Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #26

Bab 25

Nursita kira sepuluh tahun akan membuat banyak perubahan di rumah masa kecilnya. Tapi, ternyata tidak. Selain cat yang tampak telah beberapa kali diperbarui, bunga-bunga di pekarangan, juga pohon mangga yang semakin menjulang, tidak ada yang berubah dari rumah kenangan Nursita itu. Tidak ada perabotan yang terlihat baru, pun penempatan barang- barang yang masih tetap sama seperti ketika terakhir kali perempuan tadi meninggalkan rumah. Nursita bahkan seakan masih bisa mencium aroma tubuh Bahiya, juga aroma kenangan sepuluh tahun lalu. Hingga tanpa terasa air mata perempuan yang semakin tampak lemah dirongrong penyakit itu menetes karenanya.

“Ma, ayo kita salat Magrib,” ajak Arini, putri yang sejak usia belia sudah menunjukkan kedekatannya dengan Tuhan. Terkadang Nursita malu sendiri ketika justru bocah sembilan tahun itulah yang kerap mengingatkan ia untuk bersimpuh di hadapan Tuhan. Padahal, selama ini, Nursita tak pernah mengajarkannya demikian. Hingga di satu titik, Nursita mulai menyadari dosa-dosa yang pernah ia lakukan di masa lalu, membuatnya ditegur Tuhan. Dan penyakit yang saat ini masih menjalar di tubuhnya, barangkali adalah cara Tuhan agar ia bisa lebih sering berduaan dengan Sang Pencipta melalui ibadah-ibadah yang perempuan itu lakoni.

Dulu, pertama kali Nursita tahu kalau ada penyakit ganas yang tengah menyerangnya, ia sempat berpikir agar sebaiknya Tuhan segera mencabut nyawanya saja setelah begitu banyak ujian yang datang silih berganti. Bagaimana tidak, saat itu Nursita hanya berpikir tentang kematian dengan perasaan kalut dan putus asa. Nursita terus berpikir kenapa di dunia yang sebegitu luas, malah ia yang mendapatkan nestapa tadi. Padahal, rasanya derita seolah telah menjadi makanan sehari-hari. Apa belum puas Tuhan mempermainkanku? pikir Nursita kala itu.

Namun, ketika mendapati wajah Arini yang begitu menyayangimya sebagai ibu ketika tidur di samping Nursita, hati perempuan itu pun seketika luluh. Ia tentu tak bisa meninggalkan putrinya dalam keadaan hancur. Meski belum bisa menjadi ibu yang sempurna, setidaknya ia harus bisa menjadi ibu yang lebih baik untuk Arini. Saat itulah, kenangan tentang Bahiya semakin berkelindan di kepala Nursita.

Bakda Nursita menunaikan salat Magrib, Jurai kemudian datang ke rumah sang sahabat lama dengan membawa sebakul nasi lengkap dengan sepiring ayam bakar rampa. Sudah lama sekali Nursita tidak menikmati menu masakan khas Jailolo itu. Jurai tahu kalau sejak kedatangannya tadi, Nursita tentu belum sempat masak banyak. Barangkali hanya memanfaatkan sisa bahan makanan yang tertinggal di dapur sang mama.

Lihat selengkapnya