Oek!
Bidan mengangkat sesosok bayi merah yang baru saja mencuat dari arah selangkangan Bahiya. Benar kata orang, ketika melewati beratnya proses persalinan, seorang ibu hanya akan dihadapkan pada dua pilihan yang berselisih tipis: hidup atau mati. Itu yang Bahiya rasakan tadi. Dan rupanya kali ini Tuhan pun masih berbaik hati pada perempuan itu. Ia masih bisa merasakan sakitnya luka robek di dinding rahim, setelah sesaat lalu, bayi berkelamin perempuan dengan posisi sungsang susah payah ia ejankan. Menyisakan napas yang tinggal satu-satu. Sekaligus pertanda kalau Bahiya masih diberi kemurahan hidup oleh Yang Maha Kuasa.
Baru saja hendak bernapas lega, Bahiya tiba-tiba mendapati wajah bidan yang menangani proses persalinan barusan tampak berubah pias dan menegang. Bahiya langsung tahu kalau ada yang tak beres tengah terjadi dengan bayinya. Setelah mengoek satu kali, bayi itu tak lagi bersuara layaknya bayi-bayi kebanyakan. Terlebih, kini sang bidan tampak sedang membalik tubuh putri Bahiya tadi, mengusap bagian dada, lalu menepuk-nepuk punggung, sambil sesekali meniup-embuskan udara ke mulut si bayi merah.
“Kenapa deng kita pu bayi? Sakitkah dia?1“
Bidan desa itu bergeming. Tak kunjung menjawab tanya Bahiya. Hanya telapak tangan bidan tadi yang kemudian terbuka, memberi isyarat ke arahnya. Bisa Bahiya cerna kalau sang bidan pastilah sedang tidak ingin diganggu. Bayi di tangannya saat ini tengah menjadi prioritas utama.