Selagi Masih Ingat

Caiden Roux
Chapter #13

Selagi Masih Ingat

Tidak ada yang tahu itu akan menjadi hari itu.

Tidak ada firasat. Tidak ada tanda. Bapak bangun pagi itu seperti pagi-pagi lain, butuh waktu sebentar untuk orientasi, butuh suara Nisa yang memanggil dari lorong untuk membuatnya bergerak dari ranjang, butuh aroma teh yang sudah disiapkan di meja untuk membantunya berjalan ke arah yang benar.

Biasa. Semua biasa.

Sampai setelah sarapan, ketika Hendra mengangkat piring-piring ke wastafel dan Rara sedang menyiapkan obat pagi dan Nisa sedang duduk di kursi dengan sketchbook di pangkuannya, Bapak berkata, dengan suara yang berbeda dari suara pagunya yang biasanya masih berat dan sedikit kabur:

"Bisa kita duduk di teras?"

Mereka menoleh.

Suara itu. Ada sesuatu di dalamnya. Bukan keras, bukan meminta, bukan menuntut. Tapi jernih. Dengan cara yang membuat ketiganya, tanpa harus saling bertukar pandang, tahu bahwa pagi ini ada sesuatu yang berbeda.

"Ayo, Pak," kata Rara. "Kita duduk di teras."

Mereka membawa teh ke teras.

Empat cangkir, Nisa yang ingat untuk membuat satu extra, tanpa ditanya, tanpa dikoordinasikan dengan siapapun. Kursi-kursi rotan ditarik keluar lebih banyak dari biasanya, membentuk setengah lingkaran yang menghadap ke halaman.

Bapak duduk di kursinya, kursi yang sudah hafal bentuk tubuhnya, yang sudah menerima beratnya setiap hari selama bertahun-tahun. Ia menerima cangkir tehnya dengan kedua tangan. Meniupnya pelan. Meminumnya.

Lalu ia menatap ke halaman.

Pohon jambu yang daunnya masih basah sedikit dari embun pagi. Pagar yang catnya sudah tidak sepenuhnya hitam. Jalan di luar yang belum terlalu ramai jam segini. Langit yang hari ini bersih dengan cara yang tidak selalu ada, bersih yang bukan kosong tapi jernih, seperti seseorang sudah membersihkan sesuatu yang biasanya menghalangi.

Bapak menatap semua itu.

Dan mereka bertiga menatap Bapak.

Dalam diam yang tidak canggung, dalam diam yang menunggu dengan cara yang tidak memaksakan, karena ada hal-hal yang harus datang dengan caranya sendiri, yang tidak bisa dipanggil tapi hanya bisa disambut ketika ia memilih untuk hadir.

"Rara," kata Bapak.

"Iya, Pak."

"Hendra."

"Iya, Pak." Suara Hendra sedikit tidak stabil di tepinya.

"Nisa."

"Iya, Bapak." Nisa memegang cangkirnya lebih erat.

Bapak mengangguk pelan, mengangguk seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang perlu diselesaikan, seperti seseorang yang sudah memverifikasi sesuatu yang penting. Lalu ia menatap ke halaman lagi.

"Kalian semua di sini," katanya.

Bukan pertanyaan. Bukan terkejut. Hanya kenyataan yang ia ucapkan dengan cara yang sederhana, dengan cara yang menunjukkan bahwa ia tahu, bahwa ia sadar, bahwa pagi ini kabutnya sudah di tempat lain dan yang ada di sini hanya dia dan ketiga anaknya dan teh yang mengepul dan langit yang bersih.

"Iya, Pak," kata Rara. "Kita semua di sini."

Bapak mengangguk lagi.

Dan mereka menunggu, bukan dengan cemas, tapi dengan cara yang sama seperti menunggu matahari benar-benar terbit setelah langitnya sudah mulai terang. Sabar. Tahu bahwa apa yang akan datang akan datang dengan caranya sendiri.

Bapak minum tehnya pelan-pelan.

Mereka minum teh mereka masing-masing. Angin pagi bergerak di antara mereka. Pohon jambu berdesir sekali, dua kali.

Lalu Bapak berkata: "Sudah lama Bapak mau bilang sesuatu."

Tiga orang di sekitarnya tidak bergerak.

"Tapi Bapak tidak bisa." Ia memegang cangkirnya dengan kedua tangan, matanya masih ke halaman. "Bapak tidak pandai bicara. Kalian tahu itu."

"Kami tahu, Pak," kata Nisa pelan.

"Bapak tahu kalian tahu." Ia tersenyum, senyum kecil, ke arah yang tidak jelas, ke arah mana saja. "Dan Bapak tahu itu tidak cukup. Tahu saja tidak cukup." Ia berhenti sebentar. Menarik napas dengan cara yang dalam dan disengaja, cara napas orang yang sedang mempersiapkan sesuatu. "Jadi hari ini Bapak coba."

Rara menggenggam cangkirnya.

Hendra menatap lurus ke Bapak.

Nisa tidak berkedip.

"Rara." Bapak menoleh ke anak sulungnya. Menatapnya, dengan mata yang hari ini lebih jernih dari yang pernah mereka lihat dalam beberapa bulan terakhir, dengan cara menatap yang langsung dan penuh dan sampai. "Kamu cape, Bapak tahu."

Rara membuka mulutnya. Menutupnya lagi.

"Bukan cape yang kemarin atau minggu lalu. Cape yang sudah lama." Bapak menatapnya tanpa berpaling. "Dari sejak kecil kamu yang paling banyak tanggung. Bapak lihat. Bapak selalu lihat, tapi Bapak tidak pernah bilang terima kasih." Suaranya tidak patah, tidak gemetar. Ia mengucapkan ini dengan cara yang sama seperti ia mengucapkan hal-hal lain sepanjang hidupnya, rata, tanpa hiasan, tapi justru karena itu beratnya tidak berkurang sedikitpun. "Jadi sekarang Bapak bilang. Terima kasih, Ra. Untuk semuanya. Untuk hal-hal yang Bapak bahkan tidak tahu kamu lakukan tapi pasti kamu lakukan."

Air mata Rara turun sebelum ia sempat memutuskan apakah ia mau menangis atau tidak.

Tidak deras. Tidak bersuara. Hanya turun, dengan cara yang sudah sangat lama menunggu izin untuk turun.

"Hendra." Bapak beralih ke anak laki-lakinya. "Kamu jauh."

"Iya, Pak. Maaf."

"Bapak tidak marah." Ia menatap Hendra dengan ekspresi yang bukan memaafkan, karena memaafkan mengandung kesalahan, dan Bapak tidak mengucapkan ini dalam bingkai itu. "Kamu pergi karena kamu perlu pergi. Bapak mengerti itu. Cuma..." Ia berhenti. Mencari kata. "Cuma Bapak harap kamu tahu, jarak tidak membuat Bapak lupa. Bapak ingat kamu. Selalu ingat."

Hendra menunduk.

Bahunya naik sekali.

"Bapak bangga sama kamu," lanjut Bapak. "Bukan karena kerjaanmu atau uangmu atau apartemenmu di Jakarta. Bapak bangga karena kamu anak yang baik. Di dalam sini." Ia mengetuk dadanya sendiri, satu kali, pelan. "Itu yang penting. Itu yang Bapak lihat."

Hendra tidak berhasil mengangkat kepalanya untuk beberapa saat.

"Nisa." Bapak menatap bungsunya terakhir, dan ada sesuatu di cara Bapak menatap Nisa yang berbeda dari cara ia menatap dua yang lain. Lebih lama. Seperti ada yang lebih banyak yang ingin ia katakan tapi sedang dipilih mana yang paling penting. "Kamu selalu takut dilupakan."

Nisa menghela napas yang bergetar.

"Bapak tidak pernah lupa kamu," kata Bapak. Sederhana. Langsung. "Bahkan di hari-hari yang paling buruk, bahkan waktu Bapak tidak ingat nama kamu, ada sesuatu yang ingat. Di sini." Ia mengetuk dadanya lagi. "Kamu ada di sini, Nis. Selalu."

Nisa menangis dengan cara yang tidak ia coba sembunyikan, menangis dengan cara yang ia tidak punya tenaga untuk ditahan lagi, yang keluar dengan caranya sendiri, yang basah dan sunyi dan penuh.

Bapak menatap ketiganya bergantian.

Tiga anak yang duduk di depannya di teras pagi hari, yang matanya merah dan cangkirnya sudah tidak lagi dipegang dengan kuat karena tangan mereka butuh melakukan hal lain. Tiga orang yang tumbuh di bawah atapnya, yang ia tidak pernah cukup tahu cara mencintai dengan cara yang mereka butuhkan, yang ia cintai dengan cara yang ia punya dan berharap cukup, dan sekarang tahu bahwa tidak selalu cukup, tapi yang tersisa bukan penyesalan saja.

"Kalian anak-anak yang baik," kata Bapak. "Bapak yang tidak pandai menunjukkannya. Tapi kalian anak-anak yang baik."

Mereka duduk di teras itu hampir satu jam.

Bapak bercerita, bukan bercerita yang melompat-lompat, bukan bercerita yang kehilangan benangnya di tengah jalan. Bercerita dengan cara yang jernih, yang runtut, yang membuat mereka semua menyadari betapa banyak yang masih ada di dalam sana. Di balik kabut yang tidak selalu tertiup, di balik hari-hari yang buruk dan malam-malam yang bingung, di balik semua yang sudah mulai pergi, masih ada yang bertahan.

Ia bercerita tentang hari pertama mengajar, grogi sampai lupa nama muridnya sendiri yang sudah ia hafal malam sebelumnya. Tentang Ibu yang pertama kali ia ajak kenalan di pasar buku, yang tidak langsung mau diajak kenalan, yang bilang "saya sibuk" padahal jelas-jelas tidak sedang apa-apa. Tentang malam ketika Rara lahir dan ia duduk di luar kamar bersalin sendirian karena dulu suami tidak boleh masuk, dan ia duduk di sana dengan tangan yang tidak tahu mau ditaruh di mana selama enam jam.

Lihat selengkapnya