Benar perkiraan Adham, Gunawan terkena serangan jantung. Di atas kasur rumah sakit di hadapannya sekarang, tubuh Gunawan tergolek lemah. Bibir lelaki berkumis tipis itu tampak sekali pucat. Sedang sepasang matanya tampak sayu. Sesaat lalu, Adham dan ibunya baru saja menemui dokter. Di sana, dokter menjelaskan segala duduk perkara mengapa Gunawan bisa tak sadarkan diri Subuh tadi. Dan hasil pemeriksaan, lelaki paruh baya itu mengalami gejala serangan jantung. Tentu saja kenyataan tersebut menjadi satu pukulan telak untuk ibu dan anak tadi. Padahal selama ini, Gunawan sama sekali tak memiliki riwayat sakit jantung.
“Dham, mulai sekarang, kamu harus siap-siap kalau Bapak tiba-tiba harus dipanggil Tuhan.” Gunawan yang sedari tadi melemparkan arah pandangannya ke luar jendela kamar rawat inap yang terbuka, tiba-tiba melontarkan kalimat yang berhasil membuat hati Adham tersayat sembilu. Perih, pun menyesakkan. Sebab, tak pernah tebersit sedikit pun di pikiran pemuda itu kalau bapaknya akan segera pergi. Memang, setelah dokter menjelaskan semuanya pada Adham, pemuda itu tahu kalau serangan jantung yang lebih dahsyat lagi, bisa sewaktu-waktu menyerang Gunawan. Kalau itu terjadi, dokter atau siapa pun, tak bisa memastikan apakah lelaki paruh baya tadi akan kembali selamat. Karena sejatinya umur seseorang, hanya Tuhanlah yang tahu. Tapi, untuk sekarang, Adham merasa belum sanggup kehilangan sosok sang ayah.
Adham kembali ingat, kalau pagi tadi, selepas salat Subuh, ia hendak menyampaikan statusnya sebagai pengangguran pada Gunawan dan Amira. Namun, setelah semua ini terjadi, maka tak mungkin pula pemuda dua puluh tiga tahun itu menyampaikan hal tadi. Tentu fakta tersebut akan membebani pikiran sang bapak. Padahal kata dokter, selain Gunawan tak boleh terlalu lelah beraktivtas, lelaki tersebut pun tak boleh terlalu banyak pikiran. Jadi, tak mungkin Adham berani menyampaikan kondisinya yang menjadi seorang pengangguran. Apalagi jika kedua orangtuanya tahu alasan mengapa dirinya bisa dipecat dari perusahaan. Bukan karena Adham seorang pemalas yang sengaja sering mangkir. Namun, karena selama ini ia tak bisa membiarkan sang ibu kepayahan di rumah sendirian ketika Gunawan pergi bekerja.
Kemarin, alasan yang membuat Adham lagi-lagi pergi meninggalkan kantor di jam kerja adalah karena tiba-tiba Amira menelepon dan mengatakan kalau selang gas di rumah mereka bocor dan beraroma tajam menyengat. Tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Adham memutuskan pulang dan memperbaiki kebocoran tadi. Akibatnya, untuk kali kesekian Adham menghilang dari kantor. Melengkapi kemangkirannya yang lain: merawat Amira ketika perempuan itu demam, memperbaiki listrik yang korslet, atau mereparasi keran air yang bocor. Sungguh, Adham tak pernah tega membiarkan ibunya seorang diri di rumah. Namun, apa daya, ia dan Gunawan harus tetap bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga kecil mereka. Dan kini, ketika lelaki yang amat mencintai anak istrinya itu jatuh sakit, Adham tak tahu harus bagaimana menggantikan tugas sang bapak sebagai tulang punggung keluarga ketika ia sendiri sekarang berstatus sebagai pengangguran.
“Ada satu permintaan Bapak sebelum mati,” lanjut Gunawan lagi, kali ini sambil menatap penuh harap ke arah putranya. “Sebelum mati, Bapak mau lihat kamu menikah, Dham.”
Sontak permintaan bapaknya justru membuat Adham kini dilingkupi perasaan cemas yang lain. Bukan lagi perkara bagaimana jika ia tidak bisa memenuhi permintaan sang bapak untuk menikah, melainkan lantaran ia tak tahu bagaimana caranya mengenalkan Nursita ke keluarganya. Benar kata Nursita tempo hari, karena cinta, pemuda itu bisa mengabaikan segala masa lalu perempuan pujaan hatinya itu. Namun, apa mungkin bapak ibu Adham akan demikian menyikapi ketika tahu bahwa perempuan tambatan hati putra mereka adalah seorang perempuan enam tahun lebih tua dari Adham, pun perempuan yang telah memiliki anak dari sebuah hubungan terlarang.