Tiga minggu sebelum Rudi resmi jadi penghuni tetap gunung, di sebuah ruang sekretariat UKM Pecinta Alam yang baunya campuran kopi sachet dan kaos kaki basah, Rai sedang menatap peta topografi dengan ekspresi yang—menurut Dandi—"kayak orang mau ngelamar gebetan."
"Serius lo, Gunung Slamet?" Dandi menyodorkan semangkuk mie instan yang baru setengah masak, kuahnya masih agak dingin di pinggir. "Kenapa nggak Semeru aja sekalian? Biar afdol."
"Semeru itu tertinggi di Jawa, Dan. Aksesnya juga lagi dibatasi karena aktivitas vulkanik. Slamet ini—" Rai menjentikkan jarinya ke peta, persis di kontur yang menandai puncak, "—tertinggi di Jawa Tengah. Ini udah cukup buat target tahun ini."
"Tapi tetep aja, Slamet kan bukan yang paling tinggi se-Jawa."
"Aku nggak pernah bilang itu yang paling tinggi se-Jawa."
"Lah tadi pagi lo bilang gitu di grup WA UKM! 'Ayo kita taklukkan gunung tertinggi di Jawa!' Aku udah capture loh."
Rai diam sebentar, mencoba mengingat-ingat. "...Itu mungkin aku salah ketik."
"Salah ketik itu typo huruf, bukan salah fakta geografis se-pulau, Rai."
"Pokoknya intinya kita naik Slamet. 3.432 meter. Jalur Bambangan. Estimasi tiga hari dua malam." Rai menggulung peta dengan gerakan yang dia harap terlihat tegas dan menutup topik. "Lagian siapa juga yang bakal protes soal akurasi data geografis kita. Yang penting kita yang sampai duluan sebelum anak UKM kampus sebelah."