Selamat Datang di Klub Baca Srikandi

Angelina Eka
Chapter #1

Bab 1

Bab 1

Harmoni. Itulah kata yang muncul di benakku ketika Honda Jazz milik pamanku, Bhisma, melaju di jalanan Denpasar. Di sepanjang jalan berdiri pura-pura dengan gapura batu yang klasik, sementara tak jauh darinya gedung-gedung dengan desain modern menjulang. Turis berjalan santai dengan kamera di tangan, bercampur dengan orang-orang lokal yang melintas di atas motor. Sesekali terlihat sesajen kecil di pinggir jalan. Semuanya berbeda, tetapi berjalan berdampingan. Semuanya berbeda, tetapi terlihat begitu rukun bersama, seperti warna pelangi, seperti kedua orangtuaku. Hanya saja, yang terakhir adalah omong kosong sebab kalau orangtuaku harmonis, harusnya saat ini aku tidak harus mengungsi ke Bali, tepatnya di Ubud bersama pamanku yang baru kutemui hari ini setelah sekian lama tak bertemu.

“Ugh!” Tanpa sadar aku mengeluarkan bunyi keras.

“Kau baik-baik saja?” Pamanku yang sedang menyetir menoleh ke arahku. “Kursinya nyaman, kan?” Dahinya berkerut, membuatnya semakin mirip ibuku.

“Perutku agak sedikit tidak nyaman, Paman.”

“Apa kita berhenti sebentar? Mau minum sesuatu yang hangat?” Raut mukanya menunjukkan seseorang yang akan melakukan apa pun untukmu. Perhatian.

Aku menggeleng cepat. “Aku baik-baik saja, Paman. Aku hanya sedikit kelelahan.” Aku memaksakan diri tersenyum.

Pamanku bertanya apakah aku yakin aku baik-baik saja berkali-kali. Setiap pertanyaannya membuatku hampir ingin berkata jujur bahwa penyebab kekesalanku bukan perutku, melainkan kakak perempuan dan kakak iparnya. Namun, apa gunanya? Mereka sudah bercerai, dan aku tetap harus menerima kenyataan bahwa selama dua puluh tiga tahun menikah, kedua orangtuaku hanya pura-pura bahagia.

Memikirkan pernikahan dan orangtuaku seketika mengingatkanku kembali ke sebulan lalu. Ketika Ibu dan Ayah menyampaikan kabar mengejutkan seperti pertir di siang bolong. Ah, tidak, lebih mengagetkan daripada itu. Bahkan aku lebih percaya jika melihat hujan belalang turun di Jakarta. Kami bertiga duduk di ruang makan. Ibuku membuka percakapan dengan satu kalimat yang memporak-porandakan isi kepalaku.

“Ibu dan Ayah akan berpisah.”

Saat mendengar kalimat itu, kepalaku dipenuhi pertanyaan. Berpisah? Bagaimana mungkin dua orang yang selalu tampak saling mencintai memutuskan untuk berpisah? Kalau mereka sering berteriak, bertengkar, atau saling melemparkan serapah, mungkin aku takkan heran. Namun, kita sedang membicarakan Ayah dan Ibu. Pasangan yang selalu menggenggam tangan ketika kami pergi ke mana pun. Ayah yang tak pernah absen mencium kening Ibu setiap malam. Ibu yang memilih Ayah—seorang musisi yang tidak begitu terkenal—bahkan ketika Nenek menentang habis-habisan pernikahan mereka. Kalau bukan cinta, apa lagi yang bisa menjelaskan keputusan seorang dokter spesialis bedah saraf perfeksionis untuk menikahi pria yang begitu berbeda dari dirinya?

“Kami minta maaf menyampaikan semua ini sekarang,” sahut Ayah. Bahunya merosot, tatapannya jatuh ke meja, seolah ia tak punya keberanian untuk menatapku.

“Kami berpisah baik-baik dan kami harap kau menerima keputusan kami ini.” Ibu menambahkan, kali ini dengan suara tenang yang anehnya membuatku semakin kacau. Ia berdiri tegak, menatapku tajam, tetapi nada suaranya terdengar seperti ia hanya sedang mengumumkan menu makan malam.

Hari itu Sabtu malam. Lampu ruang makan menyala temaram, memantul di atas permukaan meja pualam besar yang memisahkan kami. Dari dapur, samar-samar terdengar suara Mbak Ju dan Mbak Ina mencuci piring—denting gelas, riuh kecil air, semuanya berjalan seperti biasa, bertolak belakang dengan apa yang terjadi padaku.

“Apa?”

Satu kata itu lolos dari mulutku, lebih berupa hembusan napas yang tercekik, bukan pertanyaan.

Lihat selengkapnya