Selamat Datang di Klub Baca Srikandi

Angelina Eka
Chapter #2

Bab 2

Bab 2

Aku terbangun pukul enam pagi dan sesaat merasa asing melihat sekitarku. Cahaya matahari pagi menembus gorden cokelat tipis, menari-nari di dinding putih yang kosong. Meja belajar polos tampak rapi, tanpa planner atau catatan yang biasanya menumpuk di kamar lamaku. Bau kayu dan lantai bersih menusuk hidungku—aroma yang asing sekaligus menenangkan. Untuk sesaat aku bingung berada di mana, sampai kemudian aku teringat: aku sudah di Ubud. Bagaimana bisa hidupku berubah sedrastis ini? Semua terjadi begitu cepat.

Seminggu setelah kabar perceraian, Ayah meninggalkan rumah setelah memelukku erat. Kami beberapa kali menelepon setelahnya, tapi percakapan selalu terasa canggung. Ia bercerita bahwa ia harus pergi ke suatu tempat untuk merawat teman lamanya yang sakit, sehingga ia akan jarang mengangkat telepon. Ayahku memang misterius. Kedua orang tuanya sudah meninggal jauh sebelum aku lahir, menjadikannya sebatang kara tanpa keluarga lain. Saat aku berumur 11 atau 12 tahun, aku pernah mendapati ia menangis tersedu-sedu sambil memandang foto seorang pria—mungkin ayahnya, entahlah. Aku ingat pernah menanyakan hal itu, dan Ayah meminta maaf berkali-kali sambil memintaku berjanji tidak mengatakannya kepada Ibu. Mengetahui ia kini memiliki teman yang diurus sedikit banyak membuatku lega, sebab aku selalu merasa Ayah adalah orang yang kesepian.

Sejak kepergian Ayah, hidupku diselimuti kabut. Tubuhku mudah lelah, dan begitu badan menyentuh kasur, aku langsung terlelap. Aku enggan keluar dari rumah. Keinginan mencari pekerjaan setelah lulus lenyap entah ke mana. Tidur menjadi cara termudah untuk menghindari kenyataan. Sementara itu, Ibu tetap beraktivitas seperti biasa: rumah sakit, operasi, dan kampus. Kami jarang bertemu selain saat makan malam. Sejujurnya, aku menyukai ritme baru itu karena bertemu Ibu sering kali membuatku sesak.

Namun, malam itu kami duduk bersama di meja makan. Mbak Ju memasak sup ayam, perkedel jagung, dan sambal teri—semuanya kesukaanku. Untuk pertama kalinya nafsu makanku lumayan baik, mungkin karena tubuhku sudah terlalu lelah untuk terus bersedih.

“Ada yang ingin Ibu sampaikan,” ujar Ibu setelah kami selesai makan.

Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Déjà vu menyambar, melemparkanku kembali pada memori saat mereka mengumumkan perceraian.

“Ibu akan berangkat ke Beijing selama enam bulan,” ujarnya. “Ibu mengikuti fellowship. Ini kerja sama antara rumah sakit di China dan Kemenkes; kesempatan bagus untuk meningkatkan keterampilan Ibu.” Ia menatapku tajam. “Sayangnya, kau tidak bisa ikut.”

Seketika rasa lega mengalir di tubuhku. Membayangkan tidak melihat Ibu selama enam bulan terasa sangat menyenangkan. Ibu memang tidak akan mengajakku ke luar negeri lagi, terutama sejak kejadian bertahun-tahun lalu ketika aku tersesat di Singapura. Walaupun ia tampak dingin, ia selalu paranoid jika aku sendirian, selalu berusaha mencegah hal-hal yang ia anggap membahayakan.

Sejak kecil hingga lulus kuliah, sopir harus mengantar-jemputku. Aku tak boleh naik kendaraan umum, harus pulang sebelum jam sembilan malam, dan semua pesan media sosialku diperiksa sampai aku lulus SMA. Enam bulan tanpa pengawasan akan menjadi surga bagiku. Lagipula, ini pertama kalinya aku akan benar-benar sendiri tanpa Ibu maupun Ayah. Biasanya, jika Ibu bepergian, ia memastikan Ayah menjagaku. Aku sempat berharap kali ini Ibu akan menyuruhku tinggal bersama Ayah. Meski canggung, tinggal bersamanya jauh lebih baik daripada terus diawasi.

“Ayahmu juga tidak bisa menemanimu. Laki-laki itu…” Ibu menghela napas panjang, “Ia bilang kau sudah dewasa, Citra, dan kau bisa tinggal sendirian.”

Aku menarik napas panjang, merasa beban di dadaku sedikit terangkat. Bayangan hari-hari bebas tanpa pengawasan Ibu mulai menari di kepala.

Lihat selengkapnya