Nursita tak menyangka kehidupan akan mempermainkan ia dengan sedemikian kejam. Berawal dari dirinya yang mulai jengkel lantaran kelakuan pengunjung yang kurang ajar— meremas pantat dan mencolek payudara—lalu ditambah lagi rutinitas yang melelahkan dari permulaan malam hingga menjelang pagi hari, membuat Nursita sama sekali tak nyaman bekerja di rumah karaoke. Ia frustrasi. Hingga di suatu malam, ketika seorang pelanggan memintanya untuk menemani minum, ia menurut. Waktu itu, Nursita hanya penasaran tentang ucapan rekan kerjanya tempo hari, bahwa sedikit alkohol mampu membuat rasa penat sirna. Benar saja, meski awalnya agak aneh, lama-lama Nursita terbiasa dengan rasa asing itu. Ia kemudian bisa menyadari alasan kenapa orang-orang bermasalah memilih datang ke sana—atau yang sekadar ingin menghibur diri—menjadikan alkohol sebagai solusi. Meski agak pusing setelah menegak alkohol tadi, namun Nursita merasa tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Ada sensasi yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Menjadi pengalaman asing sekaligus candu bagi perempuan polos itu.
Andai Bahiya tahu kalau ia telah menenggak minuman memabukkan tadi, meski hanya beberapa tetes, beliau pasti akan luar biasa sedih. Namun, apa boleh buat, semua terpaksa Nursita lakukan demi menghilangkan beban yang mengganjal di kepala, pun lelah yang kerap menyergap sekujur tubuh. Setidaknya ia tidak sampai benar-benar mabuk dan kehilangan akal. Dan kali pertama gadis itu minum, begitu sampai di rumah, seharian ia tertidur nyenyak. Padahal malam tadi, ia hanya menegak satu seloki bir lantaran keisengan semata. Dan begitu bangun menjelang Asar, baru kali itu pula ia merasakan tubuhnya begitu ringan. Maka, di malam-malam selanjutnya, Nursita tak lagi hanya sekadar menuangkan minuman ke dalam seloki, tapi juga mulai terbiasa menemani minum para pelanggan yang minta ditemani. Cukup satu sampai dua seloki dalam satu malam. Tindakan yang semula Nursita lakukan atas dasar keisengan sekaligus usaha untuk mengalihkan ia dari rutinitas yang menjenuhkan, nyatanya membuat Nursita seolah ketagihan.
Rata-rata pelanggan yang Nursita layani di lantai paling atas area bar rumah karaoke tempatnya bekerja tadi adalah para lelaki muda yang tengah patah hati, lelaki beristri yang sedang mencari hiburan lantaran masalah dalam rumah tangga mereka, dan pelanggan dengan perkaranya masing-masing. Kata mereka, hanya dengan didengarkan keluhan saat setengah sadar itulah, mereka merasa beban hidup akan terasa sedikit berkurang. Meski mereka nyatanya bercerita pada orang asing sekalipun. Sebab, menurut pengakuan mereka pada Nursita, tidak semua lelaki mudah menceritakan masalahnya untuk curhat pada siapa pun.
Lelaki hanyalah manusia yang merasa sok kuat, namun menyimpan rapuh ketika hati terluka berat dan beban semesta seolah mengimpit. Begitu yang kemudian Nursita simpulkan dari para pelanggannya. Harus ada yang memancing agar mereka bisa mengeluarkan segala unek-unek di hati dan kepala, ialah berseloki-seloki alkohol tadi. Dan dari mulut para pelanggannya, Nursita jadi bisa banyak belajar mengenai permasalah hidup. Dan yang paling penting, orang-orang tadi tak akan segan memberi Nursita tip dengan nominal yang lumayan jumlahnya.
Seiring masa bergerak melintasi waktu, lama-kelamaan, gadis itu mulai melupakan petuah sang mama, pun jauh dari Tuhan. Ia sering oleng sendiri setelah menemani para pelanggan yang berhasil mengisi pundi-pundi rupiah melalui tip yang mereka berikan pada Nursita. Barangkali karena itulah, juga ditambah kebodohan, di penghujung jam bar yang hampir tutup, Nursita terlalu banyak minum ketika melayani seorang lelaki yang datang bersama para rekan kerjanya untuk merayakan keberhasilan proyek dari kantor mereka.
Ketika pagi menjelang, begitu terbangun dengan kepala yang masih pening, Nursita menemukan tubuhnya tergeletak di atas sofa room VVIP tanpa sehelai benang. Tentu itu menjadi pukulan telak tersendiri bagi perempuan itu. Kecerobohannya berbuah petaka. Ia lantas menangis sejadi-jadinya. Persis orang gila. Bagaimana tidak, kehormatan yang selama ini selalu ia jaga baik-baik, hilang hanya dalam satu malam. Lebih parahnya lagi, bahkan di tangan lelaki asing yang baru dijumpainya beberapa jam di depan meja bar dan mengaku telah beristri. Namun, apa daya, semua telah terjadi dan waktu tak akan pernah bisa diputar ke belakang.