Sudah berbulan-bulan Nursita mencoba menghilang dari Bahiya dan tak pernah lagi berkirim kabar. Meski awalnya terasa sulit dan menyesakkan, namun Nursita mencoba untuk terus terbiasa. Ketika tengah merindukan sang mama, ia akan menangis seorang diri di dalam kamar. Meratapi nasib, menghujat semesta, meski kemudian ia sadar kalau hidup perlu terus berlanjut. Dengan keadaan seperti demikian, meski sudah jauh dari Tuhan, namun Nursita tetap yakin kalau memilih mengakhiri hidup bukan pula merupakan opsi terbaik.
Andai dulu ia menuruti larangan Bahiya untuk pergi merantau, pasti saat ini ia masih bahagia hidup bersama sang mama: membantu mencuci pakaian tetangga, membikin dan menjajakan penganan keliling kompleks, serta memijat tubuh Bahiya yang kerap pegal-pegal. Sebab, kini, apa yang mamanya takutkan saat itu benar-benar terjadi: ibukota memang kejam. Hingga hal yang paling buruk, saat ini terjadi pada diri Nursita. Syukurlah, mesti terang- terangan tak bisa menikahi Nursita lantaran telah berstatus menikah, namun lelaki yang tempo hari telah meniduri perempuan Jailolo itu masih bersedia bertanggung jawab untuk memenuhi segala kebutuhan Nursita dan janinnya.
Bulan demi bulan berlalu. Semakin lama, perut Nursita semakin tumbuh membesar. Janin di dalam perutnya pun berkembang dengan sehat. Setidaknya begitu kata dokter kandungan ketika Nursita iseng memeriksakan kehamilan. Apalagi, pagi sebelum ia mendatangi dokter tersebut, untuk pertama kalinya Nursita merasakan bayi di dalam rahimnya menendang-nendang. Tanpa diduga air mata perempuan itu langsung menetes. Nursita tiba-tiba teringat akan masa lalu. Barangkali begini perasaan Bahiya dulu ketika setelah penantian panjang, akhirnya berhasil mengandung dirinya. Bedanya, beliau mendapatkan janin di rahim setelah mengharap sekian lama pada Yang Kuasa. Sedangkan Nursita, mendapatkan calon buah hati melalui proses yang tak pernah diharapkan sama sekali. Sesaat Nursita merutuki kebodohannya tempo hari. Tak seharusnya pula dulu pernah tebersit di kepala perempuan itu niatan untuk menggugurkan makhluk kecil yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa di dalam rahim. Padahal yang selayaknya patut disalahkan adalah kelakuan konyol Nursita yang hilang akal di bawah pengaruh alkohol. Sedikit keberuntungan pun agaknya masih berpihak pada perempuan itu: sang ayah biologis janin dalam kandungan, mau bertanggung jawab untuk memenuhi segala kebutuhan mereka meski harus dengan cara sembunyi-sembunyi dari sang istri!
Mengetahui janinnya tumbuh sehat, Nursita berusaha terus mempertahankan kehamilan tersebut. Karenanya pula, sekarang berbagai pikiran buruk pun terus berkelindan di dalam tempurung kepala perempuan itu. Bagaimana nasib anak di dalam kandungannya kelak jika lahir tanpa kehadiran sosok sang ayah? Belum lagi di satu sisi, Nursita pun harus memikirkan apakah ia sudah benar-benar siap menjadi seorang ibu dan membesarkan buah hatinya seorang diri. Tiba-tiba bayang wajah Bahiya seolah kembali berkelebat di depan mata Nursita. Saat ini, perempuan muda itu lagi-lagi merindukan mamanya. Ingin sekali ia menangis di pelukan sang mama atau paling tidak mencurahkan segala nestapa yang tengah ia pikul pada perempuan itu. Namun, apa boleh buat, lantaran kebodohan di masa lalu, Nursita kini harus menanggung sendiri akibatnya.
Mama, semoga kita bisa menjadi seperti ngana yang berhati tegar bak karang di lautan, pun tangguh bak gunung tinggi menjulang.
***
Di akhir bulan kesembilan masa kehamilan, Nursita lebih banyak memilih untuk mendekam di dalam rumah. Sepasang tungkai kakinya kini kerap terasa pegal dan terlihat membengkak. Namun, hari ini ia harus tetap pergi ke bank seperti biasa untuk mengirimi Bahiya sejumlah uang bulanan. Nursita tak ingin jika dirinya terlambat mengirim, di seberang pulau sana, sang mama sedang membutuhkan uang. Meski ia pun tahu kalau uang yang kini ia miliki dan kirimkan pada Bahiya bukanlah hasil keringatnya, melainkan uang pemberian ayah biologis janin di dalam rahimnya untuk proses persalinan kelak. Namun, Nursita tak lagi peduli. Yang paling penting, itu bisa membantu Bahiya memenuhi segala kebutuhan serta membayar utang pada para tetangga. Nursita pun kini tak mesti harus menjelaskan pada sang ibu dari mana ia mendapatkan uang tadi. Sebab, sudah berbulan-bulan pula Bahiya tidak bisa menanyakan hal tersebut setelah Nursita sengaja memutus jalur komunikasi. Yang terus perempuan muda itu pikirkan sekarang hanyalah agar mamanya tak hidup susah payah di masa senja, tidak lagi banting tulang sebagai buruh cuci, atau sekadar menjual penganan tradisional. Nursita harap, mamanya itu cukup berdiam diri di rumah, sambil menikmati hasil kerja kerasnya yang tak jarang berlinang peluh dan air mata di ibukota. Sungguh, Nursita hanya ingin Bahiya bahagia. Itu saja!