Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #25

Bab 24

Tinggal beberapa waktu lagi Nursita akan sampai di tempat tujuan. Becak yang ia tumpangi bersama Arini dari pelabuhan Jailolo, masih merambat menyusuri jalanan panjang menuju ke rumah sang mama. Sepuluh tahun nyatanya telah membuat banyak perubahan pada wajah tanah kelahirannya itu. Bangunan permanen, pun rumah pengasapan ikan fufu, mulai riuh memadati sepanjang sisi jalan yang mereka lalui. Padahal, seingat Nursita dulu, saat terakhir kali ia meninggalkan Jailolo, area itu masihlah berupa lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar.

Becak yang mereka tumpangi kembali melewati jembatan yang bergelombang. Itu tandanya jarak rumah Mama sudah semakin dekat. Sejak mendengar keputusan ibunya untuk pulang, Arini terlihat antusias ingin bertemu dengan neneknya. Wajar saja, di usia sembilan tahun, bocah perempuan yang mewarisi jernih mata ibunya itu belum pernah sekali pun bertemu dengan Bahiya. Apalagi, selama itu pula, Nursita tak pernah sekali pun berkirim kabar pada Bahiya meski hanya melalui sambungan suara.

Nursita mengalihkan pandangan pada langit lazuardi yang seolah menyambut kedatangan mereka. Seperti halnya langit di atas sana, tak selamanya ia cerah, terkadang mendung, berawan, dan kelam ketika malam. Maka seperti itulah kehidupan yang telah Nursita lalui selama ini. Mereka berotasi, datang silih perganti, hingga Nursita yakin bahwa setelah kepulangannya kali ini di hadapan sang mama, semarah apa pun beliau nanti, Bahiya tetap akan menerima ia dan sang cucu yang selama ini tak pernah ia ketahui. Kata orang, seorang nenek akan lebih sayang terhadap cucunya ketimbang anaknya sendiri. Maka, Nursita harap hadirnya Arini di hadapan Bahiya, mampu membuat amarah perempuan baya itu tak jadi memeledak. Akan luruh dan mereda. Semoga saja.

Mama, sebentar lagi kita akan pulang dan bersimpuh di kaki ngana ….

***

Becak yang Nursita tumpangi berhenti tepat di depan lorong rumah masa kecilnya. Meski sudah cukup banyak berubah—jalanan lorong yang semula tanah merah, kini telah dicor dengan campuran semen dan kerikil. Melihat perubahan itu saja, air mata Nursita hendak tumpah, apalagi ketka melihat perubahan pada wajah sang mama yang ia yakini telah ditumbuhi banyak kerutan. Walau demikian adanya, Nursita yakin wajah tadi akan tetap tampak meneduhkan, seperti kali terakhir ia meninggalkannya.

Perempuan itu kembali menghirup udara Jailolo yang terasa segar. Udara beraroma kenangan tersebut langsung masuk ke dalam paru-paru, dan lantas menyebar ke seluruh organ, menebarkan kerinduan yang selama ini tak kunjung terbayar. Dengan langkah gemetar, ia buka jejak permulaan untuk terus melangkah menyusuri lorong yang tak terlalu panjang ini. Sebab, rumah Bahiya berada di ujung lorong. Berpasang-pasang mata orang- orang yang tinggal di muka lorong tampak menatap ke arah perempuan itu dengan penasaran. Beberapa di antara mereka, Nursita lupa namanya, bahkan yang lain tampak asing. Meski demikian, Nursita mencoba melempar senyum ramah.

Nursita menduga, barangkali tatapan tadi bukanlah tanpa sebab. Mungkin ada salah satu dari mereka yang mengenalinya namun mulai merasa asing karena memang sudah lama sekali ia tak mereka kembali. Apalagi penampilannya yang sekarang tentu sudah sangat berbeda jauh dari terakhir kali perempuan itu meninggalkan tanah kelahiran. Dengan gamis panjang, pun hijab yang menutup hingga ke bawah dada, ditambah saat ini Nursita tengah menuntun Arini di tangan kiri, tentu akan membuat mereka ragu.

“Nursita?” Terdengar seseorang menyebut nama perempuan itu ketika ia hampir tiba di rumah sang mama. Begitu menoleh, Nursita langsung mengenali kalau itu adalah Jurai, teman masa kecilnya. Raut wajah Jurai sama sekali tak berubah. Rambutnya yang sedikit ikal pun tetap sama.

Ngana benar-benar Nursita, to?” ulangnya lagi, seakan ingin meyakinkan dengan apa yang ia lihat. Di sudut matanya, ada binar kerinduan yang mampu Nursita rasakan.

“Iya, Jurai. Ini kita,” jawab Nursita sambil melengkungkan tersenyum.

Lihat selengkapnya