Gue Nanda Prawira. Mahasiswa setengah pintar, setengah Betawi, setengah Jawa Timur. Bokap gue Betawi dan Nyokap asli Kediri. Gue anak akuntansi di salah satu Universitas di Jakarta. Yang mana? Pokoknya cat kampus gue motif polkadot. Bohong, ding.
Anak-anak kadang memanggil gue si Ceking, kadang Cungkring. Bodi gue memang lumayan kurus. Dan sepertinya bawaan dari lahir. Padahal kalau belum sarapan nasi uduk disambung bubur ayam beranak, perut terasa belum terisi.
Mungkin bodi kecil ini, akibat waktu balita dulu, gue sering kilaf nyemil tanah depan rumah. Jadi setiap gue makan, even organiser cacing di perut mengadakan prasmanan, pesta atau minimal pensi.
Tapi badan kecil tidak melulu negatif. Gue akui ada juga sisi positif punya badan kecil.
Cerita positifnya banyak terjadi waktu gue masih SD.
Dijaman SD dulu, sekolah gue punya kebijakan untuk mengatur tempat duduk muridnya berpasangan cewek dan cowok. Maksudnya supaya gak berisik banyak bercanda. Dan mungkin para guru memandang bodi kecil gue sebagai sesuatu yang tidak mengancam untuk cewek manapun. Alhasil gue sering dipasangkan dengan anak-anak cewek yang lumayan cantik.
Cerita yang lumayan nyangkut di Kepala, waktu gue kelas empat. Gue duduk dipasangkan dengan si cantik Sarah.
Tiap hari duduk di samping primadona kelas, cinta monyet gue pun berkembang. Tapi tak dinyana, Sarah memberi respon positif. Sarah sering mengajak gue ke rumahnya.
Tapi anehnya, gue diajak Ke rumah Sarah bukan pas malam minggu, tapi di hari pas ada banyak PR. Iya, gue disuruh bantu mengerjakan PR.
Gak enak memang. Tapi gue gak menyesal, paling tidak gue jadi sering melihat wajah cantiknya. Namanya juga cinta monyet. Datang tak diundang, pulangnya beli cakwe.
Dan tercatat, Sarah adalah cinta pertama gue. Selamat ya, Sar..
Dan untuk pengalaman gak enak punya badan kering, bukan dari cerita hubungan asmara.
Jaman SMA gue sering banget jadi korban pemalakan oleh preman tidak bertanggung jawab yang sering nongkrong di depan sekolah. Kalau niat berhitung, uang saku yang dikasih nyokap. Paling bantar cuma lima puluh persennya yang buat jajan, sisanya untuk setoran.
Meski sering dipalak, gue iklas kok ngasihnya, iklaaass bangeet, katanya biaya rumah sakit mahal. Kalau biaya rumah sakit sudah mulai banyak diskon, gue gak bakal pikir ulang untuk menantang tuh preman. Nantang main Cacing online.
Sekarang gue sedang dalam masa liburan Semester yang biasanya gue pakai untuk kerja paruh waktu, ngefreeline, dan kadang gue bisa mendapatkan tempat magang tapi digaji. Kerja paruh waktu sebenarnya bukan hobi gue. Ini lebih kepada tuntutan dompet gue yang sering meriang masuK angin karena kosong, uang jajan gue dipotong. Gak ada subsidi dari bokap-nyokap selama liburan.
Dan tercatat, selama gue kuliah, gue pernah mengisi liburan dengan menjadi asisten akunting di perusahaan distributor obat, delivery-boy fast food, ojol sampai delivery-boy bubur kucing.
Liburan sebulan setengah ini, gue akan berusaha kerja paruh waktu lagi. Tapi dua minggu pertama liburan, gue isi dengan main ke Kediri. Gue masih trauma waktu magang liburan semester lima kemarin. Gue dipecat dari tempat magang.
Bayangkan, magang bisa di-PHK. Memang terdengar menye-menye, di-PHK magang aja cerita-cerita. Tapi jangan salah, berbarengan dengan putus magang, gue juga putus cinta. Heh? Kok malah terdengar lebih menye-menye? Tapi ini tidak sesepele itu.
Jujur, dipecat magang kemarin sambil kebayang muka mantan pacar tersenyum, membuat kepala cepat terkena migrain. Kepala puyengnya cuma sebelah. Tanggung.
Cerita dipecatnya, waktu gue magang jadi asisten akunting distributor obat, tempat kerjanya gak begitu besar, masih milik perorangan. Pertama kena SP, gara gara gue salah ngasih alamat surat jalan yang menjadi salah-satu jobdesk gue.
