Bab 3
Janji di Bawah Pohon Ketapang
Sudah hampir satu semester Ezra, Elfaraz, dan Jovan duduk di kelas 4 SD.
Di sekolah, semua guru mengenal mereka sebagai tiga sahabat yang hampir tak pernah terpisahkan.
Jika Ezra dipanggil, pasti Elfaraz dan Jovan tidak jauh darinya.
Jika Jovan membuat lelucon, Ezra akan tertawa lebih dulu, sementara Elfaraz hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.
Dan jika Elfaraz diam, dua sahabatnya selalu tahu bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Persahabatan mereka tumbuh begitu alami.
Suatu sore, sepulang sekolah, mereka kembali berhenti di bawah pohon ketapang yang berdiri kokoh di pinggir lapangan desa.
Angin bertiup pelan.
Daun-daun berguguran mengelilingi bangku kayu tua yang sudah menjadi tempat favorit mereka.
Jovan mengeluarkan tiga botol minuman dari dalam tasnya.
"Nih aku bawakan kalian minuman, sengaja tadi aku beli ini jadi ingat sama kalian, Satu buat aku, satu buat Ezra dan satu buat lagu El."
Ezra tersenyum. "Makasih ya Jo."
Elfaraz mengangguk pelan. "Makasih Jo."
Mereka minum sambil menikmati suasana sore.
Tak lama kemudian, Jovan memecah keheningan. "Menurut kalian..."
"Kalau nanti kita sudah besar..."
"...apa kita masih sering ketemu?"
Ezra menatap langit yang mulai berwarna jingga. "Aku berharap sampai kapanpun kita akan selalu bertemu."
Elfaraz menunduk sebentar. "Lingkungan bisa berubah."
"Sekolah bisa berubah."
"Teman bisa bertambah."
"Tapi semoga persahabatan kita jangan berubah ya sampai tua nanti."
Kata-kata itu membuat suasana mendadak hening.
Ezra mengambil sebuah buku kecil dari tasnya. "Aku punya ide."
Ia merobek tiga lembar kertas kosong.