Sudah sepekan Bahiya mengitari ibukota bersama Jaka. Masih ada banyak sekali alamat perusahaan yang belum mereka datangi. Dan hari ini, karena Bahiya tiba-tiba merasa tidak enak badan, ia katakan pada Jaka kalau pencarian terpaksa mereka terpaksa harus dihentikan untuk sementara waktu. Namun, jawaban Jaka malah membuat Bahiya agak terkejut.
“Nggak apa-apa, Bu. Kalau Ibu sakit, Ibu istirahat aja. Biar saya sendirian yang bantu cari anak Ibu. Nanti sore, saya kabarin Ibu tentang bagaimana hasilnya.”
Di saat seperti ini, Bahiya malah merasa Jaka yang tak lebih dari pemuda asing, terasa seperti anak sendiri. Ia rela melakukan banyak hal demi orang tua yang sama sekali tak ia kenal seperti dirinya. Semoga saja, ketika dulu Nursita merantau ke Jakarta, ada orang-orang baik seperti Jaka yang mengelilinginya.
Malam tadi, Bahiya merasakan dadanya nyeri. Untung saja sebelum pergi ke Jakarta, ia sempat membawa beberapa butir sisa obat yang diberikan dokter. Meski hanya berupa pil pereda nyeri, namun itu sudah cukup membantu. Di detik itu pula, Bahiya semakin merasa kalau umurnya tak akan bertahan lama. Ia tahu di dalam tubuhnya, pelan-pelan kanker yang bersemayam di paru-paru, diam-diam mulai menjalar ke anggota tubuh yang lain.
Di kondisi tubuh yang kian sekarat, Bahiya rasa tak lagi memiliki banyak masa untuk menemukan keberadaan Nursita. Apalagi seringkali ketika dirinya menarik napas dalam- dalam, perempuan nestapa itu merasa tak banyak oksigen yang mampu terserap. Sungguh, saat ini Bahiya belum sepenuhnya siap mati. Terlebih mati di kampung orang lain dan belum jua menemukan jejak keberadaan Nursita.
Tuhan, izinkan kita tetap kuat dan mampu bertahan lebih lama. Kita tra ingin kalah melawan penyakit yang terus merongrong paru-paru ini, pinta Bahiya pada Tuhan. Meski sejatinya ia tak akan pernah tahu seberapa lama lagi dirinya akan bisa bergulat dengan waktu.
***
Sekali lagi, manusia hanya bisa berharap, dan Tuhanlah yang akan selalu menjadi penentunya. Tepat ketika Bahiya mencoba keluar kamar penginapan untuk mencari udara segar lantaran merasa kalau udara di dalam begitu pengap dan menyesakkan, tiba-tiba perempuan yang matanya semakin tampak cekung itu jatuh tak sadarkan diri. Beruntung, saat itu penjaga penginapan yang sedang berdiri di lobi, segera melihat dan melarikannya ke rumah sakit.
Dan setelah entah berapa lama Bahiya kehilangan kesadaran, perempuan tersebut akhirnya bangun juga. Di atas tempat pembaringan, ia merasa tubuhku sedemikian lemah. Sebatang jarum infus tertanam di nadi punggung tangan Bahiya. Sedang alat bantu pernapasan pun terpasang di bagian hidung.
Ah, pastilah saat ini kita su benar-benar sekarat, batin Bahiya begitu indra penciumannya berhasil mengendus aroma ruangan berbau obat-obatan.
“Bu Bahiya sudah sadar?” tanya sesosok pemuda yang duduk di sisi tempat tidur Bahiya. Bahiya kenal betul wajah itu, wajah tulus pemuda yang selama beberapa hari kemarin membantunya menemukan keberadaan Nursita: Jaka.
“Nak, Jaka kenapa bisa ada di sini?” Itu kalimat yang pertama meluncur dari bibir Bahiya.