Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #19

Bab 18

Gunawan tentu belum bisa melupakan hari nahas sepuluh tahun lalu. Hari yang jika bisa diulang, tak akan pernah Gunawan lakoni. Andai saja kala itu ia bisa menolak ajakan rekan kerjanya untuk merayakan keberhasilan proyek pekerjaan mereka di sebuah rumah karaoke, Gunawan tentu tak akan semenyesal sekarang. Penyesalan yang memang selalu saja datang belakangan. Sebagai satu-satunya lelaki yang sudah menikah kala itu, seharusnya ia bisa menolak ajakan rekan-rekannya dengan alasan tengah ada acara keluarga dengan anak dan istri atau alasan lain yang lebih masuk akal. Namun, olokan dari rekan-rekan lajang Gunawan yang mengatakan kalau dirinya adalah sosok suami takut istri itu—seolah membuatnya tertantang—membuat Gunawan mau tak mau langsung saja setuju untuk turut serta. Dan itu barangkali menjadi satu keputusan paling salah yang pernah Gunawan ambil dalam hidup. Bagaimana tidak, betapa kagetnya lelaki tersebut ketika untuk kali pertama datang ke rumah karaoke yang dimaksud.

Gunawan pikir, rumah karaoke yang mereka tuju hanya menyediakan room-room berisi seperangkat alat karaoke lengkap: mikrofon, speaker, layar monitor, dan selembar daftar menu makanan serta minuman. Namun, dugaan lelaki tersebut nyatanya salah. Di dalam sana, di lantai paling atas, terdapat sebuah bar yang cukup luas dan mampu menampung ratusan pelanggan. Musik keras yang memekakkan, riuh gelak tawa orang-orang, pun berbagai minuman beraroma khas dengan nama yang terdengar aneh di telinga Gunawan tersedia. Minuman beralkohol, begitu yang kemudian lelaki itu pahami. Sungguh, malam itu terbilang menjadi pengalaman pertama sekaligus sangat jauh dari dunia yang selama ini Gunawan jalani.

“Kamu mau pesan apa, Gun?” tanya seorang rekannya. “Air mineral saja.”

“Cemen,” olok rekannya kemudian. “Sesekali coba yang baru, dong!”

Gunawan menyerah. Di tengah-tengah kepungan rekan-rekan kerjanya, lagi-lagi lelaki itu tak mampu berkutik atau mengelak. Entah apa yang kemudian rekannya itu pesankan. Yang Gunawan tahu, tak berselang lama, sebotol minuman berwarna jernih terhidang di depan meja mereka.

“Ayo, coba,” ujar rekan Gunawan lagi.

Selama ini, Gunawan memang bukan tipe orang yang alim. Biarpun demikian, namun untuk masalah clubbing lelaki tersebut masih sangat awam. Termasuk membedakan mana minuman beralkohol dan yang tidak. Hingga demi menjaga gengsi di hadapan rekan- rekannya tadi, Gunawan pun menandaskan minuman di dalam seloki dalam sekali tenggak. Meski rasanya cukup aneh, tapi Gunawan merasa tak ada pengaruh yang diakibatkan oleh minuman tadi. Maka. seloki-seloki berikutnya masuk ke dalam tenggorokan. Sesaat, ia merasa ada sensasi yang menyenangkan. Hingga tanpa sadar, kepalanya mulai agak pusing. Dan dari situlah petaka itu berasal.

Setelah ia dalam keadaan setengah mabuk, rekannya yang lain tiba-tiba meninggalkan Gunawan seorang diri di dalam room awal pesanan mereka bersama seorang gadis pemandu berkulit sawo matang yang tampaknya berasal dari daerah Timor. Kata rekan-rekannya tadi, mereka hendak memesan room sendiri-sendiri sembari minta ditemani gadis pemandu lain agar lebih leluasa.

Setengah jam pertama, Gunawan merasa semuanya biasa-biasa saja. Sedang seloki- seloki minuman terus mendarat di dalam tenggorokan. Ada canggung yang meraja di antara ia dan si perempuan pemandu. Namun, semakin larut malam beranjak, semakin intens pula keduanya bercengkerama dengan ditemani seloki-seloki minuman. Hingga kegilaan di bawah pengaruh alkohol yang tak Gunawan sadari itu pun hadir. Melihat si gadis pemandu yang sama mabuknya, tebersit pikiran aneh di dalam otak Gunawan: pikiran untuk meniduri perempuan tadi!

Subuh datang menyapa. Gunawan yang lebih dulu terbangun di dalam room, panik bukan main begitu menyadari kalau di sebelahnya masih ada perempuan yang menemaninya minum. Namun, dengan keadaan tanpa busana. Tak berselang lama, Nursita—perempuan tadi—pun terbangun dengan ekspresi yang tak kalah panik. Dengan kesadaran yang baru kembali setengah-setengah, Gunawan meminta maaf pada Nursita. Seperti halnya Nursita yang baru beberapa bulan bekerja di tempat itu, ini menjadi kali pertama Gunawan bertingkah konyol dan kelewat batas. Dengan menyerahkan sejumlah uang dari dalam dompet, Gunawan menyesali apa yang telah ia lakukan. Malam tadi adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidup keduanya.

Lihat selengkapnya