Kemarin, Nursita telah menyampaikan niatnya untuk pulang ke Jailolo pada Adham. Bukan tanpa alasan, setelah hubungan mereka membaik, tentu Nursita ingin berpisah baik- baik pula dengan Adham dan keluarganya.
Tahu bahwa waktunya untuk hidup sudah tak akan lama lagi, maka di penghujung usia yang semakin sekarat, yang terpikir di kepala Nursita saat ini hanyalah kembali ke sisi sang mama di kampung halaman sana. Setidaknya, kalau pun kelak ia mati, ia ingin anak-anaknya bisa tinggal dan menemani Bahiya. Sebagai anak yang salehah, Nursita hanya ingin Arini kelak bisa merawat sang mama dengan baik di usia senja. Menggantikan tugasnya yang pernah lalai ia tunaikan di masa lalu. Selain itu, Nursita juga ingin putri semata wayangnya itu bisa dididik oleh Bahiya dengan ilmu dan agama yang kuat, agar Arini tak salah jalan seperti yang ia alami.
Nursita tahu kalau Bahiya kelak akan marah dan kecewa ketika mengetahui apa yang menimpanya di ibukota. Tapi, tak apa. Seperti halnya Amira yang berlapang dada memaafkan Gunawan, Nursita pun mengharapkan sang mama akan tetap bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Bukankah sejak dulu Mama adalah sosok malaikat tak bersayap? Dengan selembut-lembutnya, Nursita berniat akan menceritakan masa lalunya setahap demi setahap, agar hati Bahiya tak sedemikian hancur.
Ah, andai kita bisa putar waktu, tentu kepelikan ini tra akan pernah menimpa. Tapi, bagaimanapun, kita tra akan pernah mengabaikan anugerah terindah dalam hidup ini: putri secantik Arini, penawar luka kita yang sesungguhnya. Hingga mulai sekarang, kita tra akan lagi menyalahkan takdir buruk yang menimpa. Sebab, di balik badai, selalu akan ada pelangi yang siap menanti.
Sungguh, saat ini Nursita hanya ingin Arini bisa tumbuh menjadi perempuan baik-baik, tidak seperti ibunya yang pendosa. Dan harapan itu, hanya bisa terwujud jika bocah sembilan tahun itu ada di sisi sang nenek saja.
***