Setahun sudah Nursita pergi. Rasanya, ingin sekali Bahiya menyusul putrinya itu ke ibukota. Meski ia sama sekali tak tahu di mana persisnya Nursita tinggal selain perempuan berambut gelombang itu pernah mengatakan kalau ia tengah bekerja serabutan di salah satu perusahaan eksportir di kawasan Tanjung Priok. Apalagi, menurut Bahiya, rute Jailolo— Jakarta tidak akan mudah ditempuh oleh seorang perempuan paruh baya sepertinya. Ia mesti menumpang kapal penyeberangan Jailolo—Ternate terlebih dahulu. Barulah dari sana, perempuan yang mengoleksi uban di kepala itu bisa membeli tiket penerbangan Ternate— Jakarta. Biaya yang tentu tak murah, terus-terusan menjadi momok menakutkan tersendiri bagi Bahiya. Sedang utang pada para tetangga untuk ongkos kepergian Nursita tempo hari saja masih belum bisa ia lunasi. Maka, kini, tak mungkin pula buruh cuci tersebut menambah beban utang tadi pada mereka yang hidupnya sebenarnya tak jauh berbeda dengannya. Satu- satunya cara yang terpikirkan oleh Bahiya saat ini hanyalah menunggu. Menunggu sampai Nursita kembali menghubungi ponsel Jurai terlebih dahulu.
Berminggu-minggu menunggu, Bahiya seolah terus saja dihadapkan pada sebuah penantian yang tak kunjung berujung. Hal yang selama ini ia dambakan itu rupanya tak pula menemukan titik terang. Selain sejumlah uang yang tetap rutin merangsek ke dalam rekeningnya setiap akhir bulan bertandang. Tentu saja itu uang kiriman dari Nursita. Karena selain mereka berdua, tak ada satu pun orang yang tahu perkara rekening tersebut. Semakin mengukuhkan Bahiya kalau anak semata wayangnya itu tidak sedang kenapa-kenapa di seberang pulau sana. Barangkali selama ini ponsel Nursita telah hilang atau tercecer di suatu tempat, hingga tak sempat ia mengingat nomor Jurai dan tak lagi bisa menghubungi mereka. Itu yang kemudian berkelindan di dalam benak Bahiya.
Tapi, bukankah seharusnya Nursita tra bakal lupa di mana alamat tempat lahirnya berada? Sudah semestinya pula putriku itu mengirimkan paling tidak sepucuk surat singkat pada kita, agar segera bisa gugurkan rasa khawatir di dada ini.
Benar saja, seiring waktu berotasi, bahkan hingga berbulan-bulan berlalu setelahnya pun, surat yang Bahiya nanti-nanti itu tak pernah kunjung betandang. Satu-satunya yang ia terima dari Nursita hanyalah sejumlah uang yang selalu masuk ke rekeningnya tadi. Padahal, saat ini Bahiya sama sekali tak membutuhkan nominal tersebut. Sebagai seorang ibu, yang ia inginkan hanyalah kabar dari mulut Nursita sendiri bahwa di hiruk-pikuknya kota metropolitan sana, dirinya benar-benar dalam kondisi baik-baik saja dan tanpa kurang suatu apa pun.
Lantas, pada suatu sore yang tengah dihujani gerimis, Jurai yang jarak rumahnya hanya sepelemparan batu dari rumah Bahiya, lagi-lagi datang dan menanyakan mengenai keadaan Nursita. Ia kembali mencoba menuntut penjelasan tentang alasan mengapa Nursita tak lagi pernah menghubungi ponselnya. Maka, demi tidak ingin membuat Jurai berpikir macam- macam, Bahiya menegaskan apa yang selama ini terpikirkan di dalam tempurung kepala: dugaan bahwa ponsel Nursita hilang, dan sekarang mereka lebih senang berkirim kabar melalui lembaran-lembaran surat. Tentu saja untuk hal terakhir, hanyalah sebuah kedustaan yang meluncur dari bibir Bahiya belaka.
***
Bulan demi bulan selanjutnya terus berlalu, dan Nursita sungguh tak sekali pun membayar kerinduan di dada Bahiya. Hingga tepat hari ini, dua tahun sudah Nursita tak sedikit pun memberi kabar pada sang ibu. Sedang uang di rekening perempuan yang kini tampak semakin dilalap usia itu, kian bertambah nominalnya. Menandakan kalau Nursita belum sepenuhnya lupa pada Bahiya, ibunya. Sekarang, hanya perasaan tak tenang yang terus berkecamuk di dalam pikiran Bahiya dan tidak lagi mampu ia bendung setiap kali mengingat Nursita.
Apa Nursita sengaja menghindar dari kita? Tapi, kenapa? Betapa tega kita pe putri itu bikin kita dipeluk berat masa penantian begini.
Sepanjang waktu bergulir, maka sepanjang itu pula Bahiya terpaksa terus-terusan berbohong pada orang-orang, bahwa melalui surat-suratnya, Nursita mengatakan kalau ia sudah hidup mapan di ibukota. Bahiya tentu tak punya pilihan lain selain berdusta. Sebab, ia hanya tak ingin kalau para tetangga, terutama Jurai, menganggap Nursita sebagai anak durhaka yang tega meninggalkan ibunya yang tua dan miskin. Karena sejujurnya, itu pula yang selama ini diam-diam berkelindan di dalam tempurung kepala Bahiya. Memikirkan hal tersebut, perempuan bergelung uban tadi hanya bisa menggeleng cepat. Mencoba membuang jauh-jauh praduga yang sama sekali tak berlandas. Toh, meski tak lagi pernah berkirim kabar, setidaknya sampai sekarang sang putri masih rutin mencukupi kebutuhan hidupnya. Nursita tetap mengirimkan sejumlah uang bulanan tanpa pernah sekali pun diminta. Apa itu bisa membuat Bahiya berani menyebut Nursita sebagai anak durhaka? Tentu saja tidak!
Belakangan, Bahiya merasa mulai mahir menjadi seorang pengarang cerita yang andal, terutama tentang kehidupan Nursita di ibukota saat para tetangga bertanya banyak hal atas diri putri semata wayangnya itu. Semua terpaksa ia lakukan demi menjaga nama baik Nursita. Barangkali sampai suatu saat kelak anak perempuannya itu kembali dan pulang ke tanah di mana ia pernah dilahirkan. Semoga semuanya segera membaik dan kembali seperti semula. Setidaknya itulah yang belakangan sering Bahiya semogakan pada Tuhan di setiap sujud- sujud malam.
Sebagai seorang ibu, apa pun ceritanya, tidak akan pernah dirinya mau mendengar orang-orang menjelekkan nama baik sang anak. Sebab, bagi ibu, anak adalah semestanya dan menjadi bagian dari separuh kehidupan. Maka, seperti itu pulalah Bahiya kemudian berlaku. Sebisa dan semampunya, ia akan terus berusaha melindungi nama baik Nursita, meski dengan cara harus terus mengarang kebohongan demi kebohongan baru.
“Su dua tahun Nursita di Jakarta, to? Tra ingin torang pulang jenguk ngana, Bahiya?6”