Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #4

Bab 3

Malam ini, Bahiya tengah duduk termenung di lengangnya ruang tamu. Semenjak Nursita pergi, tak ada siapa pun yang menemani perempuan baya itu di rumahnya yang sederhana. Di pangkuan Bahiya, sebuah album foto usang yang mulai menguarkan aroma apak, terbuka lebar. Sejak satu jam lalu, ia sudah mengkhatamkan album berisi foto-foto lawas suami dan juga masa kecil Nursita dulu. Senyum manis Nursita yang terpotret di sana, seakan bisa menjadi penawar kerinduan tersendiri yang terus merongrong rongga dada sang ibu.

Di salah satu foto, Bahiya sengaja meletakkan potongan potret Rusli tepat di sebelah dirinya dan Nursita kecil yang sedang tersenyum lebar. Selama ini, Tuhan memang belum memberikan kesempatan bagi mereka bertiga untuk mengabadikan foto bersama dalam satu frame. Karena sekali lagi, kelahiran Nursita nyatanya harus turut dibersamai dengan perginya sosok Rusli menghadap Sang Pencipta. Jadi, selama ini, pada lembar foto yang saling direkatkan tadilah Bahiya menjadikannya sebagai foto keluarga miliknya. Memandanginya lamat-lamat, sudah mampu membunuh sepenggal kerinduan perempuan paruh baya tadi atas diri sang suami sekaligus putrinya yang memutuskan merantau dan tak kunjung pulang ke kampung halaman.

Bahiya kadang bertanya pada dirinya sendiri, mengenai apa sebenarnya kesalahannya selama ini pada Tuhan, hingga Dia memberikan cobaan yang datang silih berganti di kehidupan perempuan tadi. Padahal, petuah Rusli masihlah Bahiya pegang hingga detik ini, bahwa ujian kehidupan datang hanya untuk melihat sejauh mana keimanan seorang hamba di hadapan Tuhannya. Namun, meski demikian, tak dapat dimungkiri kalau ujian-ujian tadi tetaplah meninggalkan sesak dan kepedihan di relung hati Bahiya. Ibu mana yang tak sedih ketika hilang kabar dari putri semata wayangnya?

Esok hari adalah hari kemenangan. Lebaran. Dari kejauhan, suara gema suara takbir terdengar bertalu-talu, bersahut-sahutan menyambut hari besar yang akan dirayakan umat. Sungguh, tak ada yang lebih Bahiya harapkan malam ini selain pintu rumah yang diketuk dari luar. Ketika menguak daun pintu, ia harap wajah Nursitalah yang kelak ia temukan. Tapi, harapan tentu hanyalah tinggal harapan semu. Bahkan hingga langit benar-benar telah menjelma pekat, suara ketukan yang Bahiya harapkan tadi tiada kunjung terdengar dari balik pintu.

Sore tadi, setelah menyiram tanaman kemboja milik Nursita yang dulu pernah dibelinya di pasar sebelum merantau jauh ke Jakarta, Bahiya lamat mengamati belasan kuntum bunga berwarna kemerahan yang mekar di ujung-ujung cabang. Andai saja Nursita ada di sini, ia tentu akan merasa sangat senang saat mendapati bunga kesayangan itu telah berkembang. Begitulah yang Bahiya pikirkan saat itu. Dulu, sebelum Nursita nekat berangkat ke ibukota, sempat Bahiya berpesan pada sang putri agar ia bisa pulang sebelum kemboja miliknya tadi berbunga. Waktu itu, Nursita hanya mengangguk, meski terkesan agak ragu akan jawabannya sendiri. Dan kini, setelah bunga kemboja miliknya mekar dan bersemi berkali-kali, nyatanya Nursita tak kunjung pulang ke tanah kelahiran. Bahiya jadi menyangkakan sesuatu: barangkali di sana, ada yang lebih penting dari rindu gadis itu padanya. Hingga putri semata wayangnya tersebut tega memutuskan untuk tak pulang-pulang dan memilih putus kabar dari seorang perempuan renta yang acap disambangi kesunyian dan selalu berharap akan kedatangan putrinya kembali.

Lihat selengkapnya