Sepekan setelah Nursita mengutarakan niat untuk merantau ke ibukota, sang mama masih tidak setuju dengan keputusannya tersebut. Beliau tetap bersikeras melarang putrinya itu untuk pergi. Katanya lagi, ibukota adalah daerah rawan yang keras nan kejam. Hanya orang-orang yang bermental kuatlah yang bisa bertahan dan tidak tergelincir ke dalam hal-hal kelam.
“Hati-hati, jaga diri baik-baik di sana. Jangan ngana tergiur godaan duniawi. Jangan pula lupa ibadah, karena tanpa ada kita di sisi ngana, tra ada yang bisa membantu dan menolong ngana di sana selain Tuhan.” Begitu pesan Bahiya tempo hari.
Bukan tanpa alasan Bahiya mengkhawatirkan putrinya yang seorang perempuan itu pergi sendirian ke Jakarta. Pasalnya, setelah Nursita mengutarakan niat untuk merantau, para tetangga yang telah lebih dulu mendengar cerita orang-orang tentang pengalaman mencari nafkah di ibukota, menyampaikan semua kegelisahan mereka pada Bahiya. Ibarat api yang disiram minyak, keteguhan Bahiya untuk melarang, semakin berkobar. Katanya, Jakarta tidak ramah pada perempuan. Apalagi gadis muda seperti Nursita. Katanya lagi, di Jakarta, banyak lelaki hidung belang yang mengincar perempuan lugu dari kampung seperti Nursita kelak. Dengan segala modus, mereka akan merayu hanya demi mendapatkan kehormatan para perempuan. Ditambah iming-iming uang. Dan itulah yang diam-diam paling Bahiya takutkan terjadi pada Nursita.
“Jangan ngana pergi ke Jakarta, Nak. Ngana itu anak perempuan satu-satunya yang kita punya. Kalau tra ada ngana, bagaimana nasib kita yang sebatang kara ini? Mama su tua, Nursita,” ujar Bahiya berulang-ulang di banyak kesempatan. Seakan berusaha menggoyahkan niatan putrinya agar mau membatalkan rencana. Namun namanya juga gadis keras kepala, pendirian Nursita sama sekali tak goyah. Setelah sekian lama bersama, hal yang Bahiya takutkan nyatanya harus terjadi secepat ini. Ia harus hidup sebatang kara di rumah kenangan mereka.
Pernah terlintas di benak Bahiya kalau ia mungkin akan sendirian di masa tua ketika membayangkan Nursita menikah dan mengikuti sang suami. Namun, hal tersebut sudah mampu Bahiya atasi dengan cara memohon agar kelak selepas menikah, Nursita jangan dulu pindah. Sebagai satu-satunya ahli waris, tentu rumah sederhana miliknya yang berdiri di atas sepetak tanah tadi akan jatuh ke tangan Nursita. Anak perempuannya itu sementara waktu bisa tinggal dengan sang suami di rumah mereka tadi. Setidaknya sampai Bahiya mati. Begitulah yang perempuan renta itu mohonkan pada Nursita. Dan demi untuk membahagiakan sang mama, Nursita langsung mengiyakan. Sebab, sejauh ini, ia sama sekali belum kepikiran untuk menikah. Yang masih menjadi prioritas gadis itu sekarang hanyalah untuk membahagiakan Bahiya. Itu saja.