Pikiran Bahiya sudah semakin buntu dan kian dirundung kalut. Setelah seluruh pikiran buruk berkecamuk, kini ia dihadapkan pada satu titik yang paling menggetarkan jiwa mengenai diri Nursita: jangan-jangan selama ini ia hanya sedang salah sangka. Jangan-jangan di kejamnya ibukota, hal buruk telah terjadi pada diri putri semata wayangnya itu.
Bisa jadi Nursita mengalami kecelakaan hebat dan fatal, hingga menyebabkan sepasang kakinya lumpuh dan tak sanggup pulang? Memikirkan itu, hati Bahiya semakin dibuat sakit sendiri lantaran telah dimakan prasangka.
Bahiya pun berasumsi bahwa sebagai seorang ibu, seharusnya ia tahu siapa sosok Nursita yang sebenarnya. Tak serta merta menuduhkan sesuatu yang tidak-tidak pada diri Nursita. Lantas apa bedanya ia kini dengan orang-orang yang selama ini terus menggunjingkan Nursita sebagai anak durhaka? Gadis di seberang pulau sana tak akan mungkin pernah melupakannya. Pasti Nursita punya alasan yang sedemikian kuat mengenai mengapa selama ini ia sama sekali tak memberi kabar. Namun, tentang alasan tersebut, tentu saja sampai detik ini masih menjadi misteri yang hanya Nursita dan Tuhan sajalah yang tahu. Meski demikian, Bahiya pun yakin kalau keputusan putrinya itu tak kalah berat dari rasa rindunya pada Nursita.
Kemarin, Bahiya hampir saja kalah melawan kegilaan dan nyaris membuang semua pot bunga-bunga kemboja kesayangan Nursita dari depan teras. Sebab, ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk meluapkan rasa kekecewaan dan putus asa. Sebelum kemudian tadi malam, ketika dalam tangisnya perempuan nelangsa itu sekali lagi mengadu pada Tuhan di sela-sela salat malam, ia seolah kembali mendapat sebuah kelapangan hati. Bahiya yang pasrah, pun telah mengikhlaskan segala apa yang terjadi dalam hidup kepada Tuhan, akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Jodoh, rezeki, maut, dan segala takdir kehidupan adalah kepunyaan Sang Pencipta Semesta, tergantung pada siapa ia hendak melimpahkan.
“Tuhan, kita sungguh tahu kalau Engkau tra akan pernah membebankan ujian yang melebihi batas kemampuan hamba-Mu. Jadi, semoga penerimaan dan kesabaran kita selama ini, mampu menjadi petunjuk bagi Nursita untuk bisa kembali kepada hamba. Sungguh, kita sangat merindukan Nursita. Namun, jika memang ada hal yang tengah putri hamba tanggung di seberang pulau sana, mudahkanlah segala urusannya.”