Kelahiran dan kematian seperti halnya dua sisi mata uang logam yang saling membelakangi. Ada yang datang dan ada pula yang harus pergi. Begitulah yang kemudian terjadi. Bukan, bukan Bahiya atau bayi perempuannya yang mesti kembali ke pangkuan semesta. Bukan. Namun, lahirnya bayi tadi ke dunia, nyatanya harus turut dibersamai dengan perginya nyawa Rusli, suami Bahiya, kepada-Nya.
Di hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan mereka kemarin, dalam perjalanan menuju klinik, becak yang dikayuh suami Bahiya tadi bernasib nahas. Lelaki yang semestinya bisa melihat wajah putrinya untuk kali pertama, nyatanya malah lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Tuhan telah berkehendak dan tak ada pula yang mampu menyangkal. Dalam perjalanan membesuk anak istrinya itulah, becak yang Rusli kendarai dengan terburu-buru demi menyambut hari suka cita, tiba-tiba tertabrak sebuah truk yang melaju kencang. Membuat bahagia yang baru mekar sesaat di dada Bahiya, harus kembali kuncup dan gugur dibekap lara yang menyala-nyala. Seperti halnya duka dan bahagia, tangis dan tawa, maka seperti itu yang kemudian yang menimpa Bahiya: satu nyawa pergi setelah satu nyawa lain hadir di kehidupan perempuan tersebut.
Dulu, perempuan Jailolo itu selalu bertanya-tanya pada Tuhan: mengapa di usia yang nyaris menyentuh kepala tiga, Dia tak kunjung menitipkan janin di dalam rahimnya yang kerontang. Namun, ketika mendapati tanya yang Bahiya haturkan melalui doa-doa panjang pada Sang Pencipta, Rusli—sang suami—selalu berusaha menguatkan. Ia bilang, Tuhan hanya sedang memberikan mereka sebuah ujian, agar keduanya bisa berlatih menahan rasa sabar. Katanya lagi, akan selalu ada hikmah dan rahasia di balik segala peristiwa. Seperti halnya ujian kehidupan, Tuhan akan menaikkan derajat umat yang mampu melewati segala cobaan yang Tuhan beri. Beruntung benar Bahiya memiliki suami macam Rusli. Meski keduanya hidup serba kekurangan, namun suaminya itu mampu menghadirkan kehangatan dan kelapangan hati tersendiri di hidup Bahiya.
Menurut Rusli, tak perlu mereka berputus asa. Toh, jika bukan tahun ini, masih ada harapan bagi sepasang suami istri tadi di tahun-tahun mendatang. Mereka hanya perlu sejenak bersabar untuk bisa menggendong seorang momongan. Hanya di atas hampar sajadah, keduanya lantas sering menghabiskan malam-malam panjang dengan bersimpuh takzim. Tak peduli lagi Bahiya pada suara-suara yang vokal menggunjingkan kemandulannya. Hingga kini, rahasia Tuhan tersebut pada akhirnya berhasil terkuak dan Bahiya pahami seutuhnya. Bahwa kehadiran buah hati yang kemudian ia beri nama Nursita itu, akan disambut pula dengan kepergian Rusli untuk selamanya.
Selama ini, Tuhan hanya tengah memberikan kesempatan pada perempuan pesisir itu untuk menikmati kebersamaannya dengan sang suami. Intens berdua. Sebab, Tuhan telah menentukan dengan sedetail-detailnya mengenai kapan waktu dan bagaimana kelak lelaki itu harus kembali ke sisi-Nya.
***
Waktu terus bergulir, selayaknya putaran roda pedati. Nursita kecil mulai tumbuh menjadi bocah cantik dan pintar. Kegemaran Bahiya membaca majalah-majalah bekas, rupanya menitis pula pada diri Nursita. Di usia empat tahun, gadis mungil itu sudah mampu membaca dan menulis dengan lancar. Berbekal majalah bekas yang menumpuk di sudut kamar, Bahiya acap mengajarkan Nursita untuk mengenal huruf demi huruf. Namun, Bahiya sendiri tak menyangka jika putrinya tadi cepat benar menangkap ilmu yang ia ajarkan seadanya.
Benar dugaan Bahiya dulu, meski perekonomian mereka jauh berada di bawah ambang pas-pasan—apalagi semenjak kematian Rusli tempo hari, membuat kehidupan perempuan tadi semakin morat-marit dan terpuruk—namun Nursita tetap mampu tumbuh sebagai anak yang cerdas. Seperti halnya biji beringin yang dibawa burung liar terbang, lalu jatuh di atas keras hamparan paving block, ia akan tetap berusaha bertumbuh melawan kerasnya hukum alam.