Bab 16
Langit Putih Abu-Abu
Hari yang dinanti akhirnya tiba.
Setelah lulus dari SMP Harapan Bangsa dengan nilai yang membanggakan, Ezra Arsenio, Elfaraz Antonio, dan Jovan Firmansyah resmi diterima di SMA Negeri Bintang, sekolah yang sejak kelas IX menjadi impian mereka.
Pagi itu, mereka kembali bertemu di pertigaan jalan.
Bedanya, kini mereka mengenakan seragam putih abu-abu.
Jovan memandangi kedua sahabatnya sambil tertawa. "Rasanya aneh ya."
Ezra merapikan dasinya. "Kenapa?"
"Kita sudah SMA aja." Seru Jovan
Elfaraz tersenyum kecil. "Padahal rasanya baru kemarin kita kelas empat SD."
Mereka bertiga tertawa.
Gerbang SMA Negeri Bintang tampak megah.
Ratusan siswa baru memenuhi halaman sekolah.
Ada yang gugup.
Ada yang bersemangat.
Ada pula yang sibuk mencari ruang kelas.
Ezra melihat papan pengumuman.
"Tolong doakan gaes..."
Jovan ikut melihat.
Beberapa detik kemudian wajahnya langsung berseri.
"Kita..."
"...satu kelas lagi!"
Ezra dan Elfaraz ikut tersenyum lega.
Kelas X-2.
Untuk ketiga kalinya dalam perjalanan sekolah mereka, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kelas yang sama.
"Sepertinya angka tiga memang selalu membawa kita bersama," kata Jovan sambil mengangkat tiga jarinya.
Hari-hari pertama di SMA terasa jauh berbeda.
Pelajarannya lebih sulit.
Tugas lebih banyak.
Organisasi sekolah jauh lebih aktif.
Namun justru di sinilah bakat mereka semakin berkembang.
Ezra bergabung dengan Klub Sastra dan Musik.
Ia mulai menulis puisi, cerpen, dan sesekali memainkan piano di aula sekolah saat acara seni.