Sudah seminggu Bahiya dirawat di rumah sakit. Siang itu, begitu menemukan tubuh Bahiya yang tergeletak di depan teras, lekas Jurai membawa Bahiya untuk memeriksakan diri. Hasilnya, perempuan baya itu mesti diopname dan menjalani perawatan intensif. Beruntung, Bahiya masih punya sejumlah uang tabungan hasil kiriman Nursita yang selama ini hanya ia tarik seperlunya saja setiap bulan. Sebenarnya, selain untuk membiayai hidup lantaran tak lagi mampu menjadi buruh cuci lantaran usia dan tenaga yang semakin melemah, Bahiya sengaja menyimpan baik-baik uang pemberian Nursita itu untuk keperluan masa depan putrinya jika suatu saat ia pulang kelak. Setidaknya, uang tersebut bisa digunakan untuk modal membangun usaha kecil-kecilan seandainya Nursita memutuskan untuk berhenti bekerja di ibukota. Namun, sepertinya rencana Bahiya itu akan gagal. Sebab, kemarin, tiba- tiba saja dokter datang ke ruangan perawatannya dan mengatakan kenyataan yang sedemikian pahit. Ibarat tersambar petir di siang hari, dokter memberitahu bahwa di tubuh ringkih perempuan renta itu, telah bersarang sebuah penyakit ganas: kanker paru-paru. Pantas saja, selama ini Bahiya acap merasa dadanya nyeri, meski dalam interval waktu yang tak menentu. Dan sepekan lalu, menjadi puncak rasa sesak tadi. Jauh lebih pengap ketimbang saat-saat Bahiya tengah merindukan kepulangan Nursita.
“Jadi, bagaimana, Dok? Apa kita bakal mati?” tanya perempuan yang di dahinya tergambar jelas gurat pahit kehidupan itu. Ia masih tak percaya jika di usia yang sudah tak lagi muda, cobaan malah datang bertubi-tubi.
“Masalah umur, tra ada yang bisa menebak, Bu. Bahkan yang sehat dan baik-baik saja, tanpa gejala, pun bisa meninggal ketika memang su waktunya. Yang perlu kitorang lakukan sekarang hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Manusia cuma bisa ikhtiar dan berdoa, sedang Tuhan yang Maha Menentukan. Kalau Tuhan su berkehendak sembuh, maka segala penyakit, apa pun itu, pasti akan sembuh.” Bijak sang dokter tadi berucap. Bahiya jadi berpikir apakah barangkali semua dokter memang akan sedemikian bijak ketika berhadapan dengan pasiennya yang telah sekarat?
Pengobatan rutin dan kemoterapi menjadi solusi yang kemudian ditawarkan sang dokter. Sebab, kanker yang Bahiya idap, rupanya telah menyerang seluruh bagian paru-paru sebelah kiri. Ia tidak tahu dari mana penyakit itu berasal. Kata dokter, ada banyak hal yang bisa menjadi pemicunya, termasuk gaya hidup. Tapi, sekarang, rasanya sudah tak penting lagi bagi Bahiya untuk mencari asal muasal penyakit tersebut. Toh, penyakit ganas itu kini telah bersemayam dan merongrong paru-parunya. Yang terpenting adalah bagaimana agar Bahiya bisa segera sembuh dan mampu beraktivitas seperti sediakala. Sungguh, perempuan sekarat itu belum ingin mati. Karena sejujurnya, satu yang masih menjadi bebannya selama ini: ia ingin tetap hidup agar sempat melihat Nursita pulang, sebelum kejam penyakit lebih dulu membunuhnya!
Tuhan, tolong beri kita waktu untuk bertemu Nursita.
***
Sekeluarnya dari rumah sakit, Bahiya segera menjalankan rencana: mendatangi warnet di dekat pelabuhan dan mencoba segala cara serta kemungkinan untuk mencari keberadaan Nursita. Waktu kini terasa kian sempit bagi Bahiya. Sebab ia tahu bahwa umurnya sudah tak lama lagi. Ibarat daun yang telah menguning, tak akan bertahan lama melekat di ujung ranting.
“Bagaimana cara cari alamat perusahaan ekspedisi di Tanjung Priok?” tanya Bahiya pada seorang operator yang tengah berjaga di meja depan warnet.
Melihat kedatangan orang tua seperti Bahiya, meski agak bingung, petugas tadi tetap santun menanggapi. “Nama perusahaannya apa, Bu?”
“Tra kita paham. Yang jelas itu perusahaan melayani barang ekspor dan impor.”
“Ekspor impor?” Balik si operator bertanya. Ia lalu menuntun Bahiya ke sebuah bilik kecil berisi satu kursi yang menghadap langsung ke komputer. Di layar yang berpendar itu, pemuda yang barangkali masih berusia awal dua puluhan tadi lantas mengetikkan sesuatu.
“PT. Gemilang Anugerah? Atau Kencana Cargo barangkali?” “Entahlah. Kita sungguh tra tahu, Nak?”
“Memangnya untuk apa Ibu cari alamat perusahaan ini?” Pemuda tadi kembali bertanya sembari memberikan tatapan menyelidik. Tentu heran baginya, mengenai alasan mengapa perempuan tua seperti Bahiya mencari alamat perusahaan yang berada nun jauh di seberang pulau sana.