Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #15

Bab 14

Adham pulang dengan wajah tak bersemangat. Siang tadi, sang atasan lagi-lagi memanggil pemuda tersebut untuk menghadap ke ruangannya. Adham tahu akan ada hal tidak menyenangkan yang akan kembali ia dengar dari mulut ‘Bos Besar’.

“Kamu tahu apa kesalahanmu kemarin, Dham?”

Benar dugaan pemuda itu, pemanggilan dirinya kali ini pasti ada hubungannya dengan izinnya ia kemarin. Namun, demi ingin memastikan sendiri apa dugaannya tadi benar, Adham segera menggelengkan kepala.

“Sudah berapa kali kamu mangkir kerja bulan ini? Apalagi belakangan kinerjamu semakin buruk. Sepertinya sudah tidak ada yang bisa saya harapkan dari kamu, Dham. Sekarang …,”

Adham menarik napas dalam. Ia semakin yakin akan ada hal besar yang sebentar lagi bertandang ke sepasang telinganya. Di kepala pemuda tersebut, Adham sudah menerka-nerka dari mana ia akan mengemasi barang-barangnya.

“Ini surat pemecatanmu,” lanjut atasan Adham sekaligus menjadikan apa yang ada di pikiran pemuda itu kian nyata. Setelah dua kali mendapat surat peringatan lantaran dirinya yang sering mangkir dan pulang tak sesuai jadwal, Adham akhirnya harus puas diberhentikan dari perusahaan yang setahun ini telah pemuda itu naungi. Menjadi perusahaan kesekian yang berani memutuskan hubungan kerja di beberapa tahun belakangan. Adham tentu tak bisa memaparkan alasan mengapa ia sering mangkir dan pulang tak tepat waktu. Sebab itu adalah alasan personal yang ia rasa tak perlu diumbar. Yang perlu pemuda itu akui sekarang adalah kenyataan bahwa dirinya baru saja dipecat lantaran tindakan indisipliner.

Lihat selengkapnya