panti biasa," kata Rara. "Dokter bilang ada yang khusus untuk demensia. Stafnya terlatih, ada program hariannya, ada yang jaga sepanjang waktu."
"Tapi bukan rumah."
"Bukan rumah."
Hendra mengangguk pelan. Menarik napas. "Aku tidak bilang itu jawaban. Aku hanya... ingin tahu gambaran lengkapnya."
"Gambaran lengkapnya," kata Rara, "adalah bahwa kita tidak bisa menjamin keamanannya kalau malam itu terulang. Salah satu dari kita tidak akan selalu ada di sini. Kamu sebulan lagi harus balik ke Jakarta, kamu bilang itu sendiri. Nisa tidak bisa di sini selamanya. Dan aku..." Rara berhenti. "Aku satu orang, Hen. Aku sudah hampir tidak bisa tiga tahun lalu, sebelum kondisinya seperti ini."
Nisa memegang gelasnya dengan kedua tangan. Menatap tehnya.
"Kalau kita taruh Bapak di tempat lain," kata Nisa pelan, "ia tidak akan mengerti kenapa."
"Kita tidak tahu itu," kata Hendra.
"Kita tidak tahu ia tidak akan mengerti juga."
"Nisa." Hendra menatap adiknya. "Aku tidak sedang mengadvokasi untuk itu. Aku hanya mencoba melihat semua sisinya."
"Aku juga." Nisa mengangkat matanya, matanya tidak berkaca-kaca tapi ada sesuatu di dalamnya yang sedang berjuang menahan sesuatu. "Aku hanya bilang, Bapak bangun di tempat yang sama setiap pagi selama lebih dari empat puluh tahun. Ia tahu di mana kamar mandinya. Ia tahu suara pintu pagarnya. Ia tahu aroma dapurnya. Itu mungkin satu-satunya hal yang masih bisa ia pegang sekarang, bahwa tempatnya masih sama walau ingatannya tidak."
Ruangan itu diam.
Di luar, angin bergerak. Suara motor lewat di jalan. Dari kamar Bapak, tidak ada suara.
"Tapi kalau ia pergi lagi malam-malam," kata Rara akhirnya, "dan kita tidak bangun, dan ia tidak balik..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Ketiganya tahu ke mana kalimat itu berakhir.
Mereka bicara selama dua jam.
Bukan dua jam yang linier, bukan dua jam yang bergerak dari pertanyaan ke jawaban dengan cara yang bersih. Dua jam yang berputar, yang kembali ke titik yang sama berkali-kali dari sudut yang berbeda, yang masing-masing orang membawa argumen dan kemudian menariknya kembali dan kemudian mengeluarkannya lagi karena tidak ada argumen yang cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa lubang di dalamnya.
Rara bicara tentang keamanan. Tentang kenyataan bahwa satu orang tidak bisa mengawasi dua puluh empat jam tujuh hari seminggu tanpa ada yang retak, dan yang retak bukan hanya dirinya, tapi juga kualitas perawatan yang bisa ia berikan.
Hendra bicara tentang pilihan tengah, perawat profesional yang bisa datang setiap hari, yang bisa menutup celah yang tidak bisa ditutup oleh keluarga yang juga punya kehidupan masing-masing. Bukan menyerahkan, bukan juga memaksakan diri. Sesuatu di antaranya.
Nisa bicara tentang hal yang tidak ada di lembar fakta medis manapun, tentang bagaimana Bapak berbeda ketika ada yang ia kenal di sekitarnya. Bagaimana hari-hari yang lebih baik hampir selalu adalah hari-hari ketika ada suara yang familiar, wajah yang familiar, aroma masakan yang familiar. Tentang bagaimana rumah bukan hanya tempat tapi juga obat.
Mereka semua benar.
Mereka semua juga tidak cukup benar.
Di tengah percakapan, suara pintu kamar Bapak.
Langkah pelan. Lalu Bapak muncul di ambang ruang makan, baru bangun dari tidur siang, rambutnya agak berantakan, matanya masih sedikit berat.
Ia menatap mereka bertiga yang duduk di meja.
"Rapat?" katanya.
Nisa tersenyum duluan, senyum yang paling cepat keluar di antara mereka bertiga untuk momen-momen seperti ini. "Bukan rapat, Pak. Ngobrol biasa."
"Serius amat mukanya."
"Lagi bahas resep masakan," kata Nisa. "Mau makan apa sore ini, Pak?"
Bapak berpikir serius, lebih serius dari yang diperlukan untuk pertanyaan tentang menu makan sore. "Soto."