Selumbari

Alfian N. Budiarto
Chapter #29

Bab 28

Satu minggu sudah Nursita tinggal di tanah kelahirannya. Namun, belum ada tanda- tanda kalau perempuan yang amat ia sayangi itu akan kembali. Sungguh, penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan pengandai-andaian pun terus berputar-putar di kepala Nursita.

Seandainya kita tra pergi ke Jakarta ….

Seandainya kita bisa pulang lebih awal ….

Seandainya ….

Dan segala pengandaian itu kini sia-sia. Semua telah terjadi. Nasi telah menjadi bubur.

“Ma, kapan Nenek datang? Arin pengin ketemu Nenek,” gumam Arini ketika Nursita sering kali terlihat melamun di ambang pintu.

“Sabar, ya, Rin. Nenek pasti pulang.” Hanya itu yang selalu ia ucapkan sebagai penghiburan. Sebab, diam-diam, di sela doa-doa panjangnya, Nursita selalu berdoa pada Tuhan agar senantiasa melindungi sang mama di mana pun beliau berada.

Nursita tidak tahu apakah doa seorang perempuan pendosa dan telah tega meninggalkan orangtua sepertinya akan dikabulkan Tuhan atau tidak. Tapi, Nursita berusaha yakin jika Tuhan itu Maha Pengampun. Dia pasti akan menerima tobat orang-orang yang bersungguh- sungguh untuk kembali ke jalan-Nya. Sebab, perkara amal ibadah, hanya Dia yang Maha Mengetahui. Dan sebagai hamba, Nursita hanya bisa berusaha sebaik-baiknya.

Kalau Nursita pikir-pikir, kondisinya yang sekarat saat ini patutlah ditangisi. Tubuh yang semakin kurus—membuat seluruh pakaiannya perlahan terasa lebih longgar, juga nyawa ikut berada di ujung tanduk, lebih dari sebuah penderitaan. Namun, di sisi lain, jika saja penyakit tersebut tak pernah merongrong tubuhnya, saat ini, Nursita tentu masih berada di keramaian ibukota sana dan masih menunda kepulangannya untuk meminta maaf pada Bahiya.

Lihat selengkapnya