Rumah tua itu berdiri sederhana di atas bukit kecil yang menghadap pesisir pantai. Dinding kayu jatinya telah menghitam dimakan waktu, tetapi tak pernah lapuk, sementara tiang-tiangnya seperti akar pohon beringin yang menancap dalam-dalam ketanah, dan atap ijuknya tampak selalu kering meski diguyur hujan deras semalaman. Di halaman depan, pagar bambu setinggi pinggang berdiri rapi, sedangkan halaman belakangnya membentang dibatasi kebun singkong, mangga, dan pisang, kemudian menyambung begitu saja dengan sepetak hutan kecil milik desa yang jarang dimasuki warga selain hanya untuk mencari kayu bakar, itu pun hanya dipinggirannya saja. Warga menyebutnya Omah, panggilan sederhana yang telah melekat selama bertahun-tahun. Panggilan untuk rumah itu dan perempuan tua yang tinggal di dalamnya seolah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
***
Sabtu pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbangun, laut di hadapan bukit kecil itu lebih dulu bernapas. Semilir angin menyibak kabut tipis, membawa aroma garam, ikan asin, dan asap kayu bakar dari dapur-dapur nelayan yang mulai menyala. Perahu-perahu kecil masih tertambat di kejauhan, sementara langit perlahan beralih dari ungu tua ke jingga muda, seolah masih menimbang-nimbang bagaimana hari akan berjalan. Namun, bagi kelima cucu Omah, Sabtu pagi, bahkan sejak subuh, selalu menjadi waktu paling membahagiakan. Tanpa perlu diundang dua kali, mereka akan datang satu per satu… Sita dengan sepeda yang selalu tiba paling awal alias subuh, Olivia yang datang terakhir dengan alasan klasik, “kelaparan di tengah jalan,” Michele dengan tas kecil berisi buku-buku pinjaman dari perpustakaan sekolah, Sekar yang baru menyusul setelah membantu ibunya di rumah, dan Gayatri yang entah bagaimana selalu muncul tanpa seorang pun benar-benar menyadari kedatangannya.
***
Di beranda rumah, di atas kursi rotan yang berderit pelan setiap kali angin lewat, Omah duduk menyulam. Jarinya yang keriput bergerak lincah menembus kain, menyusun benang merah dan putih menjadi sebuah motif berbetuk abstrak setengah jadi. Ia tidak terburu-buru. Orang-orang yang pernah melihatnya menyulam sering berkata, gerakan tangannya seperti orang yang sedang menulis ulang sejarah, satu tusukan jarum untuk satu peristiwa yang tak boleh dilupakan.
"Belum selesai juga, Omah?" Suara itu datang dari arah dapur, disusul derap kaki yang terburu-buru dan bunyi piring beradu.
Omah tak menoleh. "Sudah bertahun-tahun kau tanya itu setiap pagi, Sita... dan jawabannya pun akan selalu sama."
"lagian beberapa bulan terakhir ini kerja Omah selalu menyulam nggak pernah selesai, sampai lupa ada Sita dirumah, sampai lupa bercerita dan bermain sama cucu-cucunya" protes suara itu menggerutu, berbarengan dengan sosoknya yang muncul dari balik pintu... seorang gadis remaja berbadan langsing namun tegap, rambutnya diikat kencang ke belakang tanpa satu helai pun yang berani menjatuhkan diri dari tempatnya.
Wajahnya masih basah dipenuhi oleh keringat, seperti baru saja menuntaskan latihan pagi. Itulah Sita Hyangloka, cucu tertua, yang sejak sebulan lalu, oleh Omah telah resmi dilantik sebagai pemimpin pasukan tetua adat desa... jabatan yang menurutnya jauh lebih berat daripada berkarung-karung singkong hasil panen dari halaman belakang rumah Omah, sedangkan menurut sepupu-sepupunya, jabatan itu membuatnya menjadi galak tanpa ampun, khususnya sebelum jam tujuh pagi tiba.
"Kalau sudah selesai," jawab Omah tenang, jarumnya tetap bergerak, "berarti ceritanya juga sudah selesai. Padahal ceritanya belum selesai loh, Nduk."
Sita mendengus manja, tapi tidak membantah. Ia sudah hafal, setiap ucapan Omah yang terdengar seperti teka-teki, biasanya menyimpan makna yang baru akan dipahami bertahun-tahun kemudian. Sita melangkah turun dari beranda menuju halaman, memandang laut yang mulai berubah warna dari ungu menjadi abu-abu keperakan. Matanya memicing tajam ke arah ritme ombak laut pagi yang rasanya sangat ganjil... ganjil, seperti ratusan keping puzzle yang tiba-tiba muncul memenuhi kepalanya, membawa sekelebatan cerita yang saling silang berganti dengan cepat, kemudian menyusun peristiwa demi peristiwa yang penuh dengan tanda tanya.
Tak sadar Sita bicara pelan ke dirinya sendiri "Gayatri" jawabannya adalah Gayatri... entahlah kenapa Gayatri, padahal ia belum tau apa yang membuat ritme ombak laut itu terasa ganjil, hanya insting saja. Ya insting... itulah salah satu penyebab yang membuatnya diangkat menjadi pemimpin pasukan tetua adat desa bulan lalu, bukan karena ia paling tua di antara sepupu-sepupunya, tetapi karena diantara semuanya Sita paling jarang salah membaca firasat... dan kali ini ritme ombak pagi itu telah mejelma menjadi bebunyian sumbang yang menggulung dadanya.
Semetara itu dari dalam rumah, terdengar keributan lain. "OLIVIA SASTRODIAJI! TOLONG BERHENTI MAKAN GORENGAN ITU!"