Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #27

Bab 26

Bahiya dihadapkan pada sebuah pilihan berat. Kini, satu-satunya cara untuk menemukan keberadaan Nursita telah menemui jalan buntu. Rupanya internet tak cukup membantu ia untuk menemukan anak kesayangannya. Lantas, kini perempuan renta itu dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dan memilih menjalani kemoterapi di Jailolo sambil berharap Nursita pulang atau menyusul anak perempuannya itu ke Jakarta tanpa tahu di mana alamatnya. Dan pilihan Bahiya jatuh pada pilihan yang kedua: pergi ke Jakarta. Jika sampai minggu depan Nursita tidak juga pulang, maka Bahiya telah membulatkan tekad akan langsung membeli tiket ke ibukota. Lebih baik nekat mencari keberadaan Nursita di sana, ketimbang menunggu anaknya tersebut pulang. Setidaknya begitu yang Bahiya pikirkan. Pun keduanya bagi Bahiya sama-sama kecil kemungkinan dan peluangnya. Sebab, sepuluh tahun sudah lebih dari cukup untuk menunggu Nursita kembali.

Bukan tanpa sebab Bahiya memilih menyusul Nursita ke Jakarta. Ia tahu kalau tak selamanya solusi penyembuhan melalui jalur kemoterapi akan membuahkan hasil. Buktinya, Bu RT yang terserang kanker payudara tahun lalu, meninggal setelah menjalani proses kemoterapi ketiga. Begitu pun dengan anak pemilik toko sembako langganannya. Putranya meninggal juga setelah menjalani kemoterapi, pun karena terserang kanker. Padahal, mereka sudah menghabiskan dana yang sangat besar. Terakhir, Bahiya mendengar kalau Pak RT sampai harus menggadaikan surat tanahnya untuk melunasi utang bank yang pernah ia pinjam demi pengobatan sang istri yang telah tiada. Dan Bahiya tentu tak ingin hal buruk itu terjadi. Di usia yang barangkali tak lagi panjang, ia hanya ingin menikmati siksa waktunya bersama Nursita. Kalau perlu, ia ingin sekali melihat putrinya itu menikah dan hidup bahagia, sebelum ujung napas terlepas dari raga. Itu pun kalau Nursita belum menikah diam-diam di ibukota. Bahiya memang sangat menantikan kehadiran sosok cucu di usianya yang renta. Baginya, kehadiran cucu mungkin bisa menjadi pelipur lara. Cucunya kelak, tentu merupakan gambaran kecil sang ibu. Dengan begitu, Bahiya harap ia akan bisa mengulang masa-masa lucunya Nursita dulu di masa lalu. Jadi, tak ada salahnya kalau ia pun menginginkan bisa memeluk dan menggendong sang cucu sebelum ia mati.

Bahiya ingin seperti teman-teman seusianya, yang bisa membanggakan para menantu. Bukan perkara harta, ia hanya ingin berterima kasih pada lelaki yang bisa membuat Nursita bahagia. Sebab, kepada lelaki tersebut, dirinya akan menyerahkan tongkat estafet untuk membersamai Nursita di masa tua. Bahiya tak ingin Nursita bernasib sepertinya, yang hidup tanpa kehadiran sosok suami. Kalau pun dulu ia bisa melalui semua perkara hidup, belum tentu dengan Nursita.

Membayangkan Nursita diam-diam telah menikah dan memilih tinggal bersama suaminya di ibukota, membuat dada Bahiya sesak. Tapi, tak apalah. Toh, Bahiya sudah terbiasa ditinggalkan sang putri selama sepuluh tahun lalu. Yang terpenting, dengan siapa pun ia menikah, Bahiya masih diperbolehkan untuk menemuinya sampai kapan pun. Sungguh, jauh dari anak sendiri bukanlah hal yang mudah bagi Bahiya. Itu pula yang semakin mendorong ia untuk menyusul Nursita minggu depan ke Jakarta.

***

Jakarta nyatanya tak selebar daun kelor. Bahiya tak tahu lagi harus melangkah ke arah mana. Ia ibarat tengah dijatuhkan di daerah asing tanpa peta. Tujuan perempuan baya itu hanyalah tempat kerja yang dulu pernah Nursita katakan: perusahaan ekspedisi. Tapi, seperti kata operator warnet tempo hari pada Bahiya, perusahaan ekspedisi yang melayani barang ekspor impor tak terhitung jumlahnya di Jakarta. Bahkan setelah tiba di Jakarta, dari informasi yang Bahiya peroleh dari petugas penginapan tempat ia menginap saat ini, ia baru tahu kalau kawasan Tanjung Priok merupakan salah satu kawasan industri yang lumayan padat. Jadi, Bahiya yakini kalau pencariannya pun akan terasa berat.

“Ibu benar-benar tidak tahu alamat pastinya anak ibu?” tanya si penjaga penginapan.

Bahiya hanya menggeleng. “Aku hanya tahu kalau dia bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi Jakarta.”

Lihat selengkapnya