Gue tuh ngeliat diri gue sendiri, makanya gue yakin masih ada pria baik nan setia di tengah pria-pria brengsek, bingung, love bombing yang selama ini gue temuin di social media dan dunia nyata. Aslinya, gue punya pesimistis yang gede soal menjalin hubungan dan berumah tangga, tapi ya itu gue masih sanggup nepis karena lagi-lagi gue ngeliat bagaimana cara gue mengartikan cinta dan komitmen orang dewasa.
"Nikah tuh gampang asal ketemu orang yang tepat," ucap gue sombong waktu menginjak usia dua puluh tahun.
Kalau lo mau tahu keadaan gue sekarang, sejujurnya gue muak dan kenyang ketemu orang yang salah, nemuin orang yang tepat nggak segampang yang gue bilang dulu. Untungnya, harapan baik itu muncul berbarengan dengan muncul seseorang di hidup gue. Dia Gio Galih Pratama, pria berusia matang yang kehadirannya bagai warna-warni indah untuk cat warna gelap yang biasa gue gunain buat melukis. Jatuh cinta ini juga nggak gue rencanain, semuanya ngalir gitu aja. Makanya, gue ngambil kesimpulan seseorang yang gue panggil abang itu adalah orang yang tepat. Ya, tetap aja sih, sisi tegas seorang Reni Anastasia jelas meminta penjelasan, gue nggak punya waktu buat ngejalin hubungan nggak jelas karena pasti bakal berujung sia-sia, ngerepotin, buang-buang waktu gue yang berharga. Jawaban bang Gio sesejuk embun pagi, katanya pengen mengenal gue lebih dalam untuk sebuah hubungan sakral bernama pernikahan.
Jelas dong gue nyambut baik, itu yang gue pengen dan harapin. Gue tegasin lagi, setahun, ya gue ngasih waktu ke dia buat ngenal gue, begitu juga gue bakal nyari tahu dan menilai selama setahun. Kalau cocok, gue mau tahun depan nikah. Bang Gio ngejawab nggak kalah tegas. "Kalau belum nyampe setahun kamu yakin sama saya, bilang ya Ren. Kita nikah."