Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #22

Bab 21

Di dalam taksi online yang membawa tubuhnya dan Nursita menuju rumah sakit, pikiran Adham mendadak kalut. Bagaimana tidak, mulut Nursita yang sedari tadi terkunci seolah menegaskan bahwa memang ada rahasia besar yang coba perempuan Jailolo itu sembunyikan darinya. Dan bukan perkara sulit bagi Adham untuk menarik satu simpulan benang merah yang paling mungkin antara Nursita dan sang bapak: kalau Gunawan adalah ayah biologis dari Arini, putri Nursita.

“Jadi bapakku adalah lelaki yang pernah menidurimu dulu, kan, Nur?” Pertanyaan inilah yang kemudian terlontar dari bibir Adham. Tentu ia tak mau berlama-lama menuntut penjelasan. Tak sabar rasanya untuk pemuda itu menanti hingga mereka tiba di rumah sakit untuk mengetahui segala kebenarannya.

“Takdir dan masa lalu seolah terus saja mengincar dan hendak mempermainkanku. Memang, apa yang dulu pernah terjadi antara aku dan bapakmu pun tak luput karena kesalahanku sendiri. Andai dulu aku bisa lebih teguh menjaga diri, tentu semua tak akan jadi serumit sekarang. Aku tak mesti bertemu bapakmu dalam kondisi yang sedemikan menyakitkan, pun tak akan menyembunyikan siapa sosok ayah Arini yang sebenarnya.”

“Lalu, dulu, kenapa kamu tidak menuntut pertanggung jawaban Bapak, Nur? Andai itu kamu lakukan, tentu kita tak akan pernah menjalani hubungan sepelik ini.”

“Bukankah pernah kukatakan padamu, Dham. Bahwa sebagai sesama perempuan, aku tentu tak akan bisa menyakiti perasaan perempuan lain. Aku tak mungkin merusak rumah tangga orangtuamu. Apalagi Gunawan selalu berkata padaku kalau ia tak pernah sedikit pun berniat untuk mengkhianati istri dan anaknya. Bapakmu itu terus-terusan memohon padaku untuk tak menuntut agar ia menikahiku. Sebab dirinya begitu takut kehilangan kalian. Karenanya, aku hanya meminta padanya untuk memenuhi semua kebutuhanku dan Arini, setidaknya sampai Arini selesai kusapih.” Nursita menjeda kalimatnya beberapa detik, sebelum kemudian kembali melanjutkan. “Aku ini juga manusia biasa, Dham, yang masih punya perasaan. Sungguh, merusak kebahagiaan orang lain bukanlah sifatku. Maka, meski bapakmu itu masih hendak bertanggung jawab atas diri Arini, namun seperti pepatah yang selalu kupercayai bahwa sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai, maka baunya akan tercium juga, jadi kuputuskan saja untuk pergi. Aku hanya tak ingin jika suatu saat kelak keluarga kecil kalian tahu akan kekhilafan yang telah kami lakukan di belakang kalian,” terang Nursita panjang lebar.

Tepat saat perempuan itu menyelesaikan ucapannya, taksi online yang mereka tumpangi telah merapat di pelataran rumah sakit. Untuk kali kedua, Nursita berdiri di depan koridor panjang yang akan membawanya menuju sebuah ruangan tempat bapak dirawat inap Adham. Kalau kemarin-kemarin Nursita melangkah ragu ke sana, namun tidak kali ini. Dengan langkah tegas dan pasti, perempuan berkulit sawo matang itu pun beranjak menyusuri panjang jajaran lantai keramik di bawah kaki. Ia percaya, bahwa koridor di hadapannya kini sebentar lagi akan membawanya ke sebuah pintu yang kelak bisa menyelesaikan perkara masa lalunya dengan Gunawan. Semoga!

***

Adham meraih gelas berisi jeruk hangat di hadapannya, diikuti Nursita yang juga melakukan hal sama. Bersama, keduanya serentak menyesap minuman yang baru saja mereka pesan di sebuah kantin di dalam rumah sakit tempat Gunawan. Seketika, dada mereka terasa hangat. Bukan hanya lantaran cairan jeruk hangat yang menjalari batang tenggorokan masing-masing, melainkan karena keduanya telah sama-sama memaafkan masa lalu. Nursita yang memaafkan Gunawan, pun Adham yang turut memaafkan pengkhianatan yang dulu pernah dilakukan oleh sang bapak.

Di dalam ruang perawatan tadi, Gunawan pada akhirnya mengakui semua kekhilafan yang ia lakukan sepuluh tahun lalu pada Amira dan Adham. Meski awalnya Amira marah, namun di kondisi yang sedemikian memprihatinkan, tak tega rasanya jika perempuan itu tak memaafkan suaminya. Amira hanya takut jika kelak tiba-tiba Tuhan memanggil nyawa Gunawan, lelaki yang sebetulnya selama ini selalu berhasil menjadi sosok paling mengerti keluarga itu memiliki tunggakan maaf darinya. Amira tidak ingin itu terjadi. Maka, dengan perasaan berbesar hati, ia mencoba menghimpun segala kekuatan dan ketabahan. Berkaca dari Nursita yang mau memaafkan Gunawan, maka begitu pula Amira membersamai. Sebab, menurutnya, seharusnya orang yang paling menderita atas kejadian di masa lalu adalah Nursita. Lantaran perempuan Jailolo itu harus membesarkan Arini seorang diri.

Lihat selengkapnya