Bab 5
Air Mata Elfaraz
Beberapa minggu setelah ulang tahun Ezra, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Setiap pagi, tiga sahabat itu berangkat bersama menuju SD Nusantara Harapan. Mereka saling menunggu di pertigaan jalan, lalu berjalan kaki sambil bercanda.
Namun, pagi itu ada yang berbeda.
Elfaraz datang paling akhir.
Biasanya ia selalu rapi dan penuh semangat, tetapi hari itu wajahnya tampak pucat. Senyumnya menghilang, dan matanya terlihat seperti kurang tidur.
"Ada apa, El?" tanya Ezra.
Elfaraz hanya menggeleng. "Nggak apa-apa."
Jovan yang biasanya banyak bicara pun memilih diam. Ia tahu, jika Elfaraz berkata "nggak apa-apa", biasanya justru ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Di kelas, Elfaraz tidak seperti biasanya.
Saat pelajaran berlangsung, ia sering melamun.
Ketika jam istirahat tiba, ia tidak ikut makan di taman belakang perpustakaan.
Ia memilih duduk sendirian di teras kelas.
Ezra dan Jovan saling berpandangan.
"Kita temani dia, yuk," bisik Ezra.
Mereka duduk di samping Elfaraz tanpa berkata apa-apa.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Akhirnya Jovan membuka kotak bekalnya. "Aku bawa ayam goreng."
Ezra menyodorkan sendok. "Ayo makan sama-sama."
Elfaraz menggeleng pelan.n"Aku nggak lapar."
"Tapi kamu belum makan dari pagi El," kata Ezra lembut.
Elfaraz menunduk. "Aku memang nggak bawa bekal."
Ezra dan Jovan saling memandang.
Tanpa banyak bicara, mereka membagi bekalnya menjadi tiga bagian.
"Gak ada yang gak makan sendirian," kata Ezra sambil tersenyum.
"Itu aturan kita, kan?" tambah Jovan.
Perlahan, Elfaraz mengambil sendoknya.