Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #8

Bab 7

Sebagai seorang anak, pasti akan sebisa mungkin selalu menunjukkan baktinya kepada orangtua. Termasuk bagi Nursita. Sebab, seumpama pepatah, Nursita pun percaya bahwa kasih ibu kepada anaknya, tak akan pernah terhingga sepanjang masa. Terbukti, sejak dulu, sang mama matian-matian merawat dan membesarkan ia seorang diri. Tak peduli kaki di kepala, pun kepala di kaki. Di usia yang tak lagi muda, Bahiya masih bersedia banting tulang demi kebahagiaan dan masa depan putrinya tadi. Nursita tentu tak akan pernah bisa melupakan itu.

Sejak ia kecil, sang mama telah menggantungkan masa depan pada setumpuk pakaian kotor milik tetangga. Dengan upah yang tak seberapa, beliau bekerja keras. Bergulat dengan peluh dan air mata. Katanya, semua rela perempuan paruh baya itu lakoni demi pendidikan yang harus Nursita enyam. Kata beliau juga, hanya pendidikanlah yang akan mampu melepaskan mereka dari jerat kemiskinan dan kebodohan. Makanya, ketika Nursita sempat menyampaikan niat untuk berhenti sekolah selepas lulus sekolah dasar, Bahiya langsung murka. Beliau menentang keras keputusan putrinya yang ia anggap tak masuk akal.

“Mau jadi apa ngana kalau tra sekolah?! Ngana mau meneruskan kemelaratan kita ini? Mau jadi sampah, hah!”

Baru kali itu Nursita melihat amarah mamanya pecah dan memeledak. Padahal ia hanya tak ingin terus-terusan membebani Bahiya dengan mahalnya biaya sekolah. Dan lagi, jika ia putus sekolah, ia justru bisa semakin memanfaatkan waktu sepenuhnya untuk membantu sang mama di rumah: membantu mencuci pakaian tetangga, membuat adonan, serta berkeliling menjajakan penganan buatan Bahiya kala sore menjelang.

Tapi, pandangan Bahiya nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang Nursita pikirkan. Katanya pula, Nursita harus terus melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang setinggi-tingginya. Kalau perlu, sampai putrinya itu lulus kuliah. Alhasil, sebagai anak yang berbakti, Nursita pun hanya bisa menurut. Ia lanjutkan sekolah hingga bangku SMA, sehingga waktu yang gadis itu punya untuk membantu sang mama sangatlah terbatas.

Setelah berkeliling menjajakan penganan keliling kompleks, malamnya, Nursita akan rutin memijat tangan dan kaki Bahiya yang ia tahu pasti terasa letih dan pegal. Di usia yang tak lagi muda, pekerjaan beliau sebagai tukang cuci bukanlah pekerjaan ringan. Lengan tangannya semakin lama semakin ringkih, pun tenaganya turut pudar dan tak lagi sekuat dulu. Beruntung, sejak SMA, sekolah Nursita masuk siang. Sehingga paginya, ia bisa membantu Bahiya mencuci dan menjemur pakaian milik para pelanggan, pun menyetrika pakaian yang sudah dijemur sehari sebelumnya.

Ngana tahu to kalau kita cuma mau ngana jadi orang sukses. Tra terus-terusan jadi orang sukses. Mama bagini karena dulu tra sekolah. Tra ada ilmu, tra ada bekal untuk bersaing dengan dunia. Mama yakin kalau ngana pintar, ngana bisa cari cara untuk lepas dari kemelaratan kitorang.”

Lihat selengkapnya