Sepandai-pandainya seseorang menutupi bangkai, aroma busuknya pasti akan tercium juga. Barangkali itulah peribahasa yang sedemikian tepat untuk menggambarkan apa yang kini terjadi pada Bahiya. Setelah sebisa mungkin Bahiya mengarang cerita bohong mengenai kehidupan Nursita di Jakarta, di kondisi tubuh yang mulai sakit-sakitan lantaran ditelan sepuh usia, pelan-pelan ia pun kini menjadi objek gunjingan orang-orang di pesisir Jailolo. Kata mereka, Bahiya adalah perempuan renta yang patut dikasihani tersebab telah ditinggal minggat oleh sang anak semata wayang.
Awalnya, ia masih menganggap semua itu hanyalah hal biasa. Ulah orang-orang yang tengah kehabisan bahan gosip untuk memulai pembicaraan. Bahiya dengar semua yang terlontar dari bibir mereka dengan telinga kanan, lalu ia buang jauh-jauh melalui telinga kiri. Toh, kelak jika Nursita pulang, Bahiya percaya kalau hal itu akan langsung membungkam mulut orang-orang tadi dengan sendirinya. Namun, menunggu rupanya bukanlah perkara mudah. Apalagi menunggu hal yang tak pasti. Pun sepuluh tahun, bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu. Ibarat ujung mata pisau yang selalu diasah, di satu titik, kata-kata tajam orang-orang tadi pada akhirnya berhasil melukai perasaan Bahiya.
Dengan fakta bahwa Nursita tak kunjung kembali, membuat pertahanan yang selama ini coba perempuan itu bangun, perlahan roboh. Di kamar yang temaram, kerap ia sampaikan segala keluh kesah pada Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam. Di atas hamparan sajadah panjang, tak jarang Bahiya sedukan kerinduannya seorang diri. Berkali-kali ia menepuk dada yang sebak dilanda pilu. Di tengah kekhusyukan yang mendekap, hanya satu doa yang selalu Bahiya semogakan kepada-Nya: semoga Nursita bisa pulang ke kampung halaman apa pun kondisinya!
Luka atas kerinduan di dada Bahiya sepertinya telah mencapai penghujung. Sebegitu dalam. Terluka parah, namun tak berdarah. Entah apa semua ibu akan sedemikian gilanya seperti Bahiya ketika ditinggal pergi sang anak yang amat ia cintai. Padahal, Nursita hanya merantau ke pulau seberang, bukan kembali kepada Sang Maha Pemilik. Namun, tanpa kabar sedikit pun dari gadis itu, kepergian Nursita tak ubahnya seperti mati. Bahiya seakan telah ditinggalkan anak perempuannya itu ke suatu tempat yang tak mampu terjamah. Hingga satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa dan terus berdoa. Bukankah apa yang Bahiya alami saat ini tak ubahnya seperti seorang ibu yang tengah meratapi kematian putrinya?
Tahun demi tahun yang telah berlalu, meninggalkan segala kenangan mengenai Nursita jauh di belakang. Tak terhitung lagi jumlah senja yang telah tergelincir di ufuk barat. Kini, teras rumah Bahiya pun sudah dipenuhi pot-pot berisi belasan bunga kemboja. Setiap kali orang tua itu menyempatkan pergi ke pasar dan menemukan penjaja bunga kemboja yang cantik, ia akan langsung meminangnya. Sebab, Bahiya tak ingin bunga kemboja milik Nursita tumbuh sebatang kara, seperti halnya ia yang hidup sendiri dan kesepian di dalam rumah beraroma kenangan.
Setiap kali Bahiya merindukan anak perempuannya itu, ia akan selalu menyibukkan diri di teras rumah, sekadar duduk dan memandang bunga-bunga tadi berlama-lama. Ia ceritakan segala hal yang ia rasakan pada bunga-bunga tadi, seolah bunga kemboja yang mekar tersebut adalah jelmaan Nursita. Jika ada helai daun yang menguning, serupa kerinduan yang berkarat, akan segera Bahiya petik dan buang jauh-jauh. Dengan menatapi kuntum bunga kemboja yang ranum dengan daun hijau segar, perempuan paruh baya itu seolah mampu membayangkan wajah Nursita yang tengah tersenyum ke arahnya. Sungguh kerinduan akan diri putrinya tersebut, kini telah benar-benar membuat Bahiya dirundung kegilaan. Setelah sekian lama menghabiskan masa penantian, tak tahu lagi akan sampai kapan perempuan yang kepalanya telah sempurna disepuh kapur itu akan mampu bertahan.
Kalau dihitung-hitung, ini adalah tahun kesepuluh sejak Nursita pergi meninggalkan rumah dulu. Itu artinya tahun ini usia Nursita akan genap dua puluh sembilan tahun. Di usia yang telah sebegitu matang, Bahiya jadi kepikiran hal sakral. Tentang apakah di pulau seberang sana, diam-diam anak perempuannya itu sudah menikah? Kalau sudah, mengapa Nursita tega tidak mengundang dan menyambangi restu Bahiya sebagai ibu, atau setidaknya sekadar memberitahu dan mengirimkan sepucuk surat undangan. Apakah benar kalau kini sosoknya yang semakin renta itu, tak lagi menjadi prioritas bagi Nursita? Membayangkan hal tersebut, hati Bahiya mendadak kembali dihinggapi perih.