Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #11

Bab 10

Setelah hampir satu bulan berada di Jakarta, Nursita akhirnya mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai buruh cuci piring di salah satu restoran. Ia sama sekali tak merasa malu atau gengsi. Sebab ia percaya kalau pekerjaan ini akan ia jadikan salah satu batu loncatan untuk meraih kesuksesan yang barangkali tengah menunggu di depan sana. Nursita cukup mensyukuri semua yang terjadi di hidupnya. Terlebih, ini rela ia lakukan demi bisa membantunya bertahan hidup di ibukota. Toh, dengan gaji yang lumayan, gadis itu masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk ia kirim kepada Bahiya di kampung halaman. Setidaknya untuk menyicil sedikit-sedikit utang mereka dulu pada tetangga. Dengan demikian, mamanya tak akan lagi cemas dan berpikiran bahwa anak perempuannya itu diam- diam tengah terlunta-lunta di daerah asing. Meski memang demikianlah keadaannya.

Di setiap panggilan yang Nursita lakukan, sebisa mungkin ia akan menguatkan diri dan menegarkan suara. Namun, sepertinya sang mama selalu punya feeling tentang kondisi dirinya di Jakarta. Berulang kali perempuan itu bertanya tentang bagaimana pekerjaan putrinya, dan selalu saja Nursita jawab dengan sedikit kebohongan. Ia katakan pada beliau bahwa meskipun masih berstatus sebagai karyawan magang di perusahaan ekspedisi, namun gajinya lumayan. Dan setelah melalui uji coba selama enam bulan ke depan, Nursita pun berdusta akan diangkat menjadi karyawan tetap dan mendapat kenaikan gaji. Mendengar itu, suara Bahiya terdengar bahagia. Meski kemudian perempuan paruh baya itu terus-terusan bertanya apa benar Nursita baik-baik saja dan tak sedang berdusta.

Ngana tra bohong, to, Nak? Ngana sehat-sehat to di sana?22 Jangan lupa makan yang teratur, pun jangan pernah tinggalkan ibadah.”

Demi untuk menenangkan hati sang mama, ia iyakan saja semua petuah-petuah tadi. Yang terpenting sekarang, Nursita merasa harus bisa membuat beliau bangga di kampung halaman sana. Gadis itu akan lebih giat melamar pekerjaan yang lebih mapan dan menjanjikan lagi. Nursita percaya bahwa Tuhan tak pernah tidur, Dia akan selalu mengabulkan doa hamba-Nya yang tak kenal lelah dan tak mudah menyerah.

Gayung pun bersambut. Di bulan kedua di Jakarta, Nursita mendapat panggilan interview di sebuah rumah karaoke. Memang sejauh ini ia telah mengirimkan amplop berisi ijazah dan surat lamaran kerja hampir ke setiap tempat usaha, termasuk ke tempat karaoke tadi. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Nursita pun menerima tawaran tersebut. Apalagi gajinya hampir tiga kali lipat dari gaji gadis itu ketika menjadi tukang cuci piring di restoran. Memang, jam kerjanya pun semakin panjang: mulai pukul 9 pagi hingga pukul 3 dini hari yang dibagi ke dalam 2 sif: siang dan malam. Dan untuk enam bulan masa percobaan, Nursita akan selalu kebagian masuk di sif malam. Katanya, sudah begitu aturan yang berlaku bagi karyawan baru.

Di hari pertama bekerja, ia agak kaget melihat kondisi tempat kerja yang ternyata sangat ramai. Terlebih ketika jam malam, di sif yang mesti Nursita lewati selama enam bulan ke depan. Ia kira, di dalam gedung berlantai empat itu, hanya ada room-room berisi alat karaoke. Namun, rupanya Nursita salah. Di lantai paling atas, nyatanya terdapat sebuah area bar yang luas dan tak pernah sepi pengunjung. Berbagai jenis minuman keras tersedia di sana. Dan sialnya, gadis lugu itu kerap mendapat bagian untuk melayani para pelanggan yang datang ke lantai empat tersebut.

Kalau saja sang mama tahu dirinya bekerja di tempat demikian, biarpun mendapat bayaran tinggi, beliau akan tetap melarang. Maka, ia putuskan saja untuk lagi-lagi membohongi Bahiya. Nursita katakan kalau ia masihlah bekerja di perusahaan ekspedisi. Sebab, Nursita pun tahu kalau rupanya tak mudah mencari pekerjaan di ibukota hanya dengan berbekal ijazah SMA. Persaingan yang ketat, pun para pelamar yang padat, menjadi kendala tersendiri. Terlebih ia belum tentu bisa memperoleh gaji yang lebih besar dari pemasukan di tempat karaoke ini. Yang kemudian menjadi pedomannya, tak apalah ia harus terus menuang minuman-minuman keras tadi ke dalam seloki para pelanggan, yang terpenting tak ada niatan sedikit pun baginya untuk mencoba dan mencicipi minuman haram tersebut barang setetes.

Lihat selengkapnya