Awal Adham mengenal Nursita, perempuan yang selama ini berhasil mencuri hatinya adalah ketika mereka sama-sama terjebak di halte bus dua tahun lalu. Kala itu, langit tengah meluruhkan bulir-bulir hujan dari ketinggian awan. Adham yang tengah menanti bus yang akan membawanya pulang, secara tak sengaja bertemu dengan Nursita kemudian membersamainya di beberapa menit setelahnya.
Di dingin udara yang menusuk kulit, Adham lantas mengamati sosok Nursita yang sedang menggigil kedinginan. Dengan pakaian yang tak terlalu tebal, tanpa bermaksud apa- apa, Adham malah melepaskan jaket yang ia kenakan dan menyerahkannya pada Nursita. Ia tahu perempuan itu pasti benar-benar dikepung gigil. Terbukti dari cara perempuan itu memeluk bahunya sendiri. Dan setelah pertemuan pertama mereka kala itu, maka terjadilah pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dari sana, Adham tahu kalau Nursita adalah perempuan mandiri yang juga seorang pengelola sebuah usaha coffee shop kecil-kecilan.
Awalnya, Nursita cuma menganggap kalau Adham hanyalah pemuda iseng yang sedang mencoba menggodanya. Namun, dugaan perempuan itu meleset. Nyatanya sejak pertemuan pertama mereka kala itu, hingga kini perkenalan mereka telah menginjak tahun kedua, Adham malah selalu bersikap hangat dan demikian dewasa dibandingkan usia yang sebenarnya. Dari rasa nyaman itulah, mau tak mau Nursita kemudian menjadikan Adham sebagai sosok teman cerita. Sebab, Adham adalah seorang pendengar yang baik. Ia acap sukarela mendengar segala keluh kesah yang terlontar dari bibir Nursita. Sebaliknya, bagi Adham, Nursita adalah sosok keibuan. Persis seperti Amira, ibunya. Dari sana, rasa di dada mereka sama-sama tumbuh. Namun, sekali lagi, banyak hal yang membuat keduanya susah untuk berani saling mengungkapkan.
Hingga dalam suatu kesempatan, tanpa Nursita duga sama sekali, Adham malah terang- terangan menyatakan perasaan pada dirinya. Meski memiliki rasa yang sama, namun tentu saja Nursita mencoba menyangkal perasaannya sendiri. Lantaran perempuan itu masih waras dan menganggap kalau Adham adalah sosok lelaki yang terlalu baik yang sama sekali tak layak bersanding dengan perempuan kotor seperti dirinya. Dengan berbagai alasan, Nursita terus-terusan merangkai alasan demi tak menyakiti hati pemuda dua puluh tiga tahun tadi.
“Kitorang tra pantas berhubungan, Dham. Kita bukan perempuan baik-baik untuk ngana. Ngana pemuda baik dan masih lajang. Akan banyak perempuan di luar sana yang lebih cocok deng ngana ketimbang kita. Apa nanti kata orang-orang? Apalagi kita su punya Arini.” Begitu kata Bahiya tempo hari. Sedang Adham hanya terpaku dalam kediaman. Meski tak sepenuhnya paham dengan ucapan perempuan Jailolo tadi, namun dua tahun mengenal Nursita, membuat Adham telah cukup mahir untuk sekadar menarik kesimpulan dari ekspresi Nursita yang tak sesuai dengan ekspektasi.