Sita tiba di dapur tepat saat kalimat terakhir Gayatri diucapkan, dan sesuatu di wajahnya berubah seketika... dari kakak sepupu sulung yang sudah bosan menegur adik-adiknya, berubah menjadi seseorang yang jauh lebih waspada, seperti anjing gembala yang telah mencium bau serigala di udara.
"Di mana?"
"Barat laut. Masih jauh, tapi arahnya lurus ke pesisir pantai kita." Gayatri mengangkat dagu ke arah jendela dapur yang menghadap laut. "Saat aku ke sini, entahlah kenapa tiba-tiba ditengah jalan aku sempatkan mampir ke menara pos dan mengawasi laut... Awalnya kukira cuma bayangan awan. Tapi bayangan awan tidak punya layar."
Sesaat Sita tertegun, ternyata instingnya benar... Gayatri.
Michele langsung menutup bukunya, lau menyisipkan pensil sebagai penanda halaman dengan gerakan cepat, yang menunjukkan otaknya sudah berpindah mode dari "menghitung arah angin cuma untuk iseng" sekarang menjadi "menghitung arah angin karena penting". "Berapa besar kapalnya? Bentuk lambungnya seperti apa?"
"Besar. Dua-duanya. Lebih besar dari kapal dagang yang biasa singgah di sini." Gayatri menjeda sebentar, seperti mengingat-ingat detail yang tidak biasa ia perhatikan, tapi terpaksa ia perhatikan juga karena sesuatu yang terasa janggal. "Ada bendera di tiang utama. Bukan bendera kerajaan laut mana pun yang pernah kulihat sebelumnya."
"Oh my God," gumam Michele pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun di ruangan itu.
"Nah lho," Olivia akhirnya menelan habis bakwannya, wajahnya berubah dari jenaka menjadi... ah entahlah kenapa... masih tetap terlihat agak jenaka, hanya saja sekarang dengan tambahan kerutan di dahi. "Kapal misterius. Bendera aneh. Sepertinya kita bakal dapat masalah besar deh."
"Kau selalu bilang begitu setiap kali ada hal baru," sahut Sekar.
"Ya soalnya kenyataannya emang selalu begitu! Ingat waktu ada orang baru yang terdampar di pantai dan ditolong Omah... usut punya usut, ternyata dia adalah pimpinan perompak laut yang lari dari kejaran tentara laut barat, Gondo Pati"
Nama itu membuat suasana sedikit membeku sesaat. Gondo Pati... mantan perompak yang dulu pernah dimaafkan dan ditolong Omah dan warga desa, diberi kesempatan hidup baru di desa, sebenarnya saat itu Sita, Olivia, Michelle, Sekar dan Gayatri tidak setuju, tapi mau diapakan... Omah sudah memutuskan. Bahkan setahun yang lalu entahlah kenapa kepala desa mengangkatnya menjadi salah satu pamong desa di bidang pertahanan. Cerita lama itu masih menyisakan rasa tidak nyaman di antara mereka, seperti duri kecil yang tak pernah benar-benar tercabut dari kulit.
Sita menepuk meja pelan, bukan dengan keras, tapi cukup untuk mengembalikan perhatian semua orang kepadanya. "Kita bicarakan dua kapal itu dulu. Jangan melebar kemana-mana!"
"Siap Bos!" Olivia memberi hormat asal-asalan dengan tangan yang sudah kosong tapi masih berminyak bekas gorengan. Buru-buru Sekar menjauhkan piring bakwan jagung dari jangkauan Olivia.
Sita berjalan ke jendela, berdiri di samping Gayatri, menatap ke arah laut yang kini benar-benar mulai kelihatan berbeda dari biasanya. Dari jarak sejauh itu, dua bentuk hitam samar mengapung di batas cakrawala, seperti dua bangkai raksasa yang bergerak sendiri tanpa perlu ditarik ombak. Layar-layarnya jauh lebih tinggi dan lebih rumit dari kapal-kapal dagang yang biasa singgah membawa rempah dan kain. Bahkan dari jarak sejauh ini, tampak ada sesuatu pada cara kapal-kapal itu bergerak yang terasa terlalu tenang, terlalu percaya diri... seperti tamu yang sudah tahu ke mana ia akan pergi tanpa perlu bertanya arah kepada siapa pun.
"Mereka tahu jalan," gumam Sita, lebih kepada dirinya sendiri.
"Maksudnya?" Sekar mendekat, ikut menatap ke laut.
"Kapal dagang yang baru pertama kali datang biasanya melambat di dekat karang luar, mengirim sekoci kecil untuk mengukur kedalaman air sebelum berani masuk," jelas Sita, matanya tidak lepas dari dua bayangan itu. "Kapal-kapal itu tidak melambat sama sekali. Mereka bergerak seperti sudah hafal jalur ini."
Michele mendekat sambil membawa kompasnya, seolah benda kuningan itu bisa membantu menerjemahkan apa yang sedang mereka lihat. "That's... concerning, actually. Kalau mereka sudah tahu jalur masuk tanpa harus mengukur, artinya sudah ada yang memberi mereka peta."