Bab 17
Tumbuh Bersama
Waktu terus berjalan.
Tanpa terasa, Ezra Arsenio, Elfaraz Antonio, dan Jovan Firmansyah kini duduk di kelas XI SMA Negeri Bintang.
Mereka bukan lagi siswa baru.
Kini mereka menjadi kakak kelas yang dihormati adik-adik kelas.
Namun, di balik kedewasaan yang mulai terlihat, mereka tetaplah tiga sahabat yang selalu menyempatkan diri bertemu di bawah pohon ketapang setiap Jumat sore.
Kesibukan mereka semakin padat.
Ezra dipercaya menjadi ketua Klub Sastra.
Ia sering mengadakan diskusi buku dan membimbing anggota baru menulis puisi serta cerpen.
Suatu hari, seorang adik kelas berkata,
"Kak Ezra, tulisan kakak bikin aku semangat menulis."
Ezra tersenyum hangat. "Kalau begitu, teruslah menulis. Jangan takut untuk memulai ya."
Elfaraz kini resmi menjadi kapten tim basket.
Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas tetapi rendah hati.
Saat latihan, ia selalu memastikan semua anggota tim mendapat kesempatan berkembang.
"Menang itu penting," katanya.
"Tapi jangan sampai kita meninggalkan teman."
Kalimat itu membuat semua anggota tim menghormatinya.
Karena mereka tahu, Elfaraz tidak hanya pandai bermain basket, tetapi juga pandai menjaga kebersamaan.
Di sisi lain, Jovan terpilih menjadi Ketua OSIS.
Setiap hari ia sibuk mengurus berbagai kegiatan sekolah.
Meski jadwalnya padat, senyumnya tak pernah hilang.
"Jo, kamu nggak capek?" tanya Ezra suatu sore.
Jovan tertawa. "Capek."
"Tapi kalau bisa bikin orang lain senang, capeknya hilang."
Elfaraz menggeleng sambil tersenyum. "Itu memang Jovan."
Suatu hari, sekolah mengadakan Festival Seni dan Olahraga.
Untuk pertama kalinya, ketiga sahabat itu memimpin kegiatan yang berbeda.
Ezra mengurus lomba menulis.
Elfaraz bertanggung jawab atas turnamen basket.