Gak enaknya lagi, apotik yang gue tulis di surat jalan gak merasa menerima, dan memang gak minta dikirim barang. Trus, waktu gue ke tempat si Kurir yang bawa barang, ternyata sudah gak masuk kerja tiga hari dan kabur bawa tuh barang. Gue datang ke tempat kosnya, kamarnya sudah kosong, tinggal ada jemuran kaos gambar tikus. Lambang koruptor?
Gak menemukan keberadaan si Kurir dimana, gue pasrah dan kembali menghadap Bos. Dan Bos memberi gue dua pilihan. “Damai, apa kantor polisi?”
Gue menjawab pertanyaan Bos dengan pasrah, “Peace aja, Bos...”
Gaji kepotong separuh. Padahal selama ini gue cukup berprestasi, track record gue cukup bagus. Minggu pertama magang, gue hanya bolos dua hari, gak lebih.
Gue bolos pun, pakai surat dokter. Bolos untuk main futsal, pakai surat dokter. Bolos gara-gara anak tetangga sunat pun, pakai surat dokter. Surat dari dokter sunat. Ah sudahlah, mungkin dokternya salah menulis resep.
Dan yang membuat gue langsung kena SP tiga dan diberhentikan dengan tidak hormat adalah gara-gara anak cewek si Bos, Sindi namanya. Ceritanya, Si Sindi lagi mengerjakan skripsi dan yang jadi bahan rujukan kantor bokapnya sendiri. Karena doi kuliah jurusan akuntansi, otomatis yang banyak jadi bahan skripsi ada di meja gue.
Di sela-sela magang. Gue jawab semua pertanyaan dari Sindi dan memberi materi yang doi butuhkan.
Memang dasar bawaannya gak bisa lihat cewek cakepan sedikit, dan mungkin juga gara-gara kesambet baju gambar Ipin Upin, otak gue aktif melobi mata gue untuk melirik tiap gerak-gerik doi. Dan gak pakai lama, otak gue menganalisa, ini cewek lumayan juga.
Hasilnya, gue mulai berani ngobrol topik diluar skripsi, mengajak makan siang bareng, pulang bareng. Sampai mengajak Sindi les Bahasa Rusia... Lidah gue pun keseleo.
Lanjut, kita jadi sering nongkrong di taman kota dan mampir di bioskop untuk nonton film-film horor nasional. Mulai jamban angker, sampai sekuel kutil hitam. Pokoknya romantis abis.
Gue tambah sayang sama Sindi, melebihi sayang gue ke sarah, cinta pertama di SD. Tapi gue gak nyadar, Bos ternyata curiga ke gue yang jadi rajin senyum-senyum sendiri sambil nyemil gorengan di kantor.
Di hari ulang tahun Sindi, gue mengirim bunga ke rumahnya. Di hari itu pula gue dipanggil Bos. Dan terjadilah adegan ini.
Perasaan, pas pipis tadi, sudah gue siram. Apa kurang bersih?
"Ada apa kamu sama Sindi?" tanya Bos to the point.
Oh ternyata masalah anaknya toh, tapi bos serius banget sampai melonggarkan dasinya dulu sebelum melanjutkan omongannya, gue pun ikut melonggarkan dasi.
"Gak ada apa apa, Bos." jawab gue pelan berusaha sopan.
"Bohong! Saya gak percaya." bentak si Bos. Masih dengan intonasi suara yang keras, Bos kembali mendamprat gue, "Kamu jangan sok lugu di depan saya, tempo hari kamu nilep obat saya, sekarang kamu mau nilep anak saya, hah?"
Ceile Bos, memangnya Sindi sandal karet, ditilep. Lagian yang nilep obat tempo hari si kurir yang sebelum kabur kepikiran mencuci kaos dulu.
Bos melanjutkan omongan yang panjang dan lebarnya membuat kuping panas. Intinya, gue gak boleh coba mendekati Sindi.
Bos berhenti ngomel waktu melihat hape di atas meja bergetar. Bos menjawab telpon yang ternyata dari bininya. Sebentar Bos menyimak omongan dari ujung telpon, kemudian bos menjauhkan hape dari telinga dan beralih ke gue "Kamu kirim bunga ke rumah?" tanya Bos ke gue.
Karena memang benar gue kirim bunga, gue jawab pertanyaan Bos dengan menganguk dan penuh wibawa, "Ho oh, Bos."