Bab 15
Persimpangan Impian
Tidak terasa, tiga tahun di SMP hampir berakhir.
Kini Ezra Arsenio, Elfaraz Antonio, dan Jovan Firmansyah duduk di kelas IX. Mereka bukan lagi anak-anak yang dulu berlari di halaman SD. Wajah mereka mulai berubah menjadi remaja, begitu pula impian mereka.
Namun, ada satu pertanyaan yang diam-diam selalu menghantui hati mereka.
"Apakah kita akan tetap bersama saat SMA nanti?"
Suatu pagi, Bu Maya meminta seluruh siswa menuliskan cita-cita mereka di selembar kertas.
Ezra menulis tanpa ragu.
Penulis dan Musisi.
Ia ingin suatu hari nanti menulis buku-buku yang mampu menguatkan banyak orang, sambil terus memainkan piano yang telah ia pelajari sejak kecil.
Di sampingnya, Elfaraz menulis,
Arsitek.
Ia menyukai menggambar bangunan dan bermimpi membangun sekolah, taman, dan rumah yang nyaman bagi banyak orang.
Sementara Jovan tersenyum sebelum menulis,
Guru dan Pembicara.
"Aku ingin pekerjaanku membuat orang lain percaya pada mimpinya," katanya.
Ezra dan Elfaraz tersenyum bangga mendengarnya.
Menjelang kelulusan, sekolah mulai membagikan formulir pendaftaran SMA.
Di kantin, mereka membuka brosur beberapa sekolah.
"Aku ingin masuk SMA Negeri Bintang," kata Ezra.
"Sekolah itu punya klub sastra yang bagus."
Elfaraz membaca brosur lain.
"Di sana juga ada tim basket yang kuat."
Jovan tersenyum lebar.
"Dan kegiatan OSIS-nya terkenal aktif."
Mereka saling berpandangan.
"Lagi-lagi..."
"...kita memilih sekolah yang sama."
Mereka pun tertawa lega.
Meski memiliki tujuan yang sama, jalan menuju SMA tidak mudah.