Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #18

Bab 17

Pada sebuah meja kosong di kafe langganan, Adham kembali mengamati layar ponselnya yang berpendar. Sepuluh menit lalu, pemuda itu telah mengirimkan sebuah pesan chat untuk Nursita dan mengatakan kalau ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada perempuan itu. Memang, meski Nursita memiliki sebuah usaha coffee shop, namun untuk tempat pertemuan—baik makan siang atau dinner—keduanya tak pernah sekali pun menghabiskan waktu di tempat usaha milik perempuan Jailolo tadi. Alasannya sederhana, Nursita tak ingin dua orang karyawannya menggosipkan hubungan mereka. Itu saja. Jadi, memilih tempat asing dan tak ada yang mengenali adalah pilihan yang telah sama-sama Nursita dan Adham sepakati.

Adham mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terdorong. Bunyinya yang sedikit berderit sudah cukup untuk memberi isyarat bahwa akan ada pengunjung lain yang bertandang ke kafe tempat Adham menunggu itu. Benar saja, sosok Nursita yang tengah mengenakan sweater ungu muda pemberiannya, muncul dari balik pintu. Seperti biasanya, Nursita langsung melemparkan senyum hangatnya kepada Adham setiap kali mereka bertatap muka. Adham jadi miris: mengapa perempuan sehangat dan sebaik Nursita, bisa mendapatkan ujian kehidupan dari Sang Pencipta. Sesaat, Adham menyepakati pendapat orang-orang mengenai takdir yang bisa jadi tak adil.

“Ada apa, Dham? Tumben sekali ngajak ketemuan?” tanya Nursita yang baru saja menyandarkan bobot tubuhnya ke empuk bantalan kursi. Di depan kursi kosong yang semula kosong tadi, telah terhidang satu cup ice cream green tea ukuran sedang. Dari kondisinya yang belum meleleh, Nursita yakin Adham baru saja memesannya.

Baru saja perempuan tadi menyuapkan beberapa sendok es krim ke dalam mulut, Adham tiba-tiba mengatakan sesuatu. “Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu,” kata pemuda itu dengan sorot mata serius, membuat Nursita kembali meletakkan sendok es krim ke atas cup.

Selama mengenal Adham, Nursita baru beberapa kali mendapati wajah serius pemuda di hadapannya kini. Dan jika pemuda itu mengatakan ada hal penting yang ingin ia sampaikan—ditambah dengan ekspresi serius tadi—maka hal tersebut pastilah memang sangat penting. Nursita pun tahu kalau Adham selalu bisa menempatkan kapan waktunya untuk bicara serius dan kapan waktunya bercanda penuh kehangatan.

“Apa itu, Dham?” Nursita ikut melemparkan tatapan seriusnya.

“Bapak sakit.” Nursita seketika membekap mulutnya. “Tapi, masalahnya bukan hanya itu,” sambung Adham lagi. “Kata Bapak, sebelum mati, beliau mau melihatku menikah.”

Perempuan yang sedari tadi menatap mata Adham dengan pandangan serius, tiba-tiba lemas. Ia topangkan punggungnya ke sandaran kursi. Setelah sekian lama sengaja menolak ajakan Adham untuk dikenalkan pada orangtua pemuda itu, kini Nursita tak tahu lagi bagaimana caranya merangkai alasan. Sebab, selama ini, semakin mengenal Adham, Nursita merasa belum sanggup jika harus mendapatkan penolakan dari orangtua pemuda tersebut. Padahal ia sendiri yang dulu memberikan kesempatan pada Adham bahwa biarlah waktu yang akan menjawab akhir dari kisah mereka. Nyatanya, ia sendirilah yang kemudian takut patah.

Nursita yang sedari tadi menunduk, kini menghela napas panjang. “Jadi, bagaimana?”

Lihat selengkapnya