Hari yang Sama Seperti Biasanya
Hujan selalu datang tanpa permisi.
Kadang saat jam istirahat. Kadang ketika bel pulang berbunyi. Kadang di saat semua orang sedang terburu-buru mengejar sesuatu yang mereka sebut masa depan.
Rafa tidak pernah benar-benar menyukai hujan.
Baginya, hujan hanya membuat jalanan macet, sepatu basah, dan seragam putih abu-abu yang harus dijemur semalaman. Tidak ada yang romantis dari langit yang mendadak gelap di tengah hari.
Pagi itu, seperti biasa, Rafa datang paling akhir ke kelas. Tas hitamnya menggantung di satu bahu, sementara earphone masih terpasang di telinga. Ia melewati beberapa teman yang sibuk membahas tugas dan rencana setelah lulus nanti.
Kelas XII IPS 2 selalu ramai sebelum pelajaran dimulai.
Ada yang bermain kartu. Ada yang mengerjakan PR lima menit sebelum guru datang. Ada juga yang sibuk membuat video untuk media sosial.
Rafa memilih duduk di bangkunya dekat jendela.
Tempat favoritnya sejak kelas sepuluh.
Dari sana, ia bisa melihat lapangan sekolah, pohon ketapang yang mulai kehilangan daunnya, dan langit yang entah kenapa terlihat lebih mendung dari biasanya.
Tahun terakhir SMA seharusnya menyenangkan.
Setidaknya itu yang selalu dikatakan orang-orang.
Nikmati masa putih abu-abu kalian.
Nanti juga kangen.
Kalimat itu terlalu sering didengar sampai terdengar seperti rekaman yang diputar berulang-ulang.
Rafa hanya tidak mengerti satu hal.
Bagaimana mungkin seseorang bisa merindukan sesuatu yang bahkan belum berakhir.