Sudah sepuluh tahun berlalu sejak kali pertama Nursita meninggalkan tanah kelahirannya di Jailolo. Tak banyak yang berubah dari Nursita sejak tahun pertama perempuan beranak satu itu datang dan menginjakkan kaki di tanah ibukota. Semenjak Arini—putri Nursita—selesai disapih, dari uang pemberian ayah biologis Arini yang lumayan jumlahnya, Nursita bisa membuka usaha coffee shop kecil-kecilan untuk mengisi pundi-pundi rupiah, mengirimi Bahiya uang bulanan, serta menghidupi putrinya yang kini telah duduk di bangku kelas 3 SD.
Ya, hingga detik ini, Arini tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Sebaliknya, Nursita pun tak pernah mengungkitkan hal tersebut. Karena memang sejak terakhir Nursita bergumul dengan si pelanggan karaoke itu sepuluh tahun lalu dalam keadaan mabuk, mereka diam-diam telah membuat kesepakatan. Kesepakatan yang hanya mereka berdua sajalah yang tahu. Biar bagaimanapun, hadirnya Arini di kehidupan perempuan itu adalah campur tangan lelaki tadi atas izin Tuhan. Setelah nyaris mati dalam proses persalinan panjang, dan begitu Nursita menatap mata jernih bayi perempuan yang kemudian diserahkan sang perawat ke dalam pelukan Nursita, ibu muda itu seketika tergugu. Makhluk mungil yang dulu hendak ia hilangkan nyawanya tersebut lantaran marah pada keadaan, nyatanya tampak lucu dan amat menggemaskan. Kalau mengingat rencana jahatnya dulu, hati Nursita kembali sakit dan berdarah. Beruntung, bisikan setan itu tak jadi ia tempuh setelah Nursita mampu berlapang dada dan menerima keadaan. Hingga Arini lahir dalam kondisi normal serta tanpa kekurangan suatu apa pun. Hanya kondisi jalan rahim Nursita yang masih terlalu sempit saja yang membuat mereka berdua nyaris mati dalam proses persalinan tadi.
Kala itu, Nursita masih tak percaya kalau ia telah berhasil menjadi seorang ibu. Meski lahir dari sebuah petaka, Arini nyatanya adalah pelipur lara dan anugerah terindah di hidup perempuan sebatang kara tadi. Ia bahkan memberikan semua yang terbaik untuk putri kesayangannya tersebut: gizi untuk pertumbuhan, pun pendidikannya. Nursita akan rela melakukan apa saja yang terbaik seperti yang dulu pernah Bahiya lakukan padanya. Selama ini, Nursita acap mendapat bantuan pundi-pundi rupiah dari ayah biologis Arini, termasuk membayar pengasuh untuk merawat Arini ketika ia bekerja mengurus coffee shop.
Kini Arini sudah genap berusia sembilan tahun. Dan di usianya itu, tiba-tiba saja bocah perempuan tersebut malah meminta sosok seorang adik. Tentu saja Nursita tersenyum kecut ketika mendengar permintaan polos sang putri. Bocah seusia Arini tampaknya belum terlalu memahami bagaimana proses untuk mendapatkan seorang bayi. Setiap kali Arini menyampaikan hal tersebut, selalu saja Nursita mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Selain itu, Arini pun jarang sekali bertanya dan mencari tahu tentang sosok sang ayah. Hingga pernah suatu ketika, entah dari mana pikiran itu berasal, tiba-tiba bocah berusia sembilan tahun tadi bertanya tentang siapa nama ayahnya dan di mana lelaki itu berada. Nursita yang kelabakan dan belum mempersiapkan jawaban, langsung melontarkan sebuah pernyataan konyol: ayah Arini bernama Naufal yang sedang bekerja di Malaysia.
Anakku, tumbuhlah torang jadi perempuan cerdas yang tra gampang menyerah pada dunia seperti ngana pe nenek. Bukan seperti kita, mama kalian yang seorang pembohong dan tra lebih dari perempuan pendosa, batin Nursita kala itu.
Dan kini, putrinya itu telah tumbuh menjadi gadis mungil yang ramah dan pintar. Meski Arini masih duduk di kelas 3 sekolah dasar, namun ia selalu berhasil menjadi juara di kelasnya. Hampir di setiap semester, ketika mengambil rapor, Nursita akan mendengar pujian untuk sang putri dari wali kelas Arini. Katanya, anak semata wayangnya tersebut terlihat paling aktif dan menonjol jika dibandingkan teman-teman sebaya. Mendengar itu, orangtua mana yang tak bahagia. Nursita merasa menjadi sosok ibu yang paling beruntung di dunia di usianya yang kini beranjak dua puluh sembilan tahun, setelah mengalami perjalanan hidup yang sebegitu berat.