Bab 13
Janji di Bawah Ketapang
Hari Sabtu sore.
Langit tampak mendung sejak siang. Angin berembus pelan, membuat daun-daun pohon ketapang berguguran satu per satu.
Elfaraz berdiri seorang diri di bawah pohon itu.
Di tangannya ada tiga amplop kecil.
Satu bertuliskan Ezra.
Satu lagi Jovan.
Dan satu lagi bertuliskan Sahabat.
Ia menarik napas panjang.
"Pokoknya hari ini harus selesai."
Pagi harinya, Elfaraz menghampiri Ezra di perpustakaan.
"Ez aku mau minta tolong."
Ezra menutup buku yang sedang dibacanya. "Apa El?"
"Nanti sore..."
"...datang ke pohon ketapang." Pinta Elfaraz
Ezra terdiam beberapa saat. "Jovan juga datang?"
"Iya." Jawab Elfaraz.
Ezra mengangguk pelan. "Oke ntar aku datang."
Tak lama kemudian, Elfaraz menemui Jovan yang sedang latihan paduan suara. "Jo."
Jovan menoleh "Iya?"
"Nanti sore."
"Pohon ketapang."
Jovan langsung mengerti. "Ezra datang?"
"Iya dia atang." Elfaraz mengangguk
Jovan tersenyum kecil. "Aku juga datang kalau gituh."
Pukul empat sore.
Bangku kayu di bawah pohon ketapang akhirnya kembali diduduki oleh tiga orang.
Namun kali ini...
Tak ada yang berbicara.
Hanya suara burung dan desir angin yang menemani.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Elfaraz memecah keheningan.
"Aku capek."
Ezra dan Jovan menoleh bersamaan.
"Bukan capek sekolah."
"Bukan capek latihan."
"Tapi capek..."
"...karena kita saling diam."
Suasana kembali sunyi.
Ezra menundukkan kepala berkaca-kaca. "Aku pikir..."