Barangkali karma tetaplah karma. Dan ujian kehidupan sepertinya tak pernah melepaskan Nursita begitu saja!
Setelah menyelesaikan segala urusannya di Jakarta, pun menyerahkan urusan bisnis coffee shop kepada Adham—yang dinilai Nursita berhak menerimanya—perempuan berambut gelombang itu seolah harus bisa kembali menerima kenyataan. Sejak dua minggu lalu, Nursita tiba-tiba sering merasakan ada hal ganjil pada dirinya. Beberapa kali perempuan itu jatuh sakit. Ia kira semua terjadi lantaran aktivitasnya yang belakangan terlalu sibuk, ditambah juga karena ia benar-benar telah mempersiapkan kepulangannya ke Jailolo. Lalu, setelah memutuskan untuk memeriksakan kesehatan ke seorang dokter spesialis, perempuan berkulis sawo matang nyatanya divonis harus rela menghadapi fakta bahwa dirinya kini tengah mengidap kanker rahim.
Sekali lagi Nursita tersenyum getir. Namun, kali ini ia sedikit lebih bisa menerimanya dengan perasaan legowo. Namun, parahnya, hasil pemeriksaan dokter tempo hari, menyatakan kalau kanker tersebut sudah sedemikan parah. Mau tak mau, pilihan yang bisa mereka ambil hanya satu: kemoterapi dan rutin mengonsumsi obat-obatan.
Kini, satu beban pikiran Nursita bertambah lagi. Selain lantaran Arini masih sangat belia, perempuan itu juga jadi kepikiran tentang sesuatu: bagaimana jika penyakitnya itu malah membuat dirinya cepat dipanggil Tuhan sebelum dirinya sempat bersimpuh dan meminta maaf di bawah kaki Bahiya, ibunya. Padahal persiapan untuk pulang sudah sedemikian dekat.