Selagi Masih Ingat

Caiden Roux
Chapter #14

Rumah

Ada hari-hari yang tidak terjadi karena direncanakan.

Yang terjadi karena semua hal kecil yang datang sebelumnya, semua percakapan yang belum selesai, semua luka yang sudah mulai dibersihkan, semua momen yang sudah mengendap dan mengendap sampai akhirnya ada yang berkata ayo kita bereskan ini dan yang lain mengikuti bukan karena diminta tapi karena sudah siap.

Hari itu dimulai dari lemari.

Pagi setelah malam yang berat, dua hari setelah momen di teras, setelah surat itu dibaca, setelah mereka masing-masing membawa puluhan hal ke kamarnya dan duduk dengan semuanya sendirian sampai cukup siap untuk keluar lagi, Nisa membuka pintu lemari besar di lorong.

Lemari yang sudah ada sejak sebelum ia lahir. Yang pintunya susah dibuka karena kayu-kayunya sudah mengembang dimakan kelembaban bertahun-tahun. Yang isinya tidak ada yang ingat persis karena tidak ada yang pernah benar-benar membereskannya.

"Ini perlu diberesin," kata Nisa kepada tidak ada yang khusus, ia hanya berbicara, seperti kebiasaannya, seperti kata-kata adalah cara ia memikirkan sesuatu dengan keras.

Tapi Rara yang lewat di lorong mendengarnya. Berdiri sebentar. Menatap lemari itu.

"Iya," kata Rara.

Dan itu cukup untuk memulai.

Hendra dipanggil turun dari kamarnya. Bapak duduk di teras dengan teh paginya, hari ini hari yang cukup baik, ia sudah sarapan dengan lahap dan mengomentari bahwa pohon jambunya kelihatannya perlu disiram.

Mereka bertiga membuka lemari itu.

Yang pertama keluar adalah debu, debu yang sudah bertahun-tahun tinggal di sana dengan nyaman, yang terbang ke udara begitu pintu dibuka dengan cara yang membuat Nisa bersin tiga kali berturut-turut dan Hendra melangkah mundur setengah langkah.

Lalu barang-barangnya.

Kardus-kardus yang labelnya sudah tidak terbaca. Kain-kain yang dilipat dengan cara yang sudah tidak rapi lagi karena terlalu lama diam. Buku-buku, buku pelajaran lama, buku catatan, buku-buku yang sudah tidak dicetak lagi dengan cover yang desainnya menunjukkan era kapan ia dibeli. Foto-foto yang tidak sempat masuk bingkai, dimasukkan ke dalam amplop besar yang sekarang permukaannya sedikit lembab di sudutnya.

Dan hal-hal lain. Hal-hal yang tidak ada di satu kategori, barang-barang yang tidak tahu harus disebut apa kecuali: sisa-sisa kehidupan. Bukti bahwa di rumah ini, puluhan tahun, ada orang-orang yang hidup dan bergerak dan meninggalkan jejak di mana-mana.

"Ini boleh dibuang?" tanya Hendra, mengangkat buku catatan yang halamannya sudah menguning seluruhnya.

"Lihat dulu isinya," kata Rara.

Hendra membukanya. Tulisan tangan, tulisan tangan Ibu, dengan cara menulis yang khas, yang huruf-hurufnya bulat dan miring sedikit ke kanan. Daftar belanja. Bukan sekali, puluhan halaman daftar belanja, bertanggal, dari tahun yang sangat lama.

"Buku belanjaannya Ibu," kata Hendra.

Nisa berhenti memilah. Menoleh. Mengambil buku itu dari tangan Hendra. Membolak-baliknya pelan.

Gula 1 kg. Minyak goreng 2 liter. Sabun colek. Beras 5 kg. Tepung terigu — untuk ulang tahun Rara.

Nisa mendongak. "Mbak."

Rara sedang membuka kardus yang lain. "Apa."

"Ini ada tulisan 'untuk ulang tahun Rara.'"

Rara berhenti. Berjalan ke Nisa. Mengambil buku itu.

Membaca baris itu sendiri, tepung terigu, untuk ulang tahun Rara, dengan tanggal di atasnya yang adalah ulang tahunnya yang keempat belas. Ibu menulis daftar belanja untuk kue ulang tahunnya yang keempat belas, dengan tulisan yang bulat dan miring sedikit ke kanan, di buku catatan kecil yang bertahun-tahun tersimpan di lemari yang pintunya susah dibuka.

"Buku ini tidak boleh dibuang," kata Rara.

Suaranya tidak patah. Tapi ada sesuatu di belakangnya yang sudah lama belajar cara menahan.

Mereka membereskan lemari itu hampir empat jam.

Bukan empat jam yang efisien, lebih banyak berhentinya dari bergeraknya, karena setiap barang yang dikeluarkan punya cerita, dan cerita-cerita itu tidak bisa diabaikan begitu saja, tidak bisa ditaruh di tumpukan buang atau simpan sebelum diberi ruang yang cukup untuk diakui.

Ada foto, foto keluarga yang tidak sempat masuk bingkai, yang warnanya sudah agak pudar di tepinya. Foto Ibu muda, sebelum menikah, di suatu tempat yang tidak ada yang bisa langsung tebak di mana. Foto Bapak waktu wisuda, bukan wisudanya sendiri, Bapak tidak kuliah, ini wisuda kakaknya yang sudah meninggal. Foto tiga anak kecil yang sedang tidur berhimpitan di satu ranjang, Rara di tengah, Hendra dan Nisa di kanan dan kiri, yang diambil dari atas dengan cara yang menunjukkan bahwa yang memotret berdiri di tepi ranjang, mungkin di tengah malam, mungkin setelah memastikan mereka tidur.

"Ini Bapak yang foto," kata Nisa. "Lihat sudutnya, dari atas, dari sisi ranjang."

Hendra menatap foto itu lama. "Kapan ini diambilnya?"

Tidak ada yang tahu. Tidak ada tanggal di belakangnya.

"Kita kecil banget," kata Nisa. "Aku paling kecil, mungkin aku baru tiga atau empat tahun."

"Berarti aku delapan," kata Rara.

"Dan aku tujuh," kata Hendra.

Mereka bertiga menatap foto tiga anak kecil yang tidur berhimpitan itu. Anak-anak yang tidak tahu bahwa mereka sedang dipotret. Yang tidur dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh anak-anak, sepenuhnya, tanpa pertahanan, dengan tangan dan kaki yang tidak tahu harus ditempatkan dengan rapi.

"Kita pernah sedekat ini," kata Nisa pelan. Bukan dengan sedih, dengan sesuatu yang lebih ke kagum, ke tidak menyangka.

"Pernah," kata Rara.

"Bisa lagi tidak ya?"

Rara menatap adik bungsunya. Menatap perempuan tiga puluh empat tahun yang masih punya cara bertanya yang sama dengan anak kecil di foto itu, langsung, tanpa basa-basi, tanpa memfilter apakah pertanyaannya terlalu besar atau terlalu mengharapkan.

"Kita sedang coba," jawab Rara.

Di tengah semua itu, dari teras, suara Bapak.

"Kalian ngapain?"

Mereka menoleh. Bapak berdiri di ambang pintu depan, sudah bosan di teras rupanya, sudah masuk dan berjalan ke lorong dan menemukan anak-anaknya duduk di lantai dikelilingi isi lemari yang sudah bertahun-tahun tidak dilihat siapapun.

"Beresin lemari, Pak," kata Hendra.

Bapak menatap tumpukan barang-barang itu. Lalu menatap foto yang masih ada di tangan Nisa.

"Itu foto siapa?"

Nisa membalikkan foto itu ke arah Bapak. "Kita, Pak. Waktu kecil."

Bapak mendekat, dengan langkah yang hati-hati, melewati tumpukan kardus yang Hendra singkirkan sebentar agar ada jalan. Ia mengambil foto itu dari tangan Nisa. Melihatnya.

Diam lama.

"Ini..." Ia mengerutkan dahi. "Ini anak-anak Bapak?"

"Iya, Pak."

Bapak menatap foto itu lebih dekat ke matanya, mata yang sudah tidak bisa melihat dengan baik dari jauh. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah yang lain, dari satu anak kecil tidur ke anak kecil yang lain.

"Yang tengah Rara," katanya.

"Betul, Pak."

"Yang kiri siapa?"

"Aku, Pak. Nisa."

Bapak menatap Nisa. Lalu menatap foto itu. Lalu Nisa lagi. Mengangguk, dengan cara orang yang memverifikasi sesuatu yang ia sebenarnya sudah setengah tahu.

"Gemuk dulu kamu."

Lihat selengkapnya