Hendra berhenti dari pekerjaannya bulan Maret.
Bukan dipecat, ia yang memilih. Satu pagi ia bangun lebih awal dari biasanya, duduk di tepi ranjang, dan menyadari bahwa ia sudah duduk di tepi ranjang yang sama dengan perasaan yang sama selama lebih dari sepuluh tahun dan tidak pernah bertanya kenapa. Hari itu ia menulis surat pengunduran diri. Dengan tangan, bukan diketik, tapi ditulis tangan, dengan cara yang tidak pernah ia lakukan untuk hal apapun dalam hidupnya yang sudah sangat lama berbentuk digital.
Ia kirimkan. Dan ia duduk di apartemennya yang terlalu sunyi dan merasakan sesuatu yang tidak langsung bisa ia namai.
Bukan lega. Bukan takut.
Sesuatu yang lebih dekat ke: akhirnya.
Ia dan Mira bicara, bukan sekali, bukan selesai dalam satu percakapan. Mereka bicara banyak, selama berbulan-bulan, dengan cara yang kadang berjalan dan kadang macet dan kadang membuat keduanya diam berjam-jam dalam satu ruangan tanpa tahu harus melanjutkan dari mana. Tapi mereka terus bicara. Dan itu, kata terapis yang akhirnya mereka datangi bersama, sudah merupakan hal yang tidak kecil.
Sekarang Hendra sedang mencari tahu apa yang sebenarnya ia mau.
Ia belum tahu.
Tapi untuk pertama kalinya dalam lama, ia tidak takut untuk tidak tahu.
Setiap dua minggu ia pulang ke rumah Bapak.
Tidak selalu lama, kadang hanya dua hari, kadang tiga. Tapi ia pulang. Dengan tiket yang sudah dipesan dari jauh-jauh hari, bukan yang mendadak dibeli jam empat pagi karena kabar yang tidak bisa menunggu.
Di ponselnya ada satu foto yang tidak ia hapus sejak ia mengambilnya, foto dari pagi nasi uduk itu. Meja makan, piring-piring yang hampir kosong, cahaya pagi yang jatuh dari jendela, dan seorang ayah yang duduk di antara dua anaknya dengan kedua tangannya menggenggam tangan mereka.
Ia tidak pasang sebagai wallpaper.
Tidak perlu dipasang di mana-mana untuk diingat.
Cukup ada. Cukup tahu bahwa ia ada di sana, di gulungan fotonya, bisa dilihat kapanpun ia butuh melihatnya.
Nisa mengadakan pameran kecil bulan Juni.
Bukan pameran besar, ruangannya tidak terlalu luas, tidak ada nama galeri yang terkenal, tidak ada liputan media yang berarti. Tapi penuh, malam pembukaannya. Penuh dengan orang-orang yang datang karena penasaran atau karena diundang atau karena tahu Nisa dan tahu bahwa karya Nisa selalu punya sesuatu di dalamnya yang sulit dijelaskan tapi mudah dirasakan.
Di antara lukisan-lukisan yang dipajang, ada satu yang tidak diberi label harga.
Bukan yang paling besar. Bukan yang paling rumit. Tapi yang, dari semua lukisan di ruangan itu, paling banyak membuat orang berdiri lebih lama dari yang mereka rencanakan.
Gambar pensil yang diperbesar dan dialihkan ke kanvas, gambar yang pertama kali Nisa buat waktu SMA, yang bertahun-tahun tersimpan di laci Bapak dilipat dengan hati-hati, yang Nisa temukan di antara tumpukan isi lemari yang mereka bereskan. Pohon. Gambar yang naif, yang belum sepenuhnya tahu apa yang ingin dikatakan tapi yang sudah tahu bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan.
Di label kecil di bawahnya, bukan harga.
Hanya: Disimpan oleh seseorang yang tidak pernah bilang tapi selalu tahu.
Tidak ada yang tanya siapa yang menyimpan.
Tidak perlu tahu.
Kanvas setengah selesai yang Nisa tinggalkan malam ia packing, langit malam dengan bintang-bintang yang belum semuanya ada, itu sudah selesai sekarang.
Tergantung di dinding kamar kontrakannya di Yogya, di sebelah jendela kecil yang menghadap ke gang.
Ia selesaikan malam ia pulang dari rumah Bapak, duduk di lantai dengan lampu bohlam kuning, dengan cat yang masih di mana mereka ditinggalkan, dan ia tambahkan bintang-bintang yang kurang itu satu per satu sampai langitnya penuh.
Tidak sempurna.
Tapi selesai.