Selagi Masih Ingat

Caiden Roux
Chapter #15

Pagi yang ini

Ada pagi-pagi yang tidak berbeda dari pagi lainnya dari luar.

Langitnya sama. Suara motor di jalan yang sama. Burung yang bernyanyi dari pohon yang sama. Aroma udara yang sama, tanah dan embun dan sedikit asap dari dapur tetangga yang sudah mulai memasak dari sebelum matahari benar-benar memutuskan naik.

Tapi dari dalam, ada yang berbeda.

Ada yang tahu bahwa pagi ini adalah pagi terakhir sebelum sesuatu berubah. Bukan berubah dengan cara yang buruk, hanya berubah, seperti semua hal berubah, seperti semua musim berganti tidak peduli apakah kamu sudah siap atau belum.

Hendra terbang balik ke Jakarta siang ini.

Nisa bus ke Yogya sore.

Dan rumah yang sudah beberapa minggu ini penuh dengan tiga suara dan tiga pasang langkah kaki dan tiga cara berbeda menikmati teh pagi, rumah itu akan kembali ke ritmenya yang lain. Yang tidak sepi, karena ada Rara yang akan selalu ada, dan sekarang ada perawat yang akan datang setiap hari. Tapi yang berbeda.

Selalu berbeda, kalau ada yang pergi.

Rara bangun paling pagi, seperti biasa, seperti selalu.

Tapi pagi ini ia tidak langsung ke dapur untuk hal-hal yang perlu dikerjakan. Ia berdiri sebentar di jendela kamarnya, menatap ke halaman yang masih agak gelap, dengan cahaya yang baru mulai merembes dari timur.

Ia memikirkan menu sarapan.

Bukan menu biasa. Bukan nasi goreng yang sudah jadi pilihan beberapa hari terakhir, bukan roti yang paling mudah, bukan apapun yang ia pilih karena praktis. Pagi ini ia ingin memasak sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah lama tidak ia masak karena terlalu banyak hal yang perlu disiapkan dan terlalu sedikit alasan untuk melakukannya hanya untuk dirinya sendiri.

Ia ingat menu itu.

Menu yang Ibu selalu masak untuk hari-hari yang penting, bukan hari raya, bukan ulang tahun, tapi hari-hari yang Ibu rasa perlu ditandai dengan sesuatu. Hari pertama sekolah. Hari setelah sakit. Hari ketika ada yang baru saja terjadi yang membuat keluarga perlu duduk bersama di meja dan makan dengan cara yang lebih penuh dari biasanya.

Nasi uduk. Dengan ayam goreng yang diungkep dulu sampai bumbunya masuk. Tempe orek yang manis pedasnya seimbang. Telur dadar yang digulung tipis dan diiris serong. Sambal yang tidak terlalu pedas tapi tidak tanpa rasa.

Menu itu butuh waktu. Menu itu butuh persiapan dari malam sebelumnya untuk yang paling sempurna, tapi Rara tidak menyiapkan dari malam sebelumnya, tidak terpikir, baru terpikir pagi ini. Jadi ia akan membuatnya dengan waktu yang ada, dengan cara yang bisa, dan hasilnya akan menjadi apa yang menjadi.

Ibu selalu bilang: masakan yang dibuat dengan niat baik rasanya selalu lebih enak dari yang tidak.

Rara percaya itu.

Ia ke dapur.

Aroma yang pertama keluar adalah aroma bawang yang ditumis.

Aroma yang tidak bisa dikategorikan sebagai aroma yang indah secara objektif, bawang yang ditumis adalah bawang yang ditumis, tidak ada cara lain menyebutnya. Tapi ada alasan mengapa aroma itu adalah salah satu aroma yang paling banyak muncul dalam kenangan orang tentang rumah mereka, tentang ibu mereka, tentang pagi-pagi yang sudah jauh. Karena ia bukan hanya aroma makanan, ia aroma aktivitas, aroma kehadiran, aroma seseorang yang sedang membuat sesuatu untuk orang lain.

Nisa yang pertama turun.

Ia muncul di pintu dapur dengan rambut yang belum disisir dan mata yang masih setengah tertutup, dan ia berdiri di sana menghirup udara, sekali, dua kali, dengan cara orang yang baru saja mencium sesuatu yang familiar tapi tidak langsung bisa menamai dari mana asalnya.

"Ini..." Nisa mengerutkan dahi. Bukan bingung, mencari. "Ini nasi uduk?"

"Iya."

"Mbak masak nasi uduk?"

"Kelihatannya."

Nisa masuk ke dapur. Mengintip ke panci, ke wajan, ke semua yang sedang berlangsung di atas kompor. Lalu ia menoleh ke Rara dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa diartikan tapi yang Rara, setelah bertahun-tahun menjadi kakaknya, bisa baca dengan cukup akurat.

"Ini menu Ibu," kata Nisa pelan.

"Iya."

Nisa tidak berkata lagi. Ia ambil apron, apron yang sudah ada di dapur ini sejak lama, yang sudah pernah dipakai oleh tangan yang lain, dan mengenakannya.

"Aku bantu," katanya.

Rara tidak menolak.

Hendra turun setengah jam kemudian dengan koper yang sudah siap di tangan, berpakaian rapi, siap pergi, dengan cara seseorang yang tahu ia harus berangkat dan sudah menyiapkan diri untuk itu dari semalam.

Tapi begitu ia sampai di ambang dapur dan aroma itu menyambutnya, ia berhenti.

Menaruh kopernya di lantai.

"Nasi uduk?" katanya.

Nisa yang sedang menggoreng tempe menoleh. "Mbak Rara yang masak."

Hendra menatap Rara di depan kompor. Lalu ia mengambil kursi dari meja makan, menariknya ke ambang dapur, dan duduk di sana, bukan membantu, bukan tidak ada, hanya ada. Menemani dengan cara yang sudah ia pelajari selama beberapa minggu ini.

Rara tidak menyuruhnya pergi.

Dapur itu pagi itu penuh dengan mereka bertiga, dua yang memasak, satu yang duduk di ambang pintu dengan kaki diluruskan, dan aroma yang memenuhi setiap sudut dengan cara yang membuat batas antara sekarang dan dua puluh tahun lalu terasa tidak setajam biasanya.

"Ibu paling sering masak ini kapan?" tanya Hendra.

"Hari-hari yang perlu ditandai," jawab Nisa. "Kata Mbak Rara."

"Hari apa yang paling kamu ingat?" Hendra menatap Rara.

Rara berpikir sambil mengaduk. "Waktu aku lulus SMA. Ibu masak ini. Tidak ada pesta, tidak ada apa-apa, hanya sarapan nasi uduk pagi itu." Ia berhenti mengaduk sebentar. "Dan aku ingat berpikir waktu itu, kenapa tidak ada yang spesial? Aku lulus kok hanya sarapan biasa." Rara melanjutkan mengaduk. "Sekarang aku tahu. Itu yang spesial. Itu caranya bilang selamat."

Dapur sunyi sebentar. Hanya suara minyak yang mendesis dan sendok yang bergerak.

"Aku ingat waktu aku diterima kerja pertama kali," kata Hendra. "Aku telepon dari Jakarta. Ibu yang angkat. Aku cerita, Ibu bilang alhamdulillah lalu bilang kalau pulang nanti Ibu masak nasi uduk. Aku tidak pulang waktu itu." Jeda panjang. "Ibu tidak pernah sempat memasaknya untuk itu."

Tidak ada yang menjawab.

"Jadi ini," kata Hendra, menunjuk ke dapur, ke semua yang sedang berlangsung, "ini untuk itu juga, mungkin. Selain untuk hari ini."

Rara tidak menoleh. Tapi ia mengangguk, satu kali, pelan.

Untuk semua nasi uduk yang tidak sempat dimasak.

Sekarang ada.

Bapak turun jam tujuh.

Ia muncul dari lorong dengan langkah yang lebih segar dari biasanya, hari yang baik, rupanya, hari yang dari pagi sudah punya kualitas yang berbeda meski tidak ada yang bisa menunjuk tepat apa yang berbeda. Rambutnya sudah disisir, bajunya sudah bersih, di tangannya ada HP tuanya yang sudah jadi perpanjangan dari tangannya sendiri.

Ia masuk ke dapur. Menghirup udara.

Berhenti.

Matanya berubah, berubah dengan cara yang sudah mereka kenal tapi yang tidak pernah bisa mereka antisipasi kapan datangnya. Berubah seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu di kejauhan, yang tidak jelas sumbernya tapi yang familiar dengan cara yang lebih dalam dari sekadar ingatan.

"Ini..." Bapak melihat ke panci, ke wajan, ke Rara dan Nisa yang berdiri di depan kompor. "Ini nasi uduk?"

"Iya, Pak," kata Rara.

Bapak diam sebentar.

"Ibu yang masak?"

Satu pertanyaan. Tiga kata.

Yang, pagi ini, tidak ada satupun dari mereka yang bisa menjawab dengan cara yang mudah. Yang pagi ini Rara tidak langsung menjawab dengan kalimat yang ia sudah punya stoknya, kalimat pelindung, kalimat yang menjaga Bapak dari kenyataan yang terlalu besar untuk beberapa momen.

Pagi ini Rara berbalik dan menatap ayahnya.

"Rara yang masak, Pak," jawabnya. "Rara belajar dari Ibu."

Bapak menatap Rara. Lama.

Lalu ia mengangguk, mengangguk dengan cara yang tidak jelas apakah ia mengerti perbedaannya atau tidak, apakah di dalam dunianya pagi ini Ibu ada atau tidak ada, apakah kabut sudah turun sepenuhnya atau masih ada celahnya di suatu tempat.

"Sama saja," kata Bapak akhirnya.

Dan duduk di kursi mejanya. Meletakkan HP tuanya. Menunggu sarapan dengan cara orang yang sudah tahu bahwa pagi ini ada sesuatu yang layak ditunggu.

Mereka makan berempat di meja makan.

Piring-piring yang diisi penuh, nasi uduk yang pulen dengan aroma santan dan daun salam yang masih harum, ayam goreng yang bumbunya masuk sampai ke dalam, tempe orek yang manis pedasnya seperti yang Rara ingat dari cara Ibu membuatnya, telur dadar yang diiris serong dengan ukuran yang tidak selalu rata tapi yang rasanya tidak perlu rata untuk enak.

Bapak mengambil ayamnya sendiri, mengambil dengan tangan, seperti kebiasaannya, seperti yang tidak pernah berubah. Menggigit. Mengunyah.

"Enak," katanya.

Satu kata. Tapi dari Bapak, satu kata itu cukup, sudah cukup, sudah lebih dari cukup, sudah menjadi hal yang mereka pelajari selama beberapa minggu ini untuk diterima apa adanya dan tidak meminta lebih dari yang ada.

Lihat selengkapnya