Kali pertama Nursita menginjakkan kaki di Jakarta, gedung-gedung pencakar langit menyambutnya dengan pongah. Belum lagi keramaian terlihat di mana-mana. Bising laju kendaraan lalu lalang, kerlip lampu-lampu jalanan, seakan menjadi wajah baru kota metropolitan di mata gadis sembilan belas tahun itu.
Ia yang saat itu berjalan tanpa arah tujuan, diturunkan Dirham—lelaki Timor yang kebetulan ia kenal di bandara dan berprofesi sebagai sopir taksi—di kawasan perumahan padat penduduk di dekat bantaran Kali Ciliwung. Kata lelaki itu, biaya sewa rumah di tempat tersebut masih terjangkau. Apalagi Dirham tahu kalau Nursita datang ke ibukota hanya dengan bekal uang seadanya. Sebagai sesama perantauan, hanya itu yang bisa lelaki itu bantu. Sebab, dirinya sendiri pun demikian dulu. Ia yang juga seorang lulusan SMA dari kampung halaman, pun hendak mengadu nasib agar bisa mendapatkan pekerjaan bagus di Jakarta. Nyatanya, nihil. Ujung-ujungnya ia kerja serabutan sebagai seorang kuli di pasar. Dan berkat bantuan seorang teman, syukurlah kini Dirham bisa bekerja sebagai sopir taksi.
“Tanpa teman atau saudara, akan butuh perjuangan berat untuk bisa mendapatkan pekerjaan mapan di ibukota, Nur,” ujar Dirham sebelum taksi yang ia kendarai kembali melaju membelah jalan. “Dan sebagai perempuan, ngana harus pintar-pintar jaga diri,” sambungnya lagi. Persis seperti pesan yang berkali-kali mamanya tekankan sebelum berangkat kemarin-kemarin.
Keputusan Nursita untuk merantau ke ibukota tentu bukan tanpa sebab. Salah satunya karena kata orang, ia akan bisa dengan mudah mencari pekerjaan. Apalagi ia adalah seorang lulusan SMA. Minimal sebagai kasir di toko retail, begitu info yang Nursita dengar. Maka, dengan tekad bulat, ditambah sedikit kenekatan, ia meminta sang mama untuk berutang pada tetangga. Kelak, jika hidupnya di Jakarta telah mapan, akan ia lunasi utang tersebut dengan gajinya. Namun, mendengar sedikit gambaran yang baru saja dilontarkan Dirham, ada sedikit ketakutan yang menyambangi hati kecil gadis tadi. Meski demikian, ia menganggap kalau itu adalah petunjuk dari Tuhan agar dirinya kelak tak gampang menyerah dan gigih dalam mencari pekerjaan.