“Kalau bukan karena kita pe kesalahan deng Gunawan, pun kalau kita dengar nasihat mama untuk tra merantau, tentu rasanya tra akan sakit bagini23.”
Nursita yang baru saja tiba di rumah kontrakannya setelah melarikan diri dari pertemuannya dengan ayah biologis Arini, langsung menumpahkan segala kemarahan pada takdir semesta yang seolah tengah mencoba mempermainkan hidupnya sekali lagi. Bagaimana mungkin, di dunia yang tak semestinya hanya selebar daun kelor ini, ia malah harus dipertemukan lagi dengan Gunawan yang tak lain adalah ayah Adham, kekasihnya, yang selama ini ia harapkan mampu menjadi ayah pengganti bagi Arini.
Di dalam kamar yang tak terlalu luas itu, Nursita meluapkan segala yang ada di dalam hati dan kepala. Ia bekap erat mulutnya dengan bantal, lalu menangisi apa-apa yang terjadi di dalam hidup. Meski sedemikian marah dan kacau, namun perempuan tersebut tentu tak ingin Arini yang barangkali tengah berada di dalam kamarnya sendiri itu mendapati sang mama tengah menangis. Dalam diam itulah Nursita melampiaskan segala lara. Perempuan Jailolo tersebut sama sekali tidak menyangka jika takdir akan memberikannya sebuah kejutan paling twist dalam hidup. Bagaimana bisa di antara sekian banyak lelaki yang hadir di kehidupan perempuan itu, justru Adhamlah yang berhasil menarik simpatinya dan kembali membuka hati. Kalau saja pemuda yang ia cintai bukanlah Adham yang merupakan putra dari Gunawan, keadaannya tentu tak akan jadi serumit ini. Nursita seolah dipaksa menelan sendiri nestapanya.
Awalnya, Nursita menganggap kalau ketakutan terbesarnya hari ini adalah penolakan yang barangkali akan terlontar dari mulut ayah dan ibu Adham. Sebab, jauh di dalam lubuk hati Nursita, ia merasa peluangnya untuk mendapatkan restu nyaris mustahil. Memang di zaman sekarang, banyak orangtua yang sudah berpikiran terbuka mengenai anak lelakinya yang dibebaskan menikah dengan perempuan yang lebih berumur. Namun, berbeda halnya dengan status Nursita yang telah memiliki seorang buah hati dan parahnya itu bukan pula dari hasil hubungan sah pernikahan. Tentu orangtua Adham akan menganggap bahwa di masa lalu, Nursita bukanlah perempuan baik-baik. Dan nyatanya memang demikian adanya. Andai ia seorang yang penurut pada petuah sang mama, pun tak berani-beraninya ia menenggak alkohol, tentu takdirnya dulu tak akan sedemikian kacau. Lalu, orangtua mana pula yang rela menyerahkan anak lelakinya untuk didampingi seorang perempuan yang kelakuan tak baik seperti Nursita?
Ah, andai saja sepuluh tahun lalu kita masih mau turuti ucapan mama untuk tetap jaga diri baik-baik, tra kerja di tempat karaoke, sampai berani minum alkohol, mungkin sekarang kita tra akan senestapa ini.
Nursita kembali mencoba mengenang masa lalu. Sepuluh tahun lalu, Nursita adalah perempuan polos dari Jailolo yang tengah mengadu nasib ke Jakarta demi mengubah perekonomian keluarga. Dengan uang pinjaman dari para tetangga, perempuan itu nekat berjuang mengubah nasib. Meski nyatanya, ibukota memang tak pernah seramah dugaan Nursita kala itu. Pada ibunya, ia berbohong kalau telah diterima bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi ekspor dan impor barang-barang dengan gaji yang lumayan. Padahal, sebenarnya, perempuan itu malah bekerja di sebuah rumah karaoke dan menuangkan berseloki-seloki minuman ke dalam gelas pelanggan. Barangkali karena kebohongan pada mamanya itulah, Tuhan lantas memberikan ia ujian kehidupan. Setidaknya begitu yang kini berkelindan di dalam kepala Nursita.
“Kalau terjadi sesuatu pada ngana24 di sana kelak, segeralah kabari Mama. Atau kalau perlu, ngana pulang saja ke rumahmu ini, Nak. Mama tahu, ngana tentu mau banggakan kita. Tapi, tra perlu terlalu memaksakan diri. Mama tra masalah kitorang25 hidup sederhana, asal ngana tetap ada di samping kita.”
Harusnya Nursita berani jujur dan berani mengakui kalau dirinya sedari dulu terlunta- lunta di ibukota. Namun, karena keras kepalanya itulah, yang kemudian membuat semua petaka terjadi. Andai ia mendengar pesan yang acap Bahiya sampaikan melalui teleponnya dulu, dan memutuskan pulang dengan tangan hampa, itu malah jauh lebih baik dari keadaannya sekarang. Namun, semua sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Kini, Nursita hanya bisa merutuki kemirisan nasibnya di dalam kamar. Sendirian